Panggung OVO Arena Wembley di London pada Rabu (17/9) lalu menjadi saksi bisu sebuah peristiwa bersejarah. Bukan sekadar konser biasa, namun sebuah deklarasi solidaritas global yang menggema, bertajuk "Together for Palestine". Acara amal ini berhasil menyatukan puluhan seniman dari berbagai penjuru dunia, mengirimkan pesan kuat kepada mereka yang memilih bungkam.
Ketika Hati Nurani Bicara: Inisiatif Brian Eno
Gagasan besar di balik konser amal ini datang dari musisi senior Inggris yang visioner, Brian Eno. Ia tak hanya seorang seniman, namun juga aktivis yang memiliki kepedulian mendalam terhadap isu kemanusiaan. Eno berhasil menggerakkan hati puluhan seniman lainnya, membentuk sebuah kekuatan kolektif yang sulit diabaikan.
Inisiatifnya ini bukan hanya sekadar mengumpulkan dana, melainkan juga menyalakan obor harapan dan kesadaran. Ia ingin menunjukkan bahwa seni memiliki kekuatan untuk menyatukan, menginspirasi, dan menuntut keadilan. Dari ide sederhana, lahirlah sebuah gerakan masif yang menarik perhatian dunia.
Panggung Penuh Bintang: Siapa Saja yang Mengguncang Wembley?
Sebanyak 69 figur publik, mulai dari musisi, aktor, aktivis, hingga seniman lainnya, memadati OVO Arena Wembley. Mereka datang bukan untuk mencari popularitas, melainkan untuk berdiri bersama dalam solidaritas. Beberapa di antaranya bahkan naik ke atas panggung, tidak hanya untuk tampil, tetapi juga untuk menyuarakan hati nurani mereka.
Kehadiran mereka menciptakan atmosfer yang luar biasa, penuh haru dan semangat perlawanan. Setiap sorot lampu panggung seolah menjadi penanda bahwa isu Palestina tidak akan pernah dilupakan. Ini adalah bukti nyata bahwa seni dan kemanusiaan bisa berjalan beriringan.
Pesan Pembuka yang Menusuk Hati: Riz Ahmed dan Guz Khan
Malam itu dibuka dengan kata-kata yang begitu kuat dan menggugah dari Riz Ahmed. "Senang sekali bisa berada di sini bersama kalian semua serta hadir dalam momen bersejarah ini. Selamat datang di Together for Palestine," ujarnya, menyambut ribuan penonton dengan hangat. Namun, pesan yang lebih dalam segera menyusul.
Guz Khan kemudian menambahkan, "Kita di sini malam ini untuk menunjukkan kepada rakyat Palestina bahwa meski para pemimpin dan pemerintah dunia terus mengecewakan mereka, kita tidak akan mengecewakan mereka." Pernyataan ini menjadi tamparan keras bagi para pemimpin dunia yang kerap abai terhadap penderitaan di Gaza. Kata-kata mereka bukan hanya sekadar pembukaan, melainkan sebuah manifesto.
Melodi Solidaritas: Penampilan Musisi Dunia
Panggung OVO Arena Wembley kemudian diisi oleh deretan musisi papan atas yang tampil dengan penuh semangat. Nama-nama besar seperti Bastille, James Blake, Saint Levant, dan Paloma Faith, menunjukkan dukungan mereka melalui alunan musik yang memukau. Setiap nada yang mereka mainkan seolah menjadi doa dan harapan.
Tak ketinggalan, Gorillaz dan PinkPantheress juga turut meramaikan panggung, menyerukan dukungan terhadap warga Palestina. Penampilan mereka bukan hanya sekadar hiburan, melainkan sebuah pernyataan politik dan kemanusiaan. Musik menjadi bahasa universal yang menjembatani perbedaan, menyatukan hati dalam satu tujuan.
Lebih dari Sekadar Hiburan: Orasi Para Aktor Hollywood
Konser ini membuktikan bahwa panggung bisa menjadi mimbar yang kuat untuk menyuarakan kebenaran. Selain musisi, bintang layar lebar Hollywood juga turut ambil bagian dalam orasi yang menggugah. Benedict Cumberbatch, Guy Pearce, Florence Pugh, Nicola Coughlan, hingga Ramy Youssef, semuanya hadir dengan pesan masing-masing.
Benedict Cumberbatch, dengan suaranya yang khas, memilih untuk membaca puisi karya penyair Palestina legendaris, Mahmoud Darwish. Pembacaan puisi ini bukan hanya sekadar seni, melainkan sebuah penghormatan terhadap budaya dan identitas Palestina yang terus berjuang. Kata-kata Darwish yang penuh makna seolah hidup kembali di panggung Wembley.
Tamparan Keras untuk yang Memilih Diam: Florence Pugh dan Nicola Coughlan
Bagian paling menohok dari acara ini datang dari Florence Pugh dan Nicola Coughlan. Mereka tidak segan-segan menyinggung orang-orang, terutama sesama artis, yang memilih diam di tengah penderitaan warga Palestina. Ini adalah kritik pedas terhadap sikap netralitas yang seringkali disalahartikan.
"Berdiam diri di tengah penderitaan seperti itu bukanlah sikap netral. Itu artinya terlibat," tegas Florence Pugh, kata-katanya menusuk hingga ke relung hati. Ia melanjutkan, "Dan empati harusnya tidak sesulit ini, seharusnya tidak pernah sesulit ini." Sebuah pernyataan yang mengguncang kesadaran banyak pihak.
Nicola Coughlan menambahkan, "Ada banyak sekali seniman yang saya cintai, dan saya tahu kalian juga cintai, yang memiliki ratusan juta pengikut, dan mereka bungkam." Sindiran ini ditujukan langsung kepada para mega-influencer yang memiliki platform besar namun memilih untuk tidak menggunakan suara mereka untuk keadilan. Mereka berdua menunjukkan bahwa suara selebriti memiliki kekuatan, dan memilih untuk tidak menggunakannya adalah sebuah pilihan yang patut dipertanyakan.
Tujuan Mulia di Balik Gemuruh: Jutaan Dolar untuk Kemanusiaan
Di balik gemuruh musik dan orasi yang membakar semangat, ada tujuan yang sangat mulia. Konser "Together for Palestine" diadakan dengan misi utama mengumpulkan jutaan dolar. Dana ini akan disalurkan kepada organisasi Palestina yang berada di garda depan krisis kemanusiaan di Gaza.
Beberapa organisasi yang menjadi penerima manfaat dari konser amal ini adalah Palestine Children’s Relief Fund (PCRF), Palestinian Medical Relief Society, dan Taawon. Organisasi-organisasi ini bekerja tanpa lelah untuk menyediakan bantuan medis, makanan, dan kebutuhan dasar lainnya bagi warga Gaza yang sangat membutuhkan. Setiap dolar yang terkumpul akan menjadi harapan bagi mereka yang kehilangan segalanya.
Realitas Pilu Gaza: Mengapa Suara Ini Begitu Penting?
Konser ini bukan hanya sekadar bentuk dukungan moral, melainkan sebuah respons mendesak terhadap krisis kemanusiaan yang mengerikan di Gaza. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza, yang diberitakan Al Jazeera pada Rabu (17/9) waktu setempat, mengungkapkan fakta yang memilukan. Korban tewas di Gaza telah menembus lebih dari 65.000 jiwa.
Sejak serangan Israel mengganas pada 7 Oktober 2023, sedikitnya 65.062 orang tewas dan 165.697 orang terluka. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan nyawa manusia, keluarga yang hancur, dan masa depan yang direnggut. Kondisi ini menjadi alasan kuat mengapa para seniman dunia merasa terpanggil untuk tidak tinggal diam.
Dampak dan Harapan: Mengukir Sejarah di Wembley
"Together for Palestine" bukan hanya sebuah konser, melainkan sebuah pernyataan global. Ini adalah bukti bahwa seni memiliki kekuatan untuk menggerakkan hati, menyatukan suara, dan menuntut keadilan. Pesan yang disampaikan dari panggung Wembley akan terus bergema, menembus batas geografis dan politik.
Semoga acara ini tidak hanya berhasil mengumpulkan dana, tetapi juga menyalakan api kesadaran di seluruh dunia. Harapannya, lebih banyak lagi individu dan pemimpin yang tergerak untuk bertindak, mengakhiri penderitaan yang tak berkesudahan di Palestina. Wembley telah mengukir sejarah, menjadi panggung bagi harapan dan solidaritas yang tak tergoyahkan.


















