Akhir pekan Halloween 2025 baru saja mencetak rekor yang tidak menyenangkan bagi industri perfilman. Kunjungan ke bioskop anjlok drastis, menandai titik terendah dalam 27 tahun terakhir, menjadikannya salah satu momen paling menyeramkan bukan karena film horor, melainkan karena angka-angka box office yang lesu. Ini adalah sinyal bahaya yang patut diperhatikan.
Box Office Halloween 2025: Angka yang Bikin Geleng-Geleng
Menurut data dari Box Office Mojo yang diakses pada 3 November 2025, total pendapatan domestik akhir pekan Halloween kemarin hanya mencapai US$49 juta. Angka ini jauh di bawah ekspektasi dan disebut oleh Comscore sebagai perolehan terendah sepanjang tahun ini. Sebuah pukulan telak bagi harapan pemulihan industri.
Bukan hanya itu, catatan statistik lain menunjukkan bahwa pendapatan kotor akhir pekan Halloween 2025 ini menjadi yang terendah dalam hampir tiga dekade terakhir. Dengan total stagnan di angka US$425 juta, rekor loyo ini bahkan tidak termasuk tahun 2020 saat pandemi melanda, yang memang membuat bioskop mati suri.
Perolehan ini terburuk sejak Oktober 1997, di mana kala itu pendapatan tercatat sebesar US$385 juta tanpa penyesuaian inflasi. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada dua film yang relatif berhasil memimpin, secara keseluruhan, penonton memilih untuk tidak menghabiskan waktu di bioskop.
‘Regretting You’ dan ‘Black Phone 2’ Jadi Pemenang di Tengah Badai
Di tengah kelesuan yang melanda, dua film berhasil menempati posisi teratas box office. "Regretting You" menduduki puncak dengan perolehan US$8,1 juta di pekan keduanya, membawa total pendapatan domestiknya menjadi US$27,5 juta. Sebuah performa yang cukup stabil mengingat kondisi pasar yang sedang tidak kondusif.
Sementara itu, "Black Phone 2" menempati posisi kedua dengan US$8 juta di pekan ketiga penayangannya. Film horor ini berhasil menggenapi perolehan domestiknya menjadi US$61,4 juta, menunjukkan bahwa genre horor masih memiliki basis penggemar setia yang siap datang ke bioskop.
Fenomena Colleen Hoover: Dari Novel Laris ke Layar Lebar yang Tetap Laris
"Regretting You" adalah film drama romantis yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Colleen Hoover, penulis yang namanya kini semakin melambung. Disutradarai oleh Josh Boone dan naskah ditulis oleh Susan McMartin, film ini berhasil menarik perhatian penggemar novel aslinya.
Colleen Hoover memang dikenal sebagai ratu novel romantis kontemporer, dengan jutaan pembaca setia di seluruh dunia. Adaptasi karyanya ke layar lebar selalu dinanti-nanti, dan "Regretting You" menjadi bukti bahwa daya tarik ceritanya mampu menembus kebuntuan box office.
Sebelumnya, dua novel Hoover lainnya juga telah diadaptasi, yaitu "Confess" pada tahun 2017 dan "It Ends with Us" pada tahun 2024. Film "It Ends with Us" bahkan sempat menjadi perbincangan hangat karena drama di balik layar yang melibatkan Blake Lively dan Justin Baldoni, menambah buzz di kalangan penggemar.
Ke depan, masih ada dua novel Hoover lainnya yang sedang dalam tahap adaptasi, yakni "Reminders of Him" dan "Verity," yang dijadwalkan rilis pada tahun 2026. Ini menunjukkan bahwa meskipun industri film sedang lesu, adaptasi dari karya populer tetap menjadi strategi yang menjanjikan.
Horor Masih Punya Taring: Kesuksesan ‘Black Phone 2’
Di sisi lain, "Black Phone 2" membuktikan bahwa genre horor memiliki daya tahan yang kuat di box office. Sekuel dari film horor sukses "The Black Phone" ini berhasil mempertahankan penontonnya, bahkan di tengah persaingan yang ketat dan kondisi pasar yang buruk.
Film horor seringkali menjadi pilihan yang aman bagi studio karena biaya produksinya yang relatif lebih rendah dan basis penggemar yang loyal. Kesuksesan "Black Phone 2" ini menjadi secercah harapan bahwa setidaknya ada satu genre yang masih bisa diandalkan untuk menarik penonton ke bioskop.
Ketika Film Calon Penghargaan Pun Tak Mampu Menarik Penonton
Variety melaporkan bahwa Halloween memang seringkali menjadi momen yang lesu bagi box office. Namun, momen ini juga biasanya dimanfaatkan oleh studio untuk merilis film-film yang berpotensi menjadi nominasi ajang penghargaan, berharap bisa membangun momentum sebelum musim penghargaan tiba.
Sayangnya, strategi ini tampaknya tidak berhasil tahun ini. Beberapa film yang digadang-gadang sebagai calon kuat penghargaan, seperti "The Smashing Machine," "After the Hunt," "Tron: Ares," dan "Springsteen: Deliver Me From Nowhere," justru kesulitan mendulang angka bagus di box office.
"The Smashing Machine," yang mungkin diharapkan menarik perhatian dengan cerita dramatisnya, atau "Tron: Ares" yang merupakan sekuel dari franchise fiksi ilmiah populer, gagal memikat penonton. Ini menimbulkan pertanyaan besar tentang efektivitas strategi rilis di masa mendatang.
Kenapa Box Office Halloween 2025 Begitu Sepi? Menguak Penyebabnya
Kelesuan box office Halloween 2025 ini tentu bukan tanpa alasan. Ada beberapa faktor yang mungkin berkontribusi pada angka-angka yang bikin merinding ini, mulai dari tradisi hingga perubahan kebiasaan penonton yang fundamental.
Tradisi Halloween yang Lesu
Secara historis, akhir pekan Halloween memang bukan waktu puncak bagi box office. Banyak orang lebih memilih untuk merayakan Halloween dengan pesta kostum, trick-or-treating, atau acara-acara keluarga lainnya, daripada pergi ke bioskop. Ini sudah menjadi pola yang berulang setiap tahun.
Namun, kelesuan tahun ini terasa jauh lebih parah dari biasanya. Ini menunjukkan bahwa ada faktor-faktor lain yang memperparah situasi, bukan hanya sekadar tradisi perayaan Halloween semata.
Gempuran Streaming dan Perubahan Kebiasaan Penonton
Salah satu penyebab utama kelesuan bioskop adalah gempuran platform streaming. Dengan banyaknya pilihan film dan serial yang bisa ditonton dari kenyamanan rumah, banyak penonton yang memilih untuk menunggu film favorit mereka tayang di layanan streaming.
Apalagi, harga tiket bioskop yang terus naik, ditambah biaya transportasi dan makanan, membuat pengalaman menonton di rumah terasa lebih ekonomis dan praktis. Ini adalah tantangan besar yang harus dihadapi oleh industri bioskop di era digital ini.
Kualitas Film dan Kurangnya "Blockbuster Momen"
Meskipun ada beberapa film yang rilis, tidak ada "blockbuster momen" yang benar-benar besar dan mampu menarik massa secara signifikan. Film-film yang tayang mungkin tidak cukup kuat untuk membuat penonton merasa "wajib" untuk segera menontonnya di bioskop.
Kualitas film yang dirilis juga bisa menjadi faktor. Jika ulasan kurang memuaskan atau buzz di media sosial tidak terlalu kuat, penonton akan lebih selektif dalam memilih film yang layak ditonton di layar lebar.
Faktor Ekonomi dan Prioritas Hiburan
Kondisi ekonomi global yang masih belum stabil juga bisa memengaruhi daya beli masyarakat. Dengan inflasi dan biaya hidup yang meningkat, hiburan seperti menonton bioskop mungkin menjadi prioritas yang lebih rendah dibandingkan kebutuhan pokok lainnya. Penonton akan lebih cermat dalam mengalokasikan anggaran hiburan mereka.
Masa Depan Bioskop: Antara Harapan dan Tantangan Berat
Angka box office Halloween 2025 ini menjadi pengingat keras bagi industri perfilman tentang tantangan yang mereka hadapi. Untuk bisa bertahan dan bangkit, bioskop dan studio harus berinovasi dan memahami perubahan perilaku penonton.
Mungkin sudah saatnya studio lebih selektif dalam memilih tanggal rilis dan fokus pada film-film yang benar-benar menawarkan pengalaman sinematik yang tidak bisa didapatkan di rumah. Film-film yang memicu diskusi, pengalaman visual yang memukau, atau acara khusus bisa menjadi daya tarik tersendiri.
Industri film harus terus mencari cara untuk membuat pengalaman menonton di bioskop kembali menjadi "momen spesial" yang dinanti-nanti. Jika tidak, rekor-rekor suram seperti ini mungkin akan semakin sering kita jumpai di masa depan.


















