Selama ini, kita sering mendengar kabar baik tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di kisaran 5 persen. Angka ini seolah menjadi jaminan bahwa negara kita berada di jalur yang benar. Namun, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti, atau akrab disapa Winny, punya pandangan yang mungkin sedikit mengejutkan.
Menurut Winny, stabilitas pertumbuhan 5 persen yang sudah kita nikmati puluhan tahun itu, meski penting, ternyata belum cukup untuk membawa masyarakat Indonesia menuju kesejahteraan jangka panjang yang diidam-idamkan. "Secara stabilitas, kita sudah mencapai dan menjalani puluhan tahun tapi apakah itu sudah cukup? Jawabannya, ini perlu, tapi tidak cukup," tegas Winny dalam kuliah umum di Universitas Andalas (Unand), Padang, Sumatera Barat.
Angka 5% yang Menipu?
Capaian pertumbuhan ekonomi di angka 5 persen memang menunjukkan adanya stabilitas. Namun, Winny mengingatkan bahwa stabilitas ini tidak serta merta berarti semua kebutuhan bangsa sudah terpenuhi secara optimal. Ada kebutuhan mendesak untuk percepatan yang lebih signifikan.
Indonesia, menurut Winny, membutuhkan laju pertumbuhan yang lebih kencang agar peningkatan kesejahteraan masyarakat bisa terasa lebih nyata dan signifikan. Ini bukan hanya soal angka, tapi juga tentang kualitas hidup dan kesempatan yang lebih baik bagi setiap individu.
Mimpi Indonesia Jadi Negara Berpendapatan Tinggi
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini pun menyadari urgensi ini. Mereka tengah berupaya keras untuk mempercepat laju ekonomi, dengan fokus utama pada peningkatan pendapatan per kapita dan penciptaan lapangan kerja yang lebih luas. Ini adalah kunci untuk mengangkat derajat ekonomi masyarakat.
Jika semua upaya ini terwujud, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi negara berpendapatan tinggi, seperti yang selama ini dicita-citakan. Tentu saja, ini bukan perjalanan yang mudah, butuh kerja keras dan strategi yang tepat.
Melihat Lebih Dekat Data BPS: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Winny juga memaparkan data terkini dari BPS yang mungkin perlu kita cermati bersama. Pada kuartal II-2025, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,12 persen, sedikit lebih tinggi dibanding kuartal sebelumnya yang hanya 4,97 persen. Sekilas, ini terlihat seperti kabar baik.
Namun, Winny menilai pertumbuhan tersebut bukanlah sebuah capaian yang luar biasa. Ia menyebutnya lebih sebagai dorongan dari beberapa faktor musiman yang sifatnya tidak permanen. Artinya, kita tidak bisa berpuas diri hanya dengan angka ini.
Konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ini. Selain itu, investasi juga menunjukkan geliat positif dengan pertumbuhan 6,99 persen, sementara ekspor masih mencatat kenaikan yang cukup baik sebesar 10,67 persen.
5 Jurus Jitu Agar Ekonomi RI Ngebut
Lalu, apa yang harus dilakukan agar pertumbuhan ekonomi kita bisa benar-benar melesat di atas 5 persen dan membawa kesejahteraan? Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, punya lima solusi konkret yang patut kita pertimbangkan. Ini bukan sekadar teori, tapi langkah-langkah nyata.
Pertama, Bhima menekankan pentingnya kebijakan industrialisasi yang tidak sekadar hilirisasi olahan primer. Ini adalah poin krusial yang sering luput dari perhatian.
Industrialisasi: Bukan Sekadar Jual Bahan Mentah
Bhima menyoroti fenomena "lubang di tengah" (hollow in the middle) yang terjadi di sektor nikel. Indonesia memang mengekspor olahan primer seperti feronikel dan NPI, tapi ironisnya, kita masih harus mengimpor baterai dan mobil listrik. Ini menunjukkan bahwa nilai tambah yang kita dapatkan belum maksimal.
Porsi industri dalam PDB harus naik di atas 24 persen agar serapan tenaga kerja formal bisa semakin besar dan berkualitas. Dengan begitu, kita tidak hanya menjadi pengekspor bahan mentah, tetapi juga produsen produk jadi yang bernilai tinggi.
Masa Depan di Ekonomi Restoratif
Solusi kedua adalah mengembangkan ekonomi alternatif, salah satunya adalah ekonomi restoratif. Potensi ekonomi ini sangat besar, mencapai Rp2.208,7 triliun. Ini adalah peluang emas yang tidak boleh kita lewatkan.
Bhima memperkirakan bahwa serapan tenaga kerja dari ekonomi restoratif dapat menembus angka fantastis, yaitu 35 juta orang hingga 25 tahun ke depan. Ekonomi restoratif fokus pada keberlanjutan, pemulihan lingkungan, dan penggunaan sumber daya secara bijak, menciptakan nilai ekonomi baru dari praktik-praktik ramah lingkungan.
Musuh Utama: Korupsi dan Birokrasi Lambat
Ketiga, kita harus konsisten menurunkan inefisiensi ekonomi yang disebabkan oleh korupsi dan lambatnya birokrasi pemerintahan. Dua hal ini adalah penyakit kronis yang menghambat laju investasi dan pertumbuhan ekonomi.
Korupsi tidak hanya merugikan negara secara finansial, tetapi juga menciptakan iklim bisnis yang tidak sehat dan tidak adil. Sementara itu, birokrasi yang berbelit-belit membuat investor enggan masuk dan menghambat inovasi.
Pajak yang Adil dan Tepat Sasaran
Solusi keempat adalah memastikan insentif perpajakan diberikan secara adil dan tepat sasaran. Insentif pajak seharusnya menjadi pendorong bagi sektor-sektor strategis atau kelompok masyarakat yang membutuhkan, bukan malah menjadi celah untuk praktik tidak sehat.
Kebijakan pajak yang transparan dan efektif akan menciptakan keadilan bagi semua pihak, sekaligus mendorong pertumbuhan di sektor-sektor yang memang membutuhkan dukungan pemerintah. Ini tentang menciptakan level playing field yang sama.
Relaksasi Pajak: Jurus Ampuh Dorong Konsumsi?
Terakhir, Bhima menyarankan untuk memberikan relaksasi pajak, seperti menurunkan PPN dari 11 persen menjadi 8 persen. Ini mirip dengan langkah yang pernah dilakukan Vietnam sebagai stimulus untuk menggerakkan konsumsi rumah tangga.
Penurunan PPN bisa membuat harga barang dan jasa menjadi lebih terjangkau, sehingga mendorong masyarakat untuk berbelanja lebih banyak. Peningkatan konsumsi rumah tangga ini pada akhirnya akan memutar roda perekonomian dan menciptakan efek domino positif.
Mengejar kesejahteraan jangka panjang bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab kita semua. Dengan strategi yang tepat dan implementasi yang konsisten, mimpi Indonesia menjadi negara maju dan sejahtera bisa segera terwujud.


















