banner 728x250

Nepal Membara: Gen Z Murka, ‘Nepo Kids’ Pamer Harta Orang Tua di Medsos

nepal membara gen z murka nepo kids pamer harta orang tua di medsos portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Gelombang protes besar-besaran tengah melanda Nepal, dipelopori oleh anak-anak muda, khususnya Generasi Z. Mereka turun ke jalan, menyuarakan kekecewaan terhadap berbagai isu, mulai dari pemerintahan yang dinilai korup hingga gaya hidup mewah anak-anak pejabat yang kerap "flexing" di media sosial. Fenomena ini memicu kemarahan publik dan mempertanyakan akuntabilitas para elite.

Istilah "nepo kids" atau "nepo baby" kini menjadi sorotan utama, merujuk pada individu yang karier dan popularitasnya diduga kuat didapatkan berkat koneksi dan kesuksesan orang tua mereka. Di Nepal, anak-anak pejabat yang sering memamerkan kekayaan di media sosial kini dijuluki demikian, memicu gelombang kritik dan demonstrasi yang tak terbendung. Ini bukan sekadar isu lokal, melainkan cerminan ketidakpuasan global terhadap ketimpangan dan nepotisme.

banner 325x300

Gelombang Protes Gen Z: Mengapa ‘Nepo Kids’ Jadi Sasaran Utama?

Kemarahan publik Nepal terhadap "nepo kids" ini bukan tanpa alasan. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit dan terbatasnya lapangan pekerjaan bagi kaum muda, gaya hidup glamor anak-anak pejabat menjadi pemandangan yang sangat kontras dan menyakitkan. Banyak warga merasa bahwa kekayaan yang dipamerkan itu berasal dari praktik korupsi orang tua mereka.

Akun-akun media sosial seperti @voiceforbetternepal lantang menyuarakan keresahan ini. Mereka menyoroti bagaimana anak-anak politisi hidup dalam kemewahan berkat korupsi orang tua, namun memilih bungkam dan tidak pernah mempertanyakan asal-usul harta tersebut. Seruan untuk bangkit dan menuntut akuntabilitas kini menggema di seluruh penjuru Nepal.

Video-video yang menampilkan gaya hidup mewah para pejabat dan anak-anaknya beredar luas, menunjukkan mereka mengenakan perhiasan dan busana mahal dalam berbagai kesempatan. Ironisnya, cuplikan tersebut juga memperlihatkan kondisi sebagian besar masyarakat Nepal yang hidup dalam kesengsaraan, menciptakan jurang yang menganga antara elite dan rakyat biasa. Kontras inilah yang memicu amarah Gen Z.

Ketika Media Sosial Jadi Saksi Bisu Gaya Hidup Mewah

Media sosial menjadi medan utama bagi warga Nepal untuk menyuarakan protes mereka. Selain @voiceforbetternepal, banyak netizen lain membanjiri platform dengan unggahan kecaman serupa, disertai foto dan video gaya hidup mewah para "nepo kids." Tagar seperti #NepoKids, #NepoBaby, dan #PoliticiansNepoBabyNepal menjadi trending, menunjukkan skala kemarahan yang meluas.

Warganet tak segan melontarkan pertanyaan tajam, seperti yang diungkapkan akun @SGnepal via X/Twitter: "Apakah para nepo baby itu tidak malu?" Seruan untuk bersuara dan menuntut keadilan terus digaungkan, menandakan bahwa isu ini telah menyentuh saraf sensitif masyarakat. Media sosial tidak hanya menjadi corong protes, tetapi juga alat untuk mengumpulkan bukti dan menyebarkan kesadaran.

Daftar ‘Nepo Kids’ Nepal yang Bikin Rakyat Geram

Dalam berbagai unggahan protes, sejumlah nama "nepo kids" muncul ke permukaan. Mereka adalah anak-anak pejabat yang berprofesi sebagai model, artis, atau sekadar dikenal karena sering memamerkan kemewahan di media sosial. Berikut adalah beberapa di antaranya yang paling banyak dikecam warga:

Shrinkhala Khatiwada: Dari Miss Nepal ke Target Amukan Warganet

Shrinkhala Khatiwada, Miss Nepal 2018, menjadi salah satu target utama amukan warganet selama demonstrasi besar-besaran. Ia bahkan dilaporkan kehilangan lebih dari 100 ribu pengikutnya di Instagram dalam waktu singkat. Kecaman terhadap Khatiwada muncul karena statusnya sebagai putri dari eks Menteri Kesehatan Nepal Birodh Khatiwada dan anggota parlemen Nepal Munu Sigdel.

Khatiwada dikenal sering memamerkan gaya hidup mewah di akun Instagram-nya, mulai dari liburan ke luar negeri, mengenakan jenama-jenama mewah, hingga pemotretan fesyen yang glamor. Gaya hidup ini dianggap sangat kontras dengan kondisi mayoritas rakyat Nepal, memicu kemarahan yang tak terhindarkan. Publik merasa bahwa popularitas dan kekayaannya tidak lepas dari posisi orang tuanya.

Shivana Shrestha: Menantu Eks PM yang Tak Luput dari Sorotan

Penyanyi Shivana Shrestha juga ikut menjadi sasaran kritik pedas warga Nepal. Ia masuk daftar "nepo kids" yang gemar pamer kemewahan, terutama karena statusnya sebagai menantu eks Perdana Menteri Sher Bahadur Deuba. Hubungan keluarga ini membuatnya menjadi sorotan tajam di tengah gelombang protes anti-korupsi.

Bersama suaminya, Jaiveer Singh Deuba, Shivana beberapa kali menunjukkan rumah mewah dan busana mahal di internet. Pameran kekayaan ini memancing amarah netizen yang merasa bahwa keluarga elite hidup dalam kemewahan sementara rakyat menderita. Kasus Shivana menunjukkan bahwa ikatan keluarga dengan pejabat tinggi bisa menjadi bumerang di mata publik yang kritis.

Smita Dahal: Cucu Mantan PM dengan Tas Tangan Mewah yang Jadi Polemik

Smita Dahal, cucu dari mantan Perdana Menteri sekaligus pemimpin Partai Komunis Nepal Pushpa Kamal Dahal, juga tak luput dari kecaman. Ia dikritik keras netizen setelah memamerkan tas tangan mewah di media sosial. Unggahan tersebut menjadi bensin yang menyulut api kemarahan publik.

Kritik ini muncul mengingat kondisi pemuda di Nepal yang masih sulit, dengan lapangan pekerjaan terbatas dan ekonomi yang terpuruk. Kontras antara tas tangan mewah Smita dan realitas pahit rakyat Nepal dianggap sebagai simbol ketidakadilan. Akibatnya, akun Instagram Smita Dahal dilaporkan menghilang setelah gelombang kritik masif tersebut, menandakan tekanan publik yang luar biasa.

Saugat Thapa: Anak Menteri Hukum yang Dihujat karena Gaya Hidup Glamor

Nama Saugat Thapa juga masuk dalam daftar "nepo kids" yang dikecam. Sebagai anak dari Menteri Hukum Bindu Kumar Thapa, Saugat dihujat di media sosial karena kehidupannya yang dipenuhi barang-barang mewah. Foto-foto yang memperlihatkan gaya hidup glamornya viral dan menjadi bahan amukan netizen.

Kasus Saugat Thapa menambah panjang daftar anak pejabat yang gaya hidupnya dianggap tidak etis di tengah penderitaan rakyat. Kemarahan publik menunjukkan bahwa mereka tidak lagi mentolerir pameran kekayaan yang dianggap hasil dari korupsi atau penyalahgunaan kekuasaan. Ini adalah seruan keras untuk transparansi dan akuntabilitas dari para pemimpin.

Lebih dari Sekadar ‘Flexing’: Seruan Akuntabilitas dan Perubahan

Demonstrasi dan kecaman terhadap "nepo kids" di Nepal ini lebih dari sekadar protes terhadap gaya hidup mewah. Ini adalah seruan keras dari Generasi Z untuk akuntabilitas, transparansi, dan keadilan dalam pemerintahan. Mereka menuntut agar para pejabat dan keluarga mereka bertanggung jawab atas kekayaan yang dimiliki, terutama jika diduga berasal dari praktik korupsi.

Gerakan ini menunjukkan kekuatan media sosial dalam memobilisasi opini publik dan menekan para elite. Dengan tagar dan unggahan yang masif, masyarakat Nepal, khususnya kaum muda, berhasil menarik perhatian global terhadap isu-isu internal mereka. Ini adalah tanda bahwa generasi baru tidak akan tinggal diam melihat ketidakadilan.

Protes ini diharapkan dapat memicu perubahan signifikan dalam tata kelola pemerintahan Nepal, mendorong reformasi anti-korupsi, dan menciptakan masyarakat yang lebih adil. Suara Gen Z yang murka terhadap "nepo kids" adalah cerminan dari keinginan mendalam untuk masa depan Nepal yang lebih baik, di mana kesuksesan diraih berdasarkan meritokrasi, bukan nepotisme.

banner 325x300