Para penggemar K-pop di seluruh dunia kini tidak hanya fokus pada koreografi, vokal, atau visual idola mereka. Ada isu yang lebih besar dan mendesak yang mereka suarakan: konser ramah lingkungan dan rendah karbon. Gerakan ini bukan sekadar tren, melainkan desakan serius yang datang dari kepedulian terhadap masa depan bumi.
Mereka mendesak perusahaan-perusahaan hiburan raksasa dan promotor konser untuk segera menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan. Ini adalah panggilan untuk perubahan yang fundamental, agar industri K-pop yang mendunia juga bertanggung jawab terhadap dampak lingkungannya.
Gerakan KPOP4PLANET: Suara Penggemar untuk Bumi
Desakan ini datang dari KPOP4PLANET, sebuah lembaga pemerhati iklim yang dibentuk oleh dan untuk penggemar K-pop. Mereka baru saja merilis laporan berjudul "Low Carbon K-Pop Concerts: Sing Along for Our Future," yang menjadi sorotan menjelang pelaksanaan COP30, konferensi iklim global penting yang akan digelar pekan depan. Laporan ini bukan hanya berisi kritik, tapi juga harapan dan solusi konkret.
KPOP4PLANET secara tegas mendesak para pelaku industri K-pop, mulai dari agensi idola hingga penyelenggara konser, untuk segera mengadopsi praktik rendah karbon. Mereka menyoroti bahwa banyak musisi internasional, seperti Billie Eilish dan Coldplay, sudah lebih dulu menerapkan standar konser yang lebih hijau. Ini menunjukkan bahwa perubahan itu mungkin dan sudah saatnya K-pop mengikuti jejak mereka.
"Artis-artis mancanegara telah memperkenalkan standar baru, dan minat penggemar domestik terhadap pertunjukan berkelanjutan juga meningkat," tulis KPOP4PLANET dalam laporannya. "Ditambah dengan tuntutan internal akan perubahan dalam industri ini, tidak ada alasan untuk menunda lebih lanjut." Pernyataan ini jelas, industri K-pop tidak punya alasan lagi untuk berdiam diri.
Jejak Karbon Konser K-Pop: Angka yang Mengejutkan
Mungkin kamu tidak pernah membayangkan, tapi setiap konser yang kamu datangi, setiap lampu panggung yang menyala, dan setiap perjalanan idola ke berbagai kota, meninggalkan jejak karbon yang signifikan. Laporan KPOP4PLANET mengutip data dari Julie’s Bicycle pada tahun 2007, yang menyebutkan bahwa industri musik di Inggris saja menghasilkan sekitar 540 ribu ton gas rumah kaca.
Dari jumlah yang fantastis itu, sekitar 73 persen atau setara dengan 394 ribu ton, berasal dari pertunjukan langsung alias konser. Bayangkan saja, angka ini setara dengan emisi karbon dari 92 ribu mobil yang beroperasi selama setahun penuh! Tentu saja, ini adalah angka yang sangat mengkhawatirkan.
Meskipun data tersebut berasal dari Inggris dan sudah 18 tahun lalu, KPOP4PLANET memperkirakan emisi dari konser telah melonjak drastis. Promotor raksasa Live Nation Entertainment melaporkan bahwa pada tahun 2023 saja, mereka menggelar 50 ribu konser dengan 145 juta penonton. Bisa dibayangkan betapa besar jejak karbon yang dihasilkan dari skala sebesar itu.
Dengan basis penggemar K-pop yang mencapai 75 juta orang di seluruh dunia pada tahun 2023 menurut Korea Foundation, industri ini memiliki tanggung jawab besar. Skala global dan frekuensi konser yang tinggi membuat dampak lingkungan K-pop menjadi isu yang tidak bisa diabaikan lagi.
Belajar dari Bintang Dunia: Standar Baru Konser Ramah Lingkungan
Saat ini, banyak artis internasional sudah mulai bergerak aktif dalam upaya mengurangi jejak karbon mereka. Billie Eilish, misalnya, dikenal dengan inisiatif "Overheated" yang fokus pada keberlanjutan, memastikan tur konsernya menggunakan energi terbarukan dan mengurangi limbah. Coldplay bahkan merancang panggung yang bisa menghasilkan listrik dari gerakan penonton, serta menggunakan baterai daur ulang.
Mereka tidak hanya bicara, tapi juga bertindak nyata. Mulai dari pemilihan lokasi yang mudah diakses transportasi umum, penggunaan bahan daur ulang untuk properti panggung, hingga memastikan seluruh operasional konser menggunakan energi hijau. Ini adalah standar baru yang harus diikuti oleh industri musik global, termasuk K-pop.
Upaya-upaya ini menunjukkan bahwa konser yang spektakuler dan ramah lingkungan bukanlah hal yang mustahil. Dengan perencanaan yang matang dan komitmen kuat, idola K-pop juga bisa memberikan hiburan terbaik tanpa harus mengorbankan kelestarian planet kita.
K-Pop di Persimpangan Jalan: Antara Tantangan dan Peluang
Ironisnya, di tengah desakan global ini, belum banyak pelaku industri K-pop yang menunjukkan kepedulian nyata. KPOP4PLANET menganalisis lima perusahaan K-pop besar: HYBE, JYP, SM, YG, dan CJ ENM. Hasilnya? Hanya YG Entertainment yang sudah mulai bergerak konkret dalam konser ramah lingkungan.
Itu pun terjadi sebagian besar karena BLACKPINK menjadi duta untuk COP26, konferensi iklim PBB. Konser BLACKPINK pada tahun 2023 menjadi yang pertama di industri ini yang mengukur emisi karbon dari sebuah pertunjukan. Mereka juga mengoperasikan stan edukasi iklim di tempat pertunjukan, sebuah langkah kecil namun penting untuk meningkatkan kesadaran.
Lebih lanjut, YG Entertainment bekerja sama dengan IOM untuk membeli Sertifikat Energi Terbarukan Perdamaian (P-REC) pada tahun 2025. Ini bertujuan untuk mengimbangi sebagian penggunaan listrik dalam tur dunia BLACKPINK. Meskipun ini adalah awal yang baik, upaya ini masih jauh dari kata sempurna dan perlu diikuti oleh agensi lainnya.
Penggemar Bersuara: Kekuatan di Balik Perubahan Hijau
Jangan remehkan kekuatan penggemar! KPOP4PLANET menyebutkan bahwa para penggemar K-pop sendiri sangat menginginkan konser idola mereka ramah lingkungan. Survei yang mereka lakukan pada tahun 2021 menemukan bahwa hampir 5 ribu anak muda ingin terlibat dalam konser hijau. Ini menunjukkan bahwa ada permintaan yang kuat dari basis penggemar.
Laporan Sustainable Performance Report dari YG Entertainment yang dikutip KPOP4PLANET juga menguatkan hal ini. Delapan dari sepuluh penggemar gabungan BLACKPINK, AKMU, dan Treasure merasa "penampilan ramah lingkungan berkelanjutan itu penting." Angka ini adalah bukti nyata bahwa fans tidak hanya peduli pada musik, tapi juga pada nilai-nilai keberlanjutan.
Para penggemar K-pop adalah komunitas yang sangat aktif dan vokal. Ketika mereka bersatu untuk sebuah tujuan, dampaknya bisa sangat besar. Desakan dari jutaan penggemar ini adalah sinyal kuat bagi agensi dan promotor bahwa sudah saatnya mereka mendengarkan dan bertindak.
Lima Rekomendasi KPOP4PLANET untuk Konser K-Pop yang Lebih Hijau
KPOP4PLANET menyadari bahwa upaya K-pop masih dalam tahap awal dibandingkan dengan artis internasional. "Oleh karena itu, konser rendah karbon merupakan krisis sekaligus peluang bagi K-pop," tulis mereka. Untuk itu, mereka memberikan lima rekomendasi kunci kepada para pelaku industri K-pop:
- Pengukuran dan Pelaporan Emisi Karbon: Setiap konser harus mengukur dan melaporkan jejak karbonnya secara transparan. Ini adalah langkah pertama untuk memahami masalah dan merencanakan solusi.
- Penggunaan Energi Terbarukan: Beralih ke sumber energi terbarukan untuk operasional konser, mulai dari panggung, pencahayaan, hingga sistem suara. Ini akan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
- Desain Panggung dan Properti Berkelanjutan: Menggunakan bahan daur ulang, dapat digunakan kembali, atau ramah lingkungan untuk desain panggung dan properti. Mengurangi limbah dan memaksimalkan efisiensi sumber daya.
- Manajemen Limbah dan Daur Ulang: Menerapkan sistem pengelolaan limbah yang efektif di lokasi konser, termasuk fasilitas daur ulang yang mudah diakses untuk penonton dan kru.
- Promosi Transportasi Berkelanjutan: Mendorong penggemar dan kru untuk menggunakan transportasi umum, bersepeda, atau berjalan kaki ke lokasi konser. Ini dapat mengurangi emisi dari perjalanan yang menjadi penyumbang karbon terbesar.
Dengan menerapkan rekomendasi ini, industri K-pop tidak hanya akan mengurangi dampak lingkungannya, tetapi juga meningkatkan citra mereka sebagai pemimpin dalam keberlanjutan. Ini adalah kesempatan emas bagi K-pop untuk tidak hanya mendunia dalam musik, tetapi juga dalam kepedulian terhadap bumi. Masa depan K-pop yang lebih hijau bukan lagi mimpi, melainkan keharusan yang harus segera diwujudkan.


















