Tahun lalu menjadi periode yang sangat berat bagi Pangeran William, putra mahkota Inggris. Ia disebut "kena mental" dan "sangat terguncang" setelah ayahnya, Raja Charles III, dan istrinya, Kate Middleton, didiagnosis kanker dalam waktu yang berdekatan. Situasi penuh tekanan ini bahkan sempat membuatnya berpikir untuk mengurangi beban kerja dan lebih mendekatkan diri pada keluarga serta agama.
Guncangan Bertubi-tubi: Dua Diagnosis Kanker dalam Waktu Berdekatan
Awal tahun 2024 membawa kabar duka yang mengguncang Istana Buckingham. Pada Februari, publik dikejutkan dengan pengumuman diagnosis kanker Raja Charles III, disusul sebulan kemudian oleh berita serupa dari Kate Middleton pada Maret. Dua pilar utama keluarga kerajaan, sekaligus orang-orang terdekat Pangeran William, harus menghadapi pertarungan melawan penyakit mematikan ini.
Penulis biografi kerajaan, Robert Jobson, dalam bukunya The Windsor Legacy, mengungkapkan betapa William "sangat terguncang" oleh diagnosis ganda tersebut. Guncangan ini bukan hanya sekadar keterkejutan, melainkan pukulan telak yang menguji ketahanan mental sang pangeran. Ia harus menyaksikan dua orang terpenting dalam hidupnya berjuang melawan penyakit serius secara bersamaan.
Beban Berat di Pundak Sang Pangeran
Menghadapi kenyataan pahit ini, Pangeran William dikabarkan sempat mempertimbangkan untuk mundur dari beberapa tugas kerajaannya. Ia ingin mengurangi beban kerja agar bisa lebih fokus mendampingi keluarga, terutama sang istri, Kate Middleton, dan ketiga anaknya yang masih kecil. Keinginan ini mencerminkan prioritasnya yang mendalam terhadap kesejahteraan orang-orang terkasihnya.
Tak hanya itu, Jobson juga mencatat perubahan dalam kebiasaan spiritual William. "Tidak pernah dikenal sebagai jemaat yang rutin, William sekarang menghadiri gereja lebih sering daripada sebelumnya, meskipun seprivat mungkin," tulis Jobson, seperti diberitakan Daily Mail. Ini menunjukkan pencarian dukungan spiritual di tengah badai emosional yang melanda.
Penyiar dan fotografer Inggris, Helena Chard, kepada Fox News Digital, juga mengamini beratnya tahun 2024 bagi William. Ia menyebut tahun tersebut sebagai tahun yang "brutal" bagi sang pangeran. William berjuang keras untuk menjaga semuanya tetap pada jalurnya, baik di ranah pribadi maupun tugas kerajaan.
Chard menambahkan bahwa fakta William berbicara kepada ayahnya mengenai beban kerja menunjukkan kekuatan dan sisi kepeduliannya. Ini bukan tanda kelemahan, melainkan pengakuan jujur akan batas kemampuannya sebagai manusia biasa. "Dia butuh waktu untuk pulih dan memberikan segalanya kepada monarki. Dia patut dipuji atas kejujurannya dan karena menyadari bahwa dia butuh waktu untuk mundur," lanjut Chard.
Antara Tanggung Jawab Kerajaan dan Keluarga
Pakar kerajaan Inggris, Hilary Fordwich, menyoroti dilema besar yang dihadapi Pangeran William. William sebenarnya berniat untuk mengurangi waktu kerjanya demi merawat Kate Middleton dan anak-anak mereka. Namun, ia menyadari bahwa hal tersebut adalah keputusan yang sangat sulit untuk diwujudkan mengingat posisinya sebagai pewaris takhta.
"Semua yang dia lakukan adalah untuk melayani orang lain," kata Fordwich. "Mengingat rasa tanggung jawabnya, inilah salah satu dari banyak alasan mengapa dia tetap berada di puncak jajak pendapat popularitas di Inggris." Publik memahami dan menghargai dedikasinya, bahkan di tengah kesulitan pribadi.
Fordwich juga menekankan tekad kuat William untuk melindungi keluarganya sambil terus memodernisasi monarki. "Dia tahu masa depan monarki bergantung pada tingkat penerimaannya, jadi dia berada di bawah tekanan yang cukup besar. Hal itu benar-benar menyebabkannya stres yang signifikan." Tekanan ganda ini, antara tugas publik dan kekhawatiran pribadi, menciptakan beban mental yang luar biasa.
Pengakuan Jujur Pangeran William: “Tahun Tersulit yang Pernah Saya Alami”
Komentar dari para ahli ini senada dengan pengakuan langsung dari Pangeran William sendiri. Dalam perbincangannya dengan Eugene Levy untuk serial Apple TV+ "The Reluctant Traveler," sang pangeran mengungkapkan perasaannya secara terbuka. "Saya rasa tahun 2023-2024 adalah tahun tersulit yang pernah saya alami," ujarnya.
Pengakuan ini memberikan gambaran langsung tentang kedalaman perjuangan emosional yang ia lalui. William menyadari bahwa hidup memang menguji setiap individu, dan kemampuan untuk mengatasi tantangan itulah yang membentuk jati diri seseorang. Ini adalah pelajaran pahit yang harus ia telan di tengah sorotan publik.
William juga mengisahkan bagaimana kehidupannya berubah seketika ketika Kate Middleton dan Raja Charles III didiagnosis kanker. Ia merasa "karpet merah" kehidupannya bisa ditarik kapan saja, sebuah metafora untuk kerapuhan hidup yang tiba-tiba ia sadari. Keluarga kerajaan, yang selama ini dikenal kuat dan tangguh, kini menghadapi kenyataan pahit yang tak terhindarkan.
"Kami sangat beruntung; keluarga kami tidak banyak menderita penyakit untuk waktu yang sangat lama," kata Pangeran William. "Kakek-nenek saya hidup hingga usia 90-an. Mereka adalah teladan kebugaran, ketabahan, dan ketahanan, jika Anda mau menyebutnya begitu. Jadi, kami sangat beruntung sebagai sebuah keluarga." Kontras dengan masa lalu yang penuh kesehatan, situasi saat ini terasa seperti cobaan besar.
Dampak Jangka Panjang dan Harapan ke Depan
Kisah perjuangan Pangeran William ini menyoroti sisi manusiawi di balik gelar kebangsawanan. Meskipun bergelar pangeran, ia tetaplah seorang suami dan anak yang berduka, yang harus menyeimbangkan tugas negara dengan kebutuhan pribadi. Pengalamannya ini menjadi pengingat bahwa tidak ada yang kebal dari cobaan hidup, bahkan mereka yang berada di puncak kekuasaan.
Saat ini, Raja Charles III dan Kate Middleton masih menjalani pengobatan secara terpisah, dengan harapan pemulihan penuh. Pangeran William, meskipun terguncang, tetap menunjukkan keteguhan dan komitmennya terhadap keluarga dan monarki. Ia bertekad untuk menjadi pilar kekuatan bagi orang-orang yang ia cintai, sekaligus menjaga stabilitas institusi yang ia warisi.
Perjuangan William juga memperkuat citranya sebagai pemimpin yang empatik dan realistis. Kemampuannya untuk mengakui kerapuhan dan mencari dukungan, bahkan jika itu berarti mempertimbangkan untuk mengurangi beban kerja, menunjukkan kedewasaan dan keberanian. Masa depan monarki Inggris akan sangat bergantung pada ketahanan dan kepemimpinan Pangeran William, yang kini telah teruji dalam badai paling pribadi.


















