Jakarta, CNN Indonesia — Gelombang dukungan untuk Palestina semakin menguat, dan kali ini datang dari deretan nama-nama besar di industri hiburan dunia. Billie Eilish, Cillian Murphy, Steve Coogan, dan puluhan selebriti lainnya kembali menyuarakan pesan solidaritas mereka untuk Together For Palestine, menjelang sebuah acara amal akbar di London pada Rabu (17/9) malam. Ini bukan sekadar konser biasa, melainkan sebuah pernyataan kemanusiaan yang lantang dari para bintang.
Para Bintang Turun Tangan: Pesan Kuat dari Layar Kaca
Sebuah video berdurasi satu menit yang dirilis oleh Together For Palestine sukses menyita perhatian publik. Diawali dengan tatapan intens dari aktor peraih Oscar, Cillian Murphy, dan Joaquin Phoenix, video ini langsung menggetarkan emosi penonton. Mereka bukan sekadar tampil, melainkan menjadi pembuka bagi gelombang dukungan yang tak terbendung.
Tak hanya mereka, wajah-wajah familiar seperti Sharon Horgan, Steve Coogan, DJ dan penyiar Annie Mac, hingga musisi legendaris Peter Gabriel turut hadir. Kehadiran mereka menegaskan bahwa isu kemanusiaan ini melampaui batas negara dan profesi, menyatukan hati banyak orang.
Billie Eilish, bersama sang kakak sekaligus kolaborator setianya, Finneas, kemudian muncul dan dengan tegas menyatakan, "Kami bersama untuk Palestina." Pernyataan ini disambut oleh dukungan dari Ben Howard, Chris O’Dowd, dan aktor senior Brian Cox, yang semuanya menunjukkan solidaritas penuh.
Brian Cox, dengan suara beratnya, menambahkan sebuah pesan krusial, "Kita harus menyampaikan kebenaran atas nama rakyat Palestina." Kalimat ini bukan hanya sekadar dukungan, melainkan sebuah seruan untuk transparansi dan keadilan di tengah konflik yang berkepanjangan.
Suara Seniman: Menggugat Kebenaran di Tengah Kekuasaan
Fotografer dan aktivis terkemuka AS, Nan Goldin, turut memberikan perspektifnya yang tajam. Ia menjelaskan bahwa sudah menjadi "peran seniman di masyarakat untuk bersuara, berani menyampaikan kebenaran kepada penguasa." Pernyataan ini mengingatkan kita akan kekuatan seni sebagai alat perjuangan dan penggerak perubahan.
Seniman, dengan platform dan pengaruh yang mereka miliki, seringkali menjadi j barometer moral bagi masyarakat. Mereka memiliki kapasitas untuk menyoroti ketidakadilan yang mungkin terabaikan oleh arus utama, membawa isu-isu penting ke hadapan publik yang lebih luas.
Michael Wayne Rosen, seorang penulis, penyair, presenter, kolumnis politik, penyiar, dan aktivis, tidak ragu untuk berbicara blak-blakan. Ia menyoroti keterlibatan para pemimpin negara dalam "pembunuhan massal warga sipil di Gaza dan Tepi Barat," sebuah tudingan serius yang membutuhkan perhatian global.
Pernyataan Rosen ini bukan hanya kritik, melainkan juga ajakan untuk merefleksikan tanggung jawab kolektif. Ia menekankan bahwa keheningan di hadapan ketidakadilan sama dengan menjadi bagian dari masalah itu sendiri.
Steve Coogan kemudian menegaskan urgensi untuk bertindak sekarang juga. "Penting untuk bersuara sekarang, bukan setelah ini berakhir. Sekarang juga, selagi ini terjadi," ujarnya. Ia mendesak publik untuk "tekan pemerintah Anda, berikan dukungan Anda kepada mereka yang berkampanye secara damai, serukan gencatan senjata, hentikan pembunuhan." Ini adalah seruan langsung untuk aksi nyata.
Konser Amal Akbar: Musik, Refleksi, dan Harapan di Wembley
Puncak dari gerakan Together For Palestine ini adalah sebuah konser amal megah yang diselenggarakan oleh musisi legendaris Brian Eno. Acara ini berlangsung di OVO Arena Wembley, London, dan disiarkan langsung secara daring, memungkinkan jutaan orang di seluruh dunia untuk turut serta.
Wembley, sebuah venue ikonik yang telah menjadi saksi bisu banyak momen bersejarah, kini menjadi panggung bagi solidaritas kemanusiaan. Konser ini bukan hanya sekadar pertunjukan musik, melainkan sebuah platform untuk menyatukan aspirasi dan menegaskan kembali rasa kemanusiaan yang universal.
Deretan musisi papan atas yang tampil tak kalah memukau. Ada Damon Albarn, Bastille, Cat Burns, Greentea Peng, Hot Chip, James Blake, dan Jamie xx. Mereka semua bersatu, bukan hanya untuk menyuarakan aspirasi, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa musik memiliki kekuatan untuk menyembuhkan dan menyatukan.
Dana yang terkumpul dari acara Together For Palestine ini akan disalurkan kepada organisasi-organisasi yang dipimpin Palestina. Di antaranya adalah Taawon, Palestine Children’s Relief Fund (PCRF), dan Palestine Medical Relief Service (PMRS). Organisasi-organisasi ini bekerja di garis depan, memberikan bantuan vital bagi warga Palestina yang sangat membutuhkan.
Taawon berfokus pada pembangunan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat, sementara PCRF menyediakan perawatan medis kritis bagi anak-anak yang terluka atau sakit. PMRS, di sisi lain, berjuang untuk memberikan layanan kesehatan dasar di tengah kondisi yang sulit. Setiap donasi yang terkumpul akan menjadi harapan baru bagi mereka.
Selain tiket konser, merchandise resmi Together For Palestine juga telah dijual di toko online mereka. Ini memberikan kesempatan bagi para pendukung untuk menunjukkan solidaritas mereka dan sekaligus berkontribusi pada penggalangan dana. Setiap pembelian adalah bentuk dukungan nyata.
Daftar Bintang yang Terus Bertambah: Kekuatan Kolektif yang Tak Terbendung
Awal September 2025 (asumsi ini typo dan seharusnya 2023 atau tahun berjalan), sejumlah artis lain telah diumumkan untuk bergabung dalam gerakan ini. Nama-nama seperti Celeste, Leigh-Anne, PinkPantheress, Rina Sawayama, dan Riz Ahmed menambah panjang daftar selebriti yang peduli.
Tak ketinggalan, ada pula penyanyi Palestina-Chile Elyanna, musisi Palestina Saint Levant, dan artis Palestina-Yordania El Far3i. Kehadiran mereka tidak hanya mewakili dukungan global, tetapi juga memberikan suara bagi diaspora Palestina di seluruh dunia.
Setelah membagikan detail siaran langsung, penyelenggara juga mengonfirmasi sejumlah nama besar lainnya yang akan turut memeriahkan konser. Paul Weller, Florence Pugh, legenda sepak bola Eric Cantona, dan Neneh Cherry adalah beberapa di antaranya. Daftar ini menunjukkan betapa luasnya jangkauan dan daya tarik isu kemanusiaan ini.
Pengakuan Brian Eno: Dari Kebungkamam Menuju Aksi Nyata
Di balik kemeriahan acara, ada sebuah pengakuan jujur dari salah satu legenda musik, Brian Eno. Ia mengungkapkan penyesalan mendalamnya karena selama puluhan tahun berkarya, banyak seniman, termasuk dirinya, memilih bungkam tentang isu Palestina. Ketakutan akan reaksi keras, karier yang terancam, atau pintu kesempatan yang tertutup, menjadi alasan di balik kebungkaman itu.
"Sering kali, kebungkaman itu muncul karena rasa takut, rasa takut yang nyata bahwa bersuara dapat memicu reaksi keras, menutup pintu, atau mengakhiri karier," kata Eno. Pengakuan ini membuka mata kita tentang tekanan yang dihadapi para seniman saat ingin menyuarakan isu sensitif.
Namun, Eno menegaskan bahwa hal itu kini telah berubah. "Hal itu kini berubah karena beberapa seniman dan aktivis telah membuka jalan, tetapi terutama karena kebenaran dari apa yang sedang terjadi kini mustahil untuk diabaikan," lanjutnya. Ini adalah titik balik, di mana kebenaran lebih kuat daripada rasa takut.
Ia kemudian menyoroti upaya bantuan kemanusiaan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi seperti Amnesty International dan Doctors Without Borders. "Kita tidak bisa tinggal diam," tegas Eno, menekankan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab moral untuk bertindak.
"Itulah sebabnya saya membantu menyelenggarakan Together for Palestine, malam musik, refleksi, dan harapan di Wembley Arena," pungkas Eno. Ia mengajak semua pihak untuk bersatu, baik di atas panggung maupun melalui video dari seluruh dunia. Ini adalah kesempatan emas bagi kita semua untuk "bersatu dan berkata: ini tidak bisa terus berlanjut."
Gerakan Together For Palestine ini adalah bukti nyata bahwa seni dan kemanusiaan dapat bersatu untuk menciptakan perubahan. Suara-suara bintang dunia ini tidak hanya menggema di panggung London, tetapi juga di hati jutaan orang yang mendambakan keadilan dan perdamaian untuk Palestina.


















