banner 728x250

Tolak Helikopter, Menteri Dody Hanggodo Pilih Terjun ke Lumpur Tapanuli: Kisah Pilu yang Bikin Merinding!

tolak helikopter menteri dody hanggodo pilih terjun ke lumpur tapanuli kisah pilu yang bikin merinding portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Di tengah gemerlap panggung Sutami Awards yang prestisius, Auditorium Kementerian PU di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (1/12) lalu, mendadak hening. Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo, yang seharusnya menyampaikan pidato formal, justru memilih untuk membagikan sebuah kisah yang menyentuh hati dan menggugah kesadaran. Kisah ini bukan tentang proyek megah atau pencapaian fantastis, melainkan tentang realitas pahit yang ia saksikan langsung di Tapanuli, Sumatera Utara.

Ajang Penghargaan Bergengsi dan Kisah yang Menggetarkan Hati

Sutami Awards, sebuah ajang penghargaan bergengsi di lingkungan Kementerian PU, biasanya dipenuhi dengan suasana perayaan dan apresiasi atas inovasi serta dedikasi. Namun, malam itu, sorotan justru tertuju pada kejujuran dan empati seorang menteri yang baru saja kembali dari medan bencana. Dody Hanggodo memilih momen tersebut untuk membuka matanya, dan mata ratusan hadirin, terhadap kondisi memprihatinkan di salah satu sudut negeri.

banner 325x300

Ia mengisahkan pengalamannya saat mengunjungi wilayah Tapanuli yang baru saja porak-poranda dihantam banjir dan tanah longsor. Bukan sekadar kunjungan formal, Dody memilih jalur yang tak biasa, sebuah keputusan yang menunjukkan komitmennya untuk benar-benar memahami penderitaan rakyat. Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik kemewahan ibu kota, ada saudara-saudara kita yang sedang berjuang melawan dampak bencana.

Filosofi "Menteri PU, Bukan Pemborong Umum"

"Saya sengaja landing di Bandara Sibolga. Saya tidak ikut rombongan Bapak Presiden. Saya pilih cara sendiri," tutur Menteri PU di hadapan hadirin. Pernyataan ini bukan sekadar menunjukkan independensi, melainkan sebuah filosofi mendalam yang dipegang teguh oleh Dody Hanggodo. Sebagai seorang menteri, ia memiliki pilihan untuk menggunakan fasilitas helikopter, sebuah kemudahan yang bisa menghemat waktu dan tenaga.

Namun, Dody menolak mentah-mentah opsi tersebut. "Saya ini Menteri PU, Pekerjaan Umum. Bukan Pemborong Umum. Saya harus tahu betul apa yang dirasakan rakyat," tegasnya. Kalimat ini seolah menampar kesadaran, mengingatkan bahwa jabatan adalah amanah untuk melayani, bukan untuk menikmati privilese. Ia ingin merasakan langsung lumpur yang menjebak, jalanan yang rusak, dan kesulitan yang dihadapi masyarakat setiap hari.

Perjalanan Penuh Lumpur: Menembus Jantung Bencana

Dari Bandara Sibolga menuju Kota Pandan, ibu kota Kabupaten Tapanuli Tengah, jaraknya hanya sekitar 20 kilometer. Dalam kondisi normal, perjalanan ini mungkin hanya memakan waktu singkat. Namun, pasca-bencana, Dody menceritakan bahwa perjalanan tersebut membutuhkan waktu hampir satu jam, sebuah bukti nyata betapa parahnya kerusakan infrastruktur akibat lumpur yang menjebak.

Tak ingin berlama-lama terjebak, Dody pun memilih untuk pindah ke motor ojek warga. Ia menerobos genangan air dan tumpukan tanah longsor, merasakan setiap guncangan dan kesulitan yang dialami penduduk setempat. Pengalaman ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah perjalanan emosional yang membawanya lebih dekat pada realitas pahit di lapangan.

Pemandangan Pilu yang Mengoyak Hati

Setiap jengkal perjalanan yang dilalui Dody Hanggodo di Tapanuli menyajikan pemandangan yang mengoyak hati. Ia menyaksikan langsung bagaimana kehidupan masyarakat berubah drastis dalam sekejap. Pemandangan yang ia temui seolah membawa Tapanuli mundur puluhan tahun ke belakang, ke masa sebelum kemajuan dan modernitas menyentuh pelosok negeri.

"Ibu-ibu menanak nasi pakai kayu bakar di pinggir jalan. Sudah puluhan tahun saya tidak melihat itu lagi," ujarnya dengan nada pilu. Ini bukan sekadar aktivitas memasak, melainkan simbol hilangnya akses terhadap listrik dan gas, serta perjuangan keras untuk sekadar bertahan hidup. Di sisi lain, ia melihat ibu-ibu lain mencuci baju di got yang masih memiliki sedikit air bersih, karena sungai-sungai telah tertutup lumpur dan kayu, tak lagi bisa digunakan.

Tapanuli "Kembali ke Zaman Batu": Darurat Listrik dan Air Bersih

Dampak bencana di Tapanuli tidak hanya merusak infrastruktur fisik, tetapi juga melumpuhkan seluruh sendi kehidupan. "Listrik mati total," kata Dody, menggambarkan betapa gelapnya malam-malam di sana, tanpa penerangan dan tanpa akses informasi. Kondisi ini diperparah dengan krisis energi yang mengancam fasilitas vital.

"Solar di bandara tinggal cukup setengah hari. Kalau genset mati, pompa air bandara ikut mati. Bisa dibayangkan betapa daruratnya," tambahnya. Situasi ini menunjukkan betapa rentannya sistem pendukung kehidupan modern ketika bencana melanda. Masyarakat Tapanuli seolah dipaksa kembali ke "zaman batu," berjuang tanpa listrik, tanpa air bersih yang memadai, dan tanpa harapan yang jelas kapan semua akan pulih.

Antara Aceh 2025 dan Tapanuli: Sebuah Perbandingan yang Mengkhawatirkan

Pengalaman di Tapanuli membawa Dody Hanggodo kembali pada memori pahit saat ia mengunjungi Aceh pada tahun 2025, setelah tsunami melanda. Menurutnya, suasana pasca-bencana memiliki kemiripan yang mencolok. Namun, ada satu perbedaan krusial yang membuat kondisi Tapanuli kali ini jauh lebih mengkhawatirkan.

"Waktu itu musibah terjadi di satu titik, yakni Banda Aceh. Sementara sekarang, hampir seluruh Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh terdampak sekaligus," jelasnya. Skala bencana yang meluas ini menimbulkan tantangan yang jauh lebih besar dalam upaya penanganan dan pemulihan. Sumber daya harus dibagi, perhatian terpecah, dan koordinasi menjadi semakin kompleks.

Pesan Mendalam dari Lumpur Tapanuli

"Dengan mata kepala sendiri, menteri yang pernah bertahun-tahun bertugas di lapangan bencana itu menyaksikan Tapanuli Utara, Tengah, dan Selatan kembali ke zaman sebelum listrik dan air bersih merata," pungkas Dody. Ia tak ragu menyebut kondisi ini "super memprihatinkan." Meskipun belum bisa secara gamblang menyebutnya sebagai "tsunami darat," ia mengakui bahwa dampaknya tidak kalah dahsyat.

Kisah Dody Hanggodo dari lumpur Tapanuli adalah sebuah panggilan bagi kita semua. Ini bukan hanya tentang pembangunan infrastruktur, tetapi tentang kemanusiaan, empati, dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Pengalaman seorang menteri yang rela berkubang lumpur demi merasakan penderitaan rakyatnya, menjadi pengingat bahwa di balik jabatan, ada hati yang harus tetap terhubung dengan realitas di lapangan.

banner 325x300