Kisah pilu menimpa MH (12), seorang siswa sekolah dasar di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Pada Selasa, 11 November lalu, ia menjadi korban pemukulan dan perampasan ponsel oleh dua pria tak dikenal. Peristiwa nahas ini terjadi di Jalan H Abu, Kelurahan Cipete Selatan, menyisakan trauma mendalam bagi bocah tersebut dan memicu penyelidikan serius dari pihak kepolisian.
Awal Mula Petaka: Dari Sekolah Menuju Arena Bermain
Siang itu, MH baru saja pulang dari sekolahnya. Seperti anak-anak seusianya, ia memiliki rencana sederhana untuk menghabiskan waktu luang. Setelah tiba di rumah, MH mengambil ponselnya, sebuah benda yang kini tak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sarana hiburan dan belajar bagi banyak anak.
Dengan ponsel di tangan, MH kemudian beranjak menuju area sekitar Komplek Carinah Sayang. Di sana, ia berharap bisa bertemu teman-temannya atau sekadar bermain gim, menikmati sisa hari setelah belajar. Namun, takdir berkata lain, sore itu menjadi awal dari pengalaman mengerikan yang tak pernah ia bayangkan.
Pertemuan Tak Terduga dengan Orang Asing
Saat sedang asyik dengan dunianya, MH tiba-tiba didatangi oleh dua orang laki-laki dewasa yang sama sekali tidak dikenalnya. Mereka mengendarai sepeda motor matic berwarna hijau, mendekati MH dengan gerak-gerik mencurigakan. Suasana yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi mencekam.
Kedua pria itu langsung meminta ponsel yang sedang dipegang MH. Dalam kondisi terkejut dan mungkin sedikit takut, MH pun menyerahkan ponselnya tanpa perlawanan. Ia tak menyangka, tindakan penyerahan ponsel itu hanyalah awal dari serangkaian kejadian yang lebih menakutkan.
Modus Kejahatan: Diajak Berkeliling Sebelum Dibuang
Setelah berhasil mendapatkan ponsel MH, kedua pelaku tidak langsung pergi. Mereka justru mengajak MH untuk ikut naik sepeda motor mereka. Dalam kepanikan dan kebingungan, MH menuruti perintah para pelaku, berharap kejadian ini segera berakhir.
Bocah malang itu pun diajak berkeliling tanpa tujuan jelas. Perjalanan singkat itu terasa sangat panjang dan penuh ketidakpastian bagi MH, yang terus bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya. Hingga akhirnya, sepeda motor itu berhenti di sebuah lokasi sepi di kawasan Cipete Selatan.
Momen Mencekam: Pemukulan dan Ancaman
Di tempat sepi itulah, MH diturunkan dari sepeda motor. Salah satu pelaku, tanpa belas kasihan, melayangkan pukulan ke pipi kiri bocah tersebut. Rasa sakit dan takut bercampur aduk, membuat MH terdiam.
Tak cukup sampai di situ, pelaku juga melontarkan ancaman keras agar MH tidak berteriak atau mencari pertolongan. Setelah memastikan MH tidak akan melawan, kedua pria itu langsung tancap gas, meninggalkan MH sendirian di pinggir jalan yang asing dan sepi.
Perjuangan Mencari Pertolongan di Tengah Kepanikan
Dengan pipi yang terasa nyeri dan hati yang dipenuhi ketakutan, MH berusaha mengumpulkan sisa keberaniannya. Ia berjalan gontai, mencoba mencari pertolongan di tengah lingkungan yang asing baginya. Setiap langkahnya dipenuhi harapan sekaligus kekhawatiran.
Beruntung, tak jauh dari lokasi kejadian, MH bertemu dengan seorang marbot masjid. Melihat kondisi MH yang tampak ketakutan dan terluka, marbot tersebut segera menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Tanpa pikir panjang, ia langsung membawa MH ke rumah Abdul Said, Ketua RW setempat, untuk mendapatkan bantuan lebih lanjut.
Uluran Tangan Komunitas dan Respons Cepat Kepolisian
Abdul Said, Ketua RW yang dikenal sigap, segera menghubungi Aiptu Rofyaningtyas, Bhabinkamtibmas Kelurahan Cipete Selatan. Informasi mengenai kejadian yang menimpa MH pun dengan cepat sampai ke telinga aparat kepolisian. Respons cepat dari Bhabinkamtibmas menunjukkan kepedulian dan kesigapan pihak berwenang dalam menangani kasus yang melibatkan anak-anak.
Aiptu Rofyaningtyas segera datang ke lokasi dan membawa MH ke Polsek Cilandak untuk diamankan sementara. Di sana, MH mendapatkan perlindungan dan rasa aman yang sangat ia butuhkan setelah mengalami peristiwa traumatis. Pihak kepolisian juga segera menghubungi orang tua MH untuk memberitahukan kondisi anaknya.
Reuni Haru di Polsek Cilandak
Pada hari yang sama, Selasa, 11 November, sekitar pukul 18.30 WIB, orang tua MH tiba di Polsek Cilandak. Rasa cemas yang membayangi mereka sepanjang sore akhirnya sedikit mereda saat melihat MH dalam keadaan selamat, meskipun masih tampak syok. Pertemuan kembali antara MH dan orang tuanya berlangsung haru, penuh kelegaan dan pelukan erat.
Kapolsek Cilandak Kompol Febriman Sarlase mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima laporan mengenai kasus ini dan sedang melakukan penyelidikan mendalam. "Kami menerima laporan mengenai penemuan anak laki-laki yang dipukuli dan dicuri ponselnya," ujarnya. Polisi kini fokus memburu kedua pelaku yang tega melakukan tindakan keji terhadap seorang anak di bawah umur.
Pentingnya Kewaspadaan dan Dukungan Komunitas
Kasus yang menimpa MH ini menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya kewaspadaan, terutama bagi anak-anak. Orang tua dan pihak sekolah perlu terus memberikan edukasi mengenai bahaya orang asing dan cara melindungi diri. Kejahatan bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, sehingga kesadaran akan lingkungan sekitar menjadi kunci.
Dukungan dari komunitas, seperti yang ditunjukkan oleh marbot masjid dan Ketua RW, juga sangat krusial dalam membantu korban dan mengungkap kasus kejahatan. Solidaritas sosial dapat menjadi benteng pertahanan yang kuat terhadap tindak kriminalitas. Polisi berharap, dengan bantuan informasi dari masyarakat, kedua pelaku dapat segera ditangkap dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Investigasi Berlanjut, Keadilan untuk MH
Saat ini, Polsek Cilandak terus mengumpulkan bukti dan keterangan dari saksi-saksi untuk mengidentifikasi serta menangkap kedua pelaku. Rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian juga menjadi salah satu fokus penyelidikan. Pihak kepolisian berkomitmen untuk menuntaskan kasus ini demi memberikan keadilan bagi MH dan memastikan keamanan anak-anak di wilayah Cilandak.
Semoga MH dapat segera pulih dari trauma yang dialaminya, dan para pelaku segera tertangkap. Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk lebih peduli dan menjaga lingkungan sekitar, terutama anak-anak yang rentan menjadi korban kejahatan.


















