Jakarta – Kabar mengejutkan datang dari aktris Hollywood papan atas, Kirsten Dunst. Bintang yang namanya melambung berkat perannya sebagai Torrance Shipman dalam film komedi remaja ikonik Bring It On ini, baru-baru ini secara tegas menyatakan tidak tertarik untuk kembali membintangi sekuel film tersebut. Keputusan ini tentu saja membuat banyak penggemar terkejut, mengingat betapa melekatnya karakter cheerleader tersebut pada dirinya.
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Entertainment Weekly yang dijadwalkan tayang pada 8 September 2025, Dunst mengungkapkan alasan di balik penolakannya. Ia merasa ada hal-hal tertentu yang memang tidak perlu diulang atau dihidupkan kembali. Pernyataan ini sontak menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta film dan penggemar setia Bring It On.
Mengapa Keputusan Ini Mengejutkan?
Keputusan Kirsten Dunst untuk menutup pintu rapat-rapat bagi sekuel Bring It On memang cukup mengagetkan. Pasalnya, pernyataan ini berbanding terbalik dengan apa yang ia sampaikan kepada Entertainment Weekly pada tahun 2024 lalu. Kala itu, Dunst masih menunjukkan keterbukaan terhadap kemungkinan untuk kembali memerankan Torrance Shipman.
Menurut laporan yang dilansir New York Post pada Kamis (11/9), Dunst pada tahun sebelumnya sempat mengatakan, "Maksud saya, itu tergantung. Asalkan tidak memalukan." Komentar tersebut mengindikasikan bahwa ia masih mempertimbangkan, asalkan naskah dan konsepnya berkualitas serta tidak merusak reputasi film aslinya. Namun, kini pendiriannya tampaknya sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat.
‘Biarkan Hal Baik Tetap di Tempatnya’: Filosofi Kirsten Dunst
Dunst menjelaskan filosofinya di balik penolakan ini dengan kalimat yang lugas dan penuh makna. "Saya seperti, biarkan hal-hal baik tetap di tempatnya," ujarnya. Bagi Dunst, beberapa karya seni memang seharusnya dibiarkan menjadi kenangan indah tanpa perlu diusik dengan upaya sekuel yang berisiko merusak citra aslinya.
Ia melanjutkan, "Saya tidak perlu mengenakan pakaian pemandu sorak. Saya bahkan tidak tahu apa yang akan saya lakukan—menjadi pelatih atau semacamnya? Biarkan saja." Pernyataan ini menunjukkan bahwa Dunst merasa sudah melewati fase tersebut dalam kariernya dan tidak melihat relevansi untuk kembali ke peran yang sama di usianya sekarang.
Tak Ingin Pakai Baju Cheerleader Lagi?
Secara implisit, penolakan Dunst juga menyiratkan bahwa ia tidak ingin lagi mengenakan kostum pemandu sorak. Hal ini bisa jadi karena ia merasa sudah terlalu tua untuk peran tersebut, atau karena ia ingin fokus pada peran-peran yang lebih dewasa dan menantang. Sebagai aktris yang telah meraih banyak penghargaan, termasuk nominasi Oscar, wajar jika ia ingin terus berkembang.
Pakaian pemandu sorak memang identik dengan citra remaja dan energik. Dunst, yang kini telah menjadi ibu dan membintangi berbagai film serius, mungkin merasa bahwa kembali ke citra tersebut akan terasa tidak natural atau bahkan "memalukan" seperti yang ia khawatirkan sebelumnya. Keputusan ini mencerminkan evolusi dirinya sebagai seorang seniman.
Kilas Balik Legenda Bring It On (2000)
Untuk memahami mengapa penolakan Kirsten Dunst ini begitu menjadi sorotan, kita perlu kembali menilik ke belakang, ke tahun 2000 saat Bring It On pertama kali dirilis. Film komedi remaja ini dengan cepat menjadi fenomena budaya pop dan ikonik di masanya. Film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengangkat isu-isu persaingan, orisinalitas, dan integritas dalam dunia pemandu sorak.
Disutradarai oleh Peyton Reed, Bring It On berhasil menangkap esensi kehidupan remaja SMA dengan segala dramanya. Film ini memadukan humor, persahabatan, dan koreografi pemandu sorak yang energik, menjadikannya tontonan wajib bagi generasi milenial dan tetap relevan hingga kini.
Torrance Shipman: Karakter Ikonik yang Melekat
Kirsten Dunst memerankan karakter Torrance Shipman, seorang anak cheerleader SMA yang mendapati dirinya dalam posisi sulit saat ditunjuk sebagai kapten tim. Karakter Torrance yang ambisius namun juga memiliki integritas, berhasil dibawakan dengan apik oleh Dunst. Perannya ini menjadikannya salah satu wajah paling dikenal di genre film remaja pada awal 2000-an.
Torrance Shipman bukan sekadar kapten tim; ia adalah simbol dari perjuangan untuk melakukan hal yang benar. Karakternya harus menghadapi dilema moral dan tekanan untuk mempertahankan gelar juara, sambil tetap menjaga kehormatan timnya. Peran ini begitu melekat pada Dunst sehingga banyak yang berharap ia akan kembali.
Plot Singkat yang Penuh Drama dan Persaingan
Film ini mengisahkan kegamangan Torrance Shipman saat ia mengetahui fakta mengejutkan bahwa gerakan-gerakan pemandu sorak yang selama ini diajarkan kepada timnya, The Toros, adalah hasil plagiat dari tim sekolah lain, The Clovers, yang dipimpin oleh Isis (diperankan oleh Gabrielle Union). Penemuan ini memicu konflik internal dan eksternal yang seru.
Hingga kemudian, tim Shipman harus melawan tim sekolah Isis dalam kompetisi nasional. Di tengah upayanya untuk mencari gerakan yang lebih orisinal dan mempertahankan gelar juara, Torrance belajar banyak tentang kejujuran, kerja keras, dan pentingnya menghargai karya orang lain. Alur cerita yang menarik ini menjadi salah satu kunci kesuksesan film.
Kesuksesan Besar yang Melahirkan Waralaba
Bring It On dirilis pada 25 Agustus 2000, dan langsung menuai kesuksesan besar di box office. Dengan bujet produksi hanya US$11 juta, film ini berhasil meraup pendapatan global hingga US$90,5 juta. Angka ini membuktikan daya tarik film komedi remaja dengan tema yang segar dan karakter yang kuat.
Kesuksesan finansial dan popularitas yang luar biasa ini kemudian membuat Bring It On berkembang menjadi sebuah serial film dan waralaba yang panjang. Film ini tidak hanya menjadi hit, tetapi juga meninggalkan jejak signifikan dalam budaya pop, menginspirasi banyak film dan acara televisi bertema pemandu sorak lainnya.
Sekuel Tanpa Bintang Asli: Pelajaran Berharga?
Meskipun sukses besar, waralaba Bring It On dikenal karena satu hal yang unik: tidak ada satu pun pemain asli dari film pertama yang kembali membintangi sekuel-sekuelnya. Tercatat, ada Bring It On Again (2004), Bring It On: All or Nothing (2006), Bring It On: In It to Win It (2007), Bring It On: Fight to the Finish (2009), Bring It On: Worldwide Cheersmack (2017), dan film televisi Bring It On: Cheer or Die (2022).
Fakta bahwa Kirsten Dunst tidak pernah kembali ke sekuel-sekuel tersebut, bahkan sejak awal, mungkin menjadi salah satu alasan kuat mengapa ia kini semakin mantap dengan keputusannya. Ia telah melihat bagaimana waralaba ini berkembang tanpa kehadirannya, dan mungkin merasa bahwa film pertama sudah cukup sempurna sebagai warisan yang ia tinggalkan. Ini juga bisa menjadi pelajaran bahwa tidak semua film membutuhkan sekuel, terutama jika bintang utamanya sudah tidak tertarik.
Apa Kata Fans dan Masa Depan Kirsten Dunst?
Penolakan Kirsten Dunst ini tentu memicu berbagai reaksi dari para penggemar. Banyak yang mungkin merasa kecewa karena harapan untuk melihat Torrance Shipman kembali pupus. Namun, tidak sedikit pula yang memahami dan menghargai keputusan Dunst. Mereka mungkin setuju bahwa beberapa film memang lebih baik dibiarkan menjadi klasik tanpa diusik oleh sekuel yang berisiko.
Bagi Kirsten Dunst sendiri, keputusannya ini menunjukkan komitmennya terhadap perkembangan karier yang lebih beragam. Setelah Bring It On, ia telah membintangi berbagai genre film, dari drama seperti Melancholia dan The Power of the Dog (yang memberinya nominasi Oscar), hingga serial televisi Fargo. Dunst kini lebih dikenal sebagai aktris serba bisa dengan pilihan peran yang matang.
Dengan demikian, pernyataan tegas Kirsten Dunst ini bukan hanya sekadar penolakan terhadap sebuah sekuel, melainkan juga sebuah deklarasi tentang bagaimana ia memandang warisan kariernya dan arah masa depannya. Ia memilih untuk menjaga kenangan indah Bring It On tetap utuh, sembari terus melangkah maju dalam dunia perfilman yang lebih luas dan menantang.


















