Insiden penjarahan rumah selebriti sekaligus anggota dewan, Uya Kuya, saat demonstrasi besar-besaran menolak kebijakan tunjangan DPR akhir Agustus 2025 lalu, masih menyisakan luka mendalam. Sang istri, Astrid Khairunisha atau yang akrab disapa Astrid Kuya, tak kuasa menahan tangisnya saat menceritakan pengalaman pahit tersebut. Ia merasa difitnah dan dizalimi, menegaskan bahwa rumah yang dijarah adalah hasil keringatnya bersama sang suami, bukan dari uang rakyat atau tunjangan dewan.
Tangis Pilu Astrid Kuya di Hadapan Ibu-ibu
Astrid Kuya mencurahkan isi hatinya di hadapan sejumlah ibu-ibu dalam sebuah acara di masjid, Rabu (10/9). Dengan suara bergetar dan air mata yang terus mengalir, ia membantah tudingan yang beredar di media sosial bahwa suaminya, Uya Kuya, meledek dengan ucapan "Rp3 juta sehari". Astrid menegaskan bahwa suaminya tidak pernah mengeluarkan pernyataan seperti itu.
"Tidak ada suami saya berkata begitu, saya benar-benar bu, saya merasakan saya korban fitnah," ungkap Astrid pilu. Ia merasa sangat terzalimi, apalagi insiden penjarahan tersebut menambah beban batinnya. Ia juga dengan tegas membantah bahwa rumahnya dibangun menggunakan dana dari DPR.
"Jujur bu, saya seperti merasa dizalimi, sampai yang terjadi dengan rumah saya. Bu, tidak ada sepeserpun duit dari DPR untuk membangun rumah itu, tidak ada," ujarnya sambil terisak. Pengakuan ini tentu mengejutkan banyak pihak, mengingat statusnya kini sebagai anggota dewan.
Latar Belakang Penjarahan: Demo Tunjangan DPR yang Memanas
Penjarahan rumah Uya Kuya terjadi dalam rangkaian demonstrasi besar yang memprotes kebijakan tunjangan DPR pada pekan terakhir Agustus 2025. Aksi massa yang memanas tersebut berujung pada perusakan dan penjarahan sejumlah properti, termasuk kediaman pribadi para pejabat publik. Insiden ini sontak menjadi sorotan publik dan memicu perdebatan sengit mengenai etika berdemokrasi.
Massa yang kecewa dengan kebijakan pemerintah meluapkan emosinya hingga berujung pada tindakan anarkis. Rumah Uya Kuya di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, menjadi salah satu sasaran utama. Kejadian ini meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga Uya dan Astrid, sekaligus menjadi cerminan betapa rentannya situasi di tengah gejolak sosial.
Perjalanan Karier Uya dan Astrid: Dari Artis ke Anggota Dewan
Uya Kuya dan Astrid Khairunisha telah mengarungi bahtera rumah tangga sejak tahun 2003. Mereka telah menempati rumah di Duren Sawit, Jakarta Timur, jauh sebelum keduanya terjun ke dunia politik dan menjadi anggota dewan. Fakta ini menjadi penting untuk menepis anggapan bahwa rumah tersebut dibangun dengan fasilitas atau dana dari jabatan mereka saat ini.
Pada Pemilu 2024, keduanya berhasil lolos sebagai wakil rakyat dari Partai Amanat Nasional (PAN). Astrid kini menjabat sebagai anggota DPRD Jakarta, sementara Uya Kuya berhasil melenggang ke Senayan sebagai anggota DPR RI. Perjalanan karier mereka dari dunia hiburan ke kancah politik memang kerap menjadi perhatian publik.
Komitmen Uya dan Astrid Terhadap Amanah Rakyat
Astrid dengan tegas menyatakan bahwa rumahnya dibangun dari hasil kerja keras mereka berdua di dunia hiburan. "Sampai saya ketemu sama yang melakukan penjarahan itu, saya bilang ‘kamu tahu rumah itu dibangun dengan keringat saya, dengan keringat suami saya, syuting dari pagi sampai pagi’," kenangnya. Pengakuan ini menunjukkan betapa berharganya setiap sudut rumah bagi mereka.
Lebih lanjut, Astrid juga menekankan komitmennya dalam menjalankan amanah sebagai wakil rakyat. Ia memastikan bahwa setiap bantuan atau program pemerintah yang diturunkan kepada masyarakat diberikan secara utuh, tanpa potongan sepeser pun. "Tidak ada sepeserpun setiap kali kita turun ke masyarakat apa yang diberikan oleh pemerintah itu kita berikan semua kepada masyarakat, tidak ada dipotong sepeserpun karena saya tahu itu amanah," tegasnya.
Astrid selalu mengingatkan timnya untuk menjaga integritas dan memberikan hak masyarakat sepenuhnya. "Itu saya sangat amanah, saya selalu bilang sama tim saya, apa yang menjadi hak mereka harus diberikan. Mereka mendapat sekian, berikan apa yang mereka dapatkan," katanya, yang kemudian ditenangkan oleh Uya Kuya yang setia mendampinginya.
Kucing-kucing Hilang dan Keikhlasan Uya Kuya
Selain kerugian materi, insiden penjarahan ini juga menyebabkan hilangnya sejumlah kucing peliharaan Uya Kuya yang sangat dicintainya. Uya Kuya sebelumnya mengaku ikhlas atas kejadian yang menimpa rumahnya pada Sabtu (30/8) malam tersebut. Namun, ada satu permintaan tulus yang ia sampaikan kepada para pelaku.
"Yang penting tolong kucing-kucing kami dikembalikan, itu saja," ujar Uya Kuya. Beberapa kucing memang sudah ditemukan, ada yang kembali ke rumah, ada yang di shelter, dan ada pula yang ditemukan oleh pihak kepolisian. Namun, masih ada beberapa kucing kesayangan yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.
Uya juga menyampaikan bahwa saat ini ia fokus mengurus keluarga setelah dinonaktifkan sebagai anggota dewan. "Doakan yang terbaik aja. Posisi lagi urus keluarga, urus semua, dan kami ikhlas kok," tambahnya. Pernyataan ini menunjukkan ketabahan Uya dalam menghadapi cobaan berat ini.
Polisi Bergerak Cepat: 12 Tersangka Diamankan
Tak butuh waktu lama, pihak kepolisian berhasil mengungkap kasus penjarahan ini. Pada 6 September 2025, hanya beberapa hari setelah kejadian, Polisi menetapkan 12 orang sebagai tersangka kasus penjarahan rumah Uya Kuya. Kapolres Metro Jakarta Timur, Kombes Alfian Nurrizal, mengonfirmasi penangkapan tersebut.
"12 orang yang sudah kita tetapkan sebagai tersangka," kata Kombes Alfian. Para tersangka memiliki peran yang berbeda-beda dalam insiden tersebut. "Dari 12 ada yang melakukan penjarahan, ada provokator, dan ada juga yang melawan petugas saat dibubarkan," jelasnya. Penangkapan ini menjadi bukti keseriusan aparat dalam menegakkan hukum dan memberikan keadilan bagi korban.
Pesan di Balik Insiden: Refleksi Amanah dan Keadilan
Insiden penjarahan rumah Uya Kuya dan Astrid Khairunisha ini menjadi pengingat penting bagi kita semua. Di satu sisi, ini adalah cerminan dari kekecewaan publik terhadap kebijakan pemerintah yang bisa berujung pada tindakan anarkis. Di sisi lain, ini juga menunjukkan betapa rentannya privasi dan keamanan individu, bahkan bagi mereka yang berada di mata publik.
Kisah Astrid yang menangis pilu membantah fitnah dan menegaskan asal-usul hartanya, serta keikhlasan Uya Kuya yang hanya meminta kucingnya kembali, memberikan dimensi kemanusiaan yang mendalam. Semoga kasus ini dapat diselesaikan dengan tuntas, memberikan keadilan bagi korban, dan menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak tentang pentingnya menjaga ketertiban dan etika dalam menyampaikan aspirasi.


















