Film horor Jepang terbaru, Dollhouse, akhirnya resmi tayang di bioskop Indonesia, siap menghantui malam-malammu. Siapkan mentalmu, karena kisah satu keluarga yang berubah drastis setelah menemukan boneka mirip anak mereka yang meninggal ini, dijamin bikin bulu kuduk merinding. Ini bukan sekadar film boneka biasa, tapi sebuah perjalanan psikologis yang akan menguji batas kewarasan.
Dibintangi oleh Masami Nagasawa, aktris yang dikenal lewat perannya di Gintama dan The Confidence Man JP: Episode of the Hero, serta Koji Seto dari Daughter of Lupin, film ini menjanjikan akting memukau yang akan membuatmu ikut merasakan ketakutan mereka. Mereka berdua akan membawakan karakter utama yang terjebak dalam lingkaran teror tak berujung.
Mengapa Dollhouse Wajib Masuk Daftar Tontonmu?
Dollhouse bukan hanya sekadar tontonan horor biasa, tapi sebuah eksplorasi mendalam tentang duka, kehilangan, dan bagaimana benda mati bisa menjadi jembatan menuju kegelapan. Film ini mengajak kita merenungkan sejauh mana seseorang bisa berpegangan pada masa lalu yang menyakitkan. Jika kamu penggemar horor psikologis dengan sentuhan J-Horror klasik, film ini wajib masuk watchlist-mu.
Jepang memang jagonya menciptakan horor yang tidak hanya mengandalkan jumpscare, tapi juga meresap ke dalam pikiran dan meninggalkan jejak ketakutan yang lama. Dollhouse tampaknya akan mengikuti jejak tersebut, dengan alur cerita yang perlahan membangun ketegangan hingga mencapai puncaknya. Siap-siap untuk tidak bisa tidur nyenyak setelah menontonnya.
Dari Duka Mendalam Menuju Harapan Palsu: Awal Mula Teror Boneka
Kisah ini berpusat pada Yoshie (Masami Nagasawa) dan Tadahiko (Koji Seto), pasangan suami istri yang awalnya hidup dalam kebahagiaan sempurna. Rumah tangga mereka semakin lengkap dengan kehadiran putri kecil mereka, Mei, yang tumbuh ceria hingga berusia lima tahun. Namun, takdir berkata lain, kebahagiaan itu hancur berkeping-keping saat Mei meninggal dunia.
Kehilangan satu-satunya anak membuat Yoshie terpuruk dalam kesedihan yang tak terhingga, seolah seluruh energinya terkuras habis. Ia kehilangan semangat hidup, dan hari-harinya diselimuti awan duka yang pekat. Tadahiko pun ikut merasakan kepedihan yang sama, namun ia harus tetap kuat demi sang istri.
Suatu hari, di tengah keputusasaan, Yoshie menemukan sebuah boneka di pasar barang antik yang sangat mirip dengan Mei. Tanpa pikir panjang, ia langsung membeli boneka itu, seolah menemukan secercah harapan di tengah kegelapan. Boneka itu menjadi pelipur lara baginya, perlahan membantunya pulih dari kesedihan mendalam yang selama ini membelenggu.
Ketika Boneka Bukan Lagi Sekadar Mainan Biasa
Awalnya, Tadahiko merasa terkejut dan tidak nyaman dengan obsesi Yoshie terhadap boneka tersebut. Boneka itu dibawa ke mana-mana, diperlakukan layaknya anak kandung mereka, bahkan ditempatkan di tempat tidur Mei. Tadahiko khawatir jika Yoshie terlalu larut dalam fantasi yang bisa memperburuk kondisinya.
Namun, seiring berjalannya waktu, Tadahiko melihat perubahan positif pada Yoshie. Istrinya mulai kembali ceria, meskipun itu karena boneka. Melihat kondisi Yoshie yang membaik, Tadahiko pun perlahan melunak dan ikut memperlakukan boneka itu seperti anak mereka sendiri, berharap ini bisa menjadi terapi bagi kesedihan mereka.
Mereka berdua mulai membangun kembali kehidupan mereka, meskipun bayangan Mei masih menghantui. Boneka itu menjadi simbol pengingat sekaligus pengobat rindu akan putri mereka yang telah tiada. Tapi, apakah boneka itu benar-benar hanya sebuah boneka, atau ada sesuatu yang lebih gelap di baliknya?
Kehadiran Anak Kedua dan Ancaman yang Semakin Nyata
Waktu berlalu, dan kebahagiaan kembali menyapa Yoshie dan Tadahiko dengan kehadiran anak kedua mereka, seorang gadis cantik yang diberi nama Mai. Fokus mereka kini sepenuhnya tertuju pada Mai, merawatnya dengan penuh kasih sayang. Boneka yang dulunya menjadi pusat perhatian, kini mulai terlupakan dan kehilangan minat mereka.
Boneka itu kini hanya teronggok di sudut rumah, seolah menunggu waktu untuk kembali menarik perhatian. Hingga pada suatu malam, kejadian aneh pertama mulai terjadi. Yoshie mendapati rambut boneka itu melilit leher Mai yang masih bayi, sebuah pemandangan yang sangat mengerikan. Panik, ia segera menyingkirkan boneka itu dan menyimpannya di belakang lemari, berharap tak akan melihatnya lagi.
Petunjuk Mengerikan dari Gambar Sang Anak
Beberapa tahun kemudian, Mai tumbuh menjadi anak yang ceria. Ketika berusia lima tahun, ia menemukan boneka itu di belakang lemari. Dengan polosnya, Mai menamai boneka itu Aya dan mulai bermain dengannya, seolah boneka itu adalah teman barunya. Yoshie dan Tadahiko awalnya tidak terlalu memikirkan hal ini, mengingat anak kecil memang sering memperlakukan boneka seolah hidup.
Namun, guru TK Mai mulai menunjukkan beberapa gambar yang dibuat Mai kepada Yoshie. Gambar-gambar itu cukup mengkhawatirkan untuk anak seusianya. Ada gambar ibu dan anak yang tergantung, serta seorang gadis berkimono yang direbus dalam kuali. Sang guru menanyakan apakah Yoshie mengerti atau mengenali situasi yang digambar Mai, sebuah pertanyaan yang membuat Yoshie merinding.
Gambar-gambar itu bukan sekadar coretan anak kecil, melainkan petunjuk mengerikan yang seolah datang dari dunia lain. Yoshie mulai merasa tidak nyaman, teringat kembali kejadian rambut boneka yang melilit leher Mai. Apakah boneka itu memiliki kekuatan jahat yang memengaruhi putrinya?
Usaha Sia-sia Menyingkirkan Sumber Petaka
Merasa ketakutan dan ingin melindungi Mai, Yoshie memutuskan untuk membuang boneka dan gambar-gambar menyeramkan itu ke tempat pengumpulan sampah. Ia berharap bisa menyingkirkan sumber petaka dari kehidupan keluarganya. Namun, teror itu tak semudah itu dienyahkan.
Secara misterius, petugas kebersihan malah mengembalikan boneka itu ke rumah mereka, seolah boneka itu menolak untuk pergi. Sejak saat itu, kejadian-kejadian aneh dan mengerikan mulai terjadi silih berganti dalam keluarga mereka. Mai terluka di dalam rumah tanpa sebab yang jelas, dan yang paling menakutkan, kondisi mental Yoshie terhadap boneka dan anak perempuannya mulai berubah drastis.
Keluarga ini kini terjebak dalam lingkaran teror yang tak berujung, menghadapi ancaman yang tak terlihat namun sangat nyata. Apakah mereka bisa lolos dari cengkeraman boneka terkutuk ini? Atau akankah mereka menjadi korban berikutnya dari kekuatan gelap yang bersemayam di dalam Dollhouse?
Di Balik Layar Dollhouse: Sutradara dan Para Bintang
Dollhouse digagas, ditulis, dan disutradarai oleh Yaguchi Shinobu, seorang sutradara yang dikenal dengan film-film hiburan sukses seperti Water Boys dan Swing Girls. Ini adalah sebuah kejutan, mengingat Yaguchi Shinobu biasanya menggarap film komedi atau drama. Perpindahannya ke genre horor tentu saja sangat dinantikan dan membuat penasaran para penggemar film.
Selain Masami Nagasawa dan Koji Seto, film ini juga diramaikan oleh bintang-bintang lain yang tak kalah hebat. Ada Ken Yasuda, yang juga pernah bermain di Gintama, serta Tanaka dari Shin Ultraman dan Last Samurai Standing. Tak ketinggalan, Jun Fubuki Tetsushi, aktris senior yang dikenal lewat Call Me Chihiro dan Japan Sinks: People of Hope, juga turut memperkuat jajaran pemain.
Siapkah Kamu Menghadapi Teror Dollhouse?
Dengan kombinasi sutradara berbakat dan jajaran pemain papan atas, Dollhouse menjanjikan sebuah pengalaman horor yang berbeda dan tak terlupakan. Film ini bukan hanya tentang ketakutan, tapi juga tentang bagaimana trauma dan duka bisa membuka pintu bagi kekuatan jahat. Siapkan dirimu untuk menyaksikan bagaimana sebuah boneka bisa menghancurkan kebahagiaan sebuah keluarga.
Jangan lewatkan Dollhouse yang tayang mulai 17 September di bioskop-bioskop Indonesia. Ajak teman atau pasanganmu, karena kamu mungkin tidak ingin menontonnya sendirian. Bersiaplah untuk merasakan teror yang akan menghantuimu jauh setelah film berakhir.


















