Sebuah insiden memilukan menimpa seorang pelajar SMA berinisial S, yang menjadi korban eksibisionisme di jembatan penyeberangan orang (JPO) Jatinegara, Jakarta Timur, pada Minggu sore (21/9). Kejadian ini tidak hanya meninggalkan trauma mendalam bagi S, tetapi juga menyoroti kurangnya empati dan responsibilitas dari petugas publik yang seharusnya memberikan perlindungan.
Kronologi Kejadian yang Mencekam
Minggu sore itu seharusnya menjadi akhir pekan yang biasa bagi S, yang baru saja pulang dari kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya di kawasan Pondok Kopi, Duren Sawit. Seperti biasa, ia memilih jalur JPO Jatinegara untuk kembali ke rumahnya di Tanjung Priok, Jakarta Utara, akses yang setiap hari ia gunakan. Namun, hari itu berbeda.
Saat melintasi JPO, S sudah merasakan kejanggalan. Dari kejauhan, ia melihat seorang pria yang ia kira sedang buang air kecil, sebuah pemandangan yang sayangnya tidak asing di area tersebut. S mencoba mengabaikannya dan melanjutkan langkahnya menaiki tangga JPO.
Namun, tak disangka, pria tersebut justru melakukan tindakan eksibisionisme secara terang-terangan. Setelah sempat membetulkan ritsleting celananya, pelaku malah mengeluarkan alat kelaminnya sambil tersenyum-senyum ke arah S. Momen itu seketika mengubah perjalanan pulang S menjadi mimpi buruk.
Dengan keberanian yang luar biasa, S memutuskan untuk merekam aksi bejat itu sebagai bukti. Melihat S merekam, pelaku akhirnya buru-buru merapikan pakaiannya. S bahkan sempat berlari kecil ke arah pintu masuk bus Transjakarta dan memarahi pria tersebut atas tindakan pelecehan seksual yang baru saja ia alami.
Reaksi Petugas yang Bikin Geram dan Kecewa
Namun, momen paling mengejutkan dan menyakitkan datang dari reaksi petugas Transjakarta yang berada di lokasi. S berharap mendapatkan bantuan atau setidaknya simpati, tetapi yang ia dapatkan justru sebaliknya. Petugas wanita itu, yang sedang asyik bermain ponsel, malah senyum-senyum dan menertawakan S yang baru saja menjadi korban pelecehan.
Dalam kondisi JPO yang sepi dari penumpang, S merasa sendirian dan tak terlindungi. Hanya ada satu penumpang lain di ujung JPO yang posisinya jauh. Pelaku eksibisionis itu sempat memaki-maki S dan menunjuk-nunjuk sebelum akhirnya melarikan diri, meninggalkan S dalam keadaan syok dan terluka.
Dampak Psikologis Mendalam pada Korban
Insiden ini meninggalkan luka mendalam bagi S. Ayah S, Abdul Rasyid, menceritakan bagaimana putrinya menangis histeris saat dijemput di Halte Tanjung Priok, tak mampu berkata-kata karena syok. Setelah tenang, barulah S bisa menceritakan pelecehan yang ia alami.
Trauma yang dialami S begitu parah hingga ia menolak untuk kembali ke sekolah. "Masih trauma," ucap Abdul Rasyid, menggambarkan kondisi putrinya. Kekecewaan Abdul Rasyid terhadap petugas Transjakarta juga sangat besar, merasa anaknya diabaikan dan bahkan ditertawakan di saat ia membutuhkan bantuan.
Pentingnya Keamanan di Ruang Publik dan Tanggung Jawab Bersama
Kasus S bukan sekadar insiden tunggal, melainkan cerminan dari masalah keamanan di ruang publik yang masih sering terabaikan. JPO dan fasilitas umum lainnya seharusnya menjadi tempat yang aman bagi semua orang, terutama bagi perempuan dan anak-anak. Pelecehan seksual di ruang publik adalah masalah serius yang memerlukan perhatian khusus dari berbagai pihak.
Pemerintah, penyedia layanan publik, dan masyarakat memiliki tanggung jawab besar untuk menciptakan lingkungan yang aman dan responsif terhadap korban. Insiden ini juga menyoroti pentingnya pelatihan bagi petugas di fasilitas umum agar mereka tahu bagaimana merespons situasi darurat dan memberikan dukungan yang tepat kepada korban.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Menjadi Korban Pelecehan Seksual di Ruang Publik?
Jika Anda atau orang terdekat mengalami kejadian serupa, penting untuk tidak diam dan mengambil langkah-langkah yang tepat.
1. Jangan Diam dan Cari Bantuan
Penting untuk tidak memendam kejadian ini sendirian. Segera ceritakan kepada orang yang Anda percaya, seperti keluarga, teman, atau guru. Mencari bantuan adalah langkah pertama menuju pemulihan.
2. Kumpulkan Bukti
Jika memungkinkan dan aman, rekam atau ambil foto pelaku serta situasi di lokasi kejadian. Bukti ini akan sangat membantu dalam proses pelaporan dan penyelidikan.
3. Laporkan ke Pihak Berwenang
Segera laporkan kejadian ini ke polisi atau pihak keamanan terdekat. Berikan semua detail yang Anda ingat, termasuk ciri-ciri pelaku dan kronologi kejadian.
4. Cari Dukungan Psikologis
Pelecehan seksual bisa meninggalkan trauma mendalam. Jangan ragu untuk mencari bantuan dari psikolog atau konselor untuk memproses emosi dan mengatasi trauma yang mungkin timbul.
5. Edukasi Diri dan Lingkungan
Pahami hak-hak Anda dan sebarkan kesadaran tentang pentingnya melawan pelecehan seksual. Semakin banyak orang yang peduli dan tahu cara merespons, semakin aman ruang publik kita.
Menciptakan Ruang Aman Adalah Tanggung Jawab Kita Bersama
Insiden yang menimpa S adalah pengingat keras bagi kita semua bahwa keamanan di ruang publik adalah hak, bukan kemewahan. Penyedia layanan publik harus melatih staf mereka untuk lebih responsif dan empatik, bukan malah menertawakan korban. Pemasangan CCTV yang berfungsi dan penerangan yang memadai di JPO juga sangat krusial.
Masyarakat juga perlu lebih peka terhadap lingkungan sekitar dan berani bertindak jika melihat tindak kejahatan. Mari bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari pelecehan, di mana setiap individu, terutama pelajar seperti S, bisa beraktivitas tanpa rasa takut. S berhak mendapatkan keadilan dan pemulihan dari trauma yang dialaminya, dan kita semua memiliki peran untuk mewujudkannya.


















