Drama Korea You and Everything Else hadir dengan janji kisah persahabatan yang mendalam, dibalut dengan konflik emosional yang siap menguras air mata. Namun, apakah janji itu terpenuhi atau justru meninggalkan rasa pahit di akhir? Mari kita bedah lebih lanjut.
Sejak awal, drama ini memang tidak menuntut banyak ekspektasi, selain keinginan untuk menyaksikan hiperrealitas dan dramatisasi nan eksploitatif dari kemalangan karakter-karakternya. Sebuah tontonan yang mungkin terasa familiar bagi penggemar genre melodrama.
Premis Sederhana yang Menipu Mata
Sekilas, premis drama ini sangat sederhana: dua sahabat karib sejak kecil yang salah satunya mengidap penyakit akut. Sebuah formula klasik yang seringkali berhasil menyentuh hati penonton.
Ryu Eun-jung (Kim Go-eun) hidup dalam kekurangan namun berlimpah kasih sayang, sementara Cheon Sang-yeon (Park Ji-hyun) tumbuh dalam kecukupan tapi penuh tekanan. Perbedaan latar belakang ini menjadi fondasi kuat bagi sutradara Jo Young-min untuk membangun karakter dan konflik.
Semua itu menjadi landasan bagaimana kedua karakter tersebut berpikir, bersikap, dan bertumbuh. Sutradara Jo Young-min membagi kisah drama ini sesuai dengan fase pertemanan mereka, menggambarkan konflik dan permusuhan keduanya saat remaja sesuai porsi dan tak berlebihan.
Roller Coaster Emosi Sepanjang Perjalanan
Penonton diajak menyelami masa-masa lugu, kecemburuan antar teman, persaingan di sekolah, hingga cinta monyet yang menggemaskan. Semua digambarkan dengan manis dan terasa begitu dekat dengan realita.
Namun, perlahan sutradara Jo Young-min mulai menyajikan babak yang mengaduk-aduk emosi penonton. Terutama saat kehidupan Sang-yeon mulai berisi penuh perjuangan dan kesendirian, sementara hidup Eun-jung mulai penuh dengan bunga-bunga kebahagiaan.
Satu waktu, perut penonton seperti terisi kupu-kupu, tapi saat layar bergeser ke karakter yang lain, jiwa dan hati terasa membeku. Sang sutradara memadukan spektrum emosi itu dengan rapi dan baik, membuat saya sempat hanyut di dalamnya.
Belum lagi ketika keduanya berusia 20-an. Di usia yang mestinya penuh gairah dan kemenangan itu, kedua karakter justru mengalami tragedi yang bisa mengguncang kantung air mata, seolah mengamini lirik "kalah atau menang kita kan jadi arang dan abu."
Hingga ketika keduanya beranjak dewasa, mereka menjadi dua karakter yang sangat bertolak belakang macam api dan es. Yang satu berusaha mengisi jiwa dan hati dengan kebahagiaan, yang lainnya justru termakan obsesi dan dendam.
Akting Memukau Kim Go-eun dan Park Ji-hyun
Tak perlu diragukan lagi, Kim Go-eun dan Park Ji-hyun berhasil membawakan gelombang emosi karakter mereka dengan paripurna. Bukan hanya piawai dalam ekspresi dan akting, tapi juga mampu menunjukkan proses pertumbuhan karakter yang kompleks dan meyakinkan.
Mereka mampu membuat penonton merasakan setiap perubahan dan pergolakan batin yang dialami Eun-jung dan Sang-yeon. Ini adalah salah satu kekuatan utama drama ini yang patut diacungi jempol.
Hal lain yang perlu diapresiasi dari drama Korea ini adalah sinematografi dengan rekaman-rekamannya yang menghangatkan mata. Beberapa original soundtrack yang menyertai pun terasa sangat pas melengkapi setiap situasi dan suasana.
Ketika Persahabatan Berubah Jadi Eksploitasi Kesedihan
Sayangnya, di balik semua keindahan itu, You and Everything Else punya catatan besar. Alih-alih mengusung persahabatan yang tulus, drama ini terasa lebih mengeksploitasi kesedihan dan penderitaan karakter-karakternya.
Pertemanan mana yang sudah dihancurkan sedemikian rupa tetapi malah disebut kerinduan atau kasih sayang abadi? Situasi semacam itu tampaknya hanya ada di dunia politik, di mana tak ada lawan atau kawan yang abadi.
Selain itu, banyak tokoh-tokoh yang seharusnya turut menjadi benang merah tapi sengaja dihilangkan. Atau sikap karakter yang kelewat naif hingga tak masuk di akal sehat, membuat beberapa plot terasa kurang meyakinkan.
Alur yang Terasa Dipaksakan di Akhir
Bagi sebagian penonton, termasuk saya, drama ini seharusnya bisa berakhir di episode 8. Posisi terakhir yang bisa saya nikmati secara utuh, dengan alur yang masih terasa ringan, mudah diikuti, dan transisi yang halus.
Sisanya, sutradara terkesan memaksakan cerita untuk terus berlanjut. Pengembangan plot dan tokoh-tokoh selain dua karakter utama juga terasa sangat minim.
Ada karakter yang mulanya begitu menghargai persahabatan, justru jadi orang yang berkontribusi terhadap kehancuran total teman dekatnya sendiri. Penggambaran ini diikuti tindakan destruktif yang saya rasa terlalu jauh menembus batas nyata.
Ironinya, dalam episode-episode awal, cerita di drama begitu dekat dengan realita. Namun, penggambaran itu pula tak linear dengan tema yang diusung: persahabatan.
Persahabatan dengan bumbu kebencian dalam kadar tertentu barangkali ada, tapi jika diiringi kebencian dan tindakan yang merugikan sahabatnya, apakah masih layak disebut sahabat? Jika sutradara Jo Young-min konsisten dengan alur awal, cerita tersebut mungkin akan lebih manis dan tentu saja dramatis dalam nuansa yang positif.
Anti-Klimaks dan Rasa Kecewa yang Tersisa
Serial You and Everything Else di awal hingga tengah perjalanan tampak menjanjikan dengan alur yang ringan, mudah diikuti, dan transisi halus. Namun, jelang episode-episode akhir, sutradara Jo Young-min seperti kehilangan fokus.
Episode penutup pun terbilang anti-klimaks. Penonton hampir pasti bisa menebak akhir cerita di drama ini, mengurangi ketegangan dan kejutan yang seharusnya ada.
Belum lagi soal emosi yang tak bisa lagi menembus layar dan hanya menyisakan rasa kecewa. Saya hanya berharap tak ada tokoh antagonis dalam You and Everything Else yang benar-benar terjadi di dunia nyata, mengingat dunia yang berjalan sekarang saja sudah cukup merepresentasikan keantagonisan itu sendiri.


















