Kisah tragis menimpa seorang mahasiswi berinisial IM (23) di Ciracas, Jakarta Timur. Ia ditemukan tak bernyawa di indekosnya, diduga kuat akibat penganiayaan yang dilakukan oleh kekasihnya sendiri, FF (16). Motif di balik insiden memilukan ini akhirnya terungkap, berakar dari api cemburu yang membakar.
Peristiwa mengerikan ini tidak hanya menggemparkan warga sekitar, tetapi juga menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial. Polisi dengan sigap melakukan penyelidikan mendalam untuk mengungkap tabir di balik kematian tragis IM.
Awal Mula Cekcok Berdarah di Indekos
Menurut keterangan Kapolsek Ciracas Kompol Rohmad Supriyanto, insiden berdarah ini bermula pada Kamis (11/9) malam, sekitar pukul 23.45 WIB. FF, sang kekasih, mendatangi indekos IM di Jalan H Yusin, Gang Muchtar, Ciracas. Kedatangannya bukan untuk bermanja-manja, melainkan membawa bara api cemburu.
Di sana, cekcok sengit tak terhindarkan. FF rupanya terbakar api cemburu setelah mengetahui IM sempat jalan dengan pria lain. Perdebatan memanas itu menjadi awal dari rentetan kejadian yang tak terduga, mengubah malam menjadi petaka.
Detik-detik Mencekam: Teriakan yang Berujung Tragis
Suasana indekos mendadak mencekam. IM yang merasa terancam, berusaha mencari pertolongan dengan berteriak memanggil temannya, Yasmin, yang berada di dekat lokasi. Teriakan minta tolong itu memecah kesunyian malam, namun sayangnya, justru memperburuk situasi.
Teriakan tersebut membuat FF panik dan gelap mata. Dalam kepanikan yang melanda, ia langsung mencekik IM hingga korban tak berdaya dan lemas. Nyawa sang mahasiswi muda perlahan direnggut oleh tangan kekasihnya sendiri.
Yasmin, yang mendengar keributan, sempat menyuruh IM untuk keluar. Namun, saat FF keluar, Yasmin langsung menutup pintu dari luar, tak menyadari tragedi memilukan yang baru saja terjadi di dalam kamar indekos tersebut. Ia mengira hanya cekcok biasa yang akan mereda.
Skenario Licik untuk Menutupi Kejahatan
Keesokan paginya, Jumat (12/9) sekitar pukul 11.00 WIB, FF kembali ke indekos IM. Bukan untuk meminta maaf atau memastikan kondisi kekasihnya, melainkan untuk melihat hasil perbuatannya. Ia mendapati IM sudah tak bergerak, tak bernyawa.
Dalam upaya licik menutupi jejak kejahatannya, FF memindahkan posisi kepala korban dan menyelimutinya. Tujuannya jelas: agar IM terlihat seolah-olah sedang tertidur pulas, menyamarkan tanda-tanda kekerasan yang telah ia lakukan.
Setelah itu, FF kembali ke rumahnya, meninggalkan pintu indekos korban sedikit terbuka. Ia berharap skenario palsu ini bisa mengelabui siapa pun yang melihat, menunda terungkapnya kejahatan keji yang telah ia perbuat.
Penangkapan Pelaku dan Pengakuan Mengejutkan
Namun, kejahatan tak bisa disembunyikan selamanya. Polisi bergerak cepat dan berhasil menangkap FF pada Sabtu (13/9) dini hari, sekitar pukul 00.15 WIB. Ia diamankan di rumah tinggalnya di kawasan Makasar, Jakarta Timur, tak lama setelah kejadian.
Saat diinterogasi petugas, FF tak bisa lagi mengelak. Remaja 16 tahun itu akhirnya mengakui perbuatannya yang telah menganiaya IM hingga tewas. Pengakuan mengejutkan ini mengakhiri spekulasi dan mengarahkan penyelidikan pada titik terang.
FF kemudian langsung dibawa ke Polsek Ciracas untuk pemeriksaan lebih lanjut. Proses hukum pun segera bergulir, menuntut pertanggungjawaban atas tindakan brutal yang telah ia lakukan.
Sosok Korban dan Pelaku: Kasus Anak Berhadapan Hukum
IM, korban dalam kasus ini, adalah seorang mahasiswi berusia 23 tahun. Ia berasal dari Manggarai, Nusa Tenggara Timur, jauh dari kampung halaman untuk menuntut ilmu. Impian dan masa depannya harus terenggut secara tragis di tangan orang terdekat.
Sementara itu, pelaku FF yang masih berusia 16 tahun, kini berstatus sebagai anak berhadapan dengan hukum (ABH). Kasusnya ditangani serius oleh Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Jakarta Timur, mengingat usianya yang masih di bawah umur.
Proses hukum FF juga didampingi oleh orang tuanya, sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku untuk anak di bawah umur. Ini menunjukkan komitmen aparat dalam menangani kasus ini secara adil dan sesuai prosedur.
Viral di Media Sosial dan Penyelidikan Lanjutan
Kisah tragis penemuan mayat IM di indekos lantai dua Jalan H Yusin, Ciracas, sempat viral di media sosial. Akun @info.jakartatimur menjadi salah satu yang mengunggah kejadian tersebut, menarik perhatian publik dan memicu simpati luas.
Dalam unggahan yang beredar, terlihat petugas Polres Metro Jakarta Timur bersama warga sekitar tengah mengevakuasi jenazah korban menggunakan kantong oranye. Pemandangan pilu ini semakin menguatkan duka atas kepergian IM.
Hingga kini, polisi masih terus melakukan pemeriksaan intensif terhadap FF untuk mendalami motif dan kronologi lengkap kejadian. Jenazah IM sendiri telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk autopsi, guna memastikan penyebab pasti kematiannya dan melengkapi berkas perkara.
Kasus ini menjadi pengingat pahit akan bahaya cemburu buta yang bisa berujung pada tindakan keji. Semoga keadilan segera ditegakkan untuk IM dan keluarganya, serta menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.


















