Kontrak Kerja Sama Strategis: Percepatan Quick Win Presiden Prabowo
Jakarta – Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI) baru saja menorehkan langkah penting dalam mewujudkan visi Presiden Prabowo Subianto. Menteri P2MI, Mukhtarudin, secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan tiga gubernur sekaligus. Ini adalah upaya percepatan program Quick Win yang menjadi prioritas utama pemerintah.
Penandatanganan bersejarah ini berlangsung di Kantor KemenP2MI, Jakarta, pada Selasa (2/12). Tiga pemimpin daerah yang turut serta adalah Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos, dan Gubernur Sulawesi Tenggara Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka. Pertemuan penting ini juga didampingi oleh Sekretaris Jenderal KemenP2MI, Komjen Pol (Purn) Dwi Dwiyono.
Sinergi Pusat-Daerah: Kunci Menekan Angka Pengangguran
Mukhtarudin menegaskan bahwa kerja sama ini bukan sekadar formalitas, melainkan langkah strategis untuk menyatukan visi. Ini adalah upaya kolektif untuk memperkuat sinergi pusat-daerah, mewujudkan janji utama Presiden Prabowo. Tujuannya jelas: menyediakan lapangan pekerjaan berkualitas di luar negeri demi menekan angka pengangguran dan kemiskinan.
Ada dua arahan utama yang ditekankan oleh Presiden, menurut Mukhtarudin. Pertama, perlindungan menyeluruh bagi pekerja migran, mulai dari sebelum keberangkatan, selama penempatan, hingga mereka kembali ke tanah air. Kedua, perubahan paradigma penempatan tenaga kerja, dari yang semula didominasi oleh pekerja berketerampilan rendah (low skill) menjadi pekerja berketerampilan menengah dan tinggi (middle dan high skill).
Indonesia di Puncak Bonus Demografi: Peluang Emas di Kancah Global
Indonesia kini tengah berada di ambang puncak bonus demografi yang diperkirakan terjadi pada tahun 2030. Ini berarti populasi usia produktif di Indonesia akan sangat melimpah, siap untuk berkontribusi pada pembangunan. Di sisi lain, banyak negara maju justru menghadapi fenomena aging population atau penuaan populasi, di mana jumlah penduduk usia produktif mereka semakin berkurang.
Kondisi ini menciptakan peluang emas yang sangat besar bagi tenaga kerja Indonesia. Mukhtarudin menjelaskan bahwa ada kebutuhan global yang masif untuk tenaga kerja berkualitas di berbagai sektor. Ini adalah momentum bagi Indonesia untuk mengisi kekosongan tersebut dengan SDM yang kompeten.
Target Ambisius: 500 Ribu Pekerja Migran Berkualitas pada 2026
Fakta menariknya, saat ini saja sudah ada sekitar 350 ribu lowongan resmi setiap tahun di berbagai negara. Namun, penyerapan tenaga kerja Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor krusial, terutama terkait kompetensi dan kemampuan berbahasa asing.
Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan target yang sangat ambisius: pada tahun 2026, Indonesia harus berhasil menempatkan 500 ribu pekerja migran berkualitas di luar negeri. Ini bukan sekadar angka, melainkan Quick Win pemerintah yang menunjukkan komitmen serius untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pekerja migran Indonesia. Target ini akan menjadi tolok ukur keberhasilan program.
Strategi Jitu: Pelatihan Vokasi Intensif dan "Kelas Migran"
Untuk mencapai target monumental tersebut, KemenP2MI telah menyiapkan strategi yang komprehensif. Salah satunya adalah program pelatihan vokasi intensif yang akan diselenggarakan secara masif di berbagai daerah. Selain itu, akan dibuka juga "Kelas Migran" di tiga provinsi yang terlibat dalam MoU ini: Maluku, Maluku Utara, dan Sulawesi Tenggara.
Dari total target 500 ribu pekerja migran, 300 ribu kuota akan diprioritaskan untuk lulusan SMK. Sementara itu, 200 ribu kuota sisanya akan dialokasikan untuk masyarakat umum yang memiliki potensi dan minat. Ini menunjukkan fokus pemerintah pada peningkatan kualitas pendidikan kejuruan dan pemberdayaan masyarakat luas secara merata.
Kolaborasi Lintas Sektor: Memastikan "Link and Match"
Mukhtarudin juga mengungkapkan bahwa KemenP2MI telah menjalin MoU dengan beberapa kementerian dan lembaga terkait lainnya. Tujuannya adalah untuk menciptakan "link and match" yang sempurna antara program pelatihan dengan kebutuhan penempatan di luar negeri. Ini memastikan bahwa keterampilan yang diajarkan relevan dengan permintaan pasar kerja global.
"Kami mohon dukungan penuh dari pemerintah daerah," tutur Mukhtarudin. "Nantinya, kami akan melakukan profiling data calon pekerja migran secara detail. Dengan begitu, urusan pekerja migran ini benar-benar menjadi agenda bersama yang terintegrasi dari pusat hingga daerah."
Respon Positif dari Para Gubernur: Solusi Nyata untuk Daerah
Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, menyambut baik program ini dengan antusiasme tinggi. Baginya, inisiatif ini adalah solusi konkret untuk mengatasi tingginya angka pengangguran di daerahnya. Ia melihat program ini sebagai jalur resmi, aman, dan terlindungi bagi masyarakat yang ingin mencari nafkah di luar negeri.
"Dengan skill yang mumpuni, mereka bisa mengisi kekosongan tenaga kerja berkualitas di negara lain," ujar Sherly, optimis. Ini adalah kesempatan emas bagi warga Maluku Utara untuk meningkatkan taraf hidup dan berkontribusi pada ekonomi daerah.
Senada dengan itu, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa juga menilai program KemenP2MI sangat selaras dengan visi pembangunan daerahnya. Terutama dalam upaya mengurangi kemiskinan dan pengangguran. Ini menunjukkan adanya keselarasan antara program nasional dan kebutuhan lokal.
"Kami menyambut sukacita kerja sama ini," ungkap Hendrik. Ia bahkan menambahkan bahwa beberapa hari sebelumnya, pihaknya telah meresmikan Pos Perlindungan Pekerja Migran Indonesia di Maluku. "Tidak ada cara lain bagi pemerintah daerah dan pusat selain berkolaborasi dan bersinergi," tegasnya, menekankan pentingnya kerja sama.
Sementara itu, Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, menegaskan komitmennya. Dengan adanya MoU ini, pihaknya akan segera memberikan pelatihan intensif kepada calon pekerja migran asal Bumi Anoa. Tujuannya agar mereka siap bekerja di luar negeri.
"Kami tentu akan siapkan pelatihan untuk menyiapkan keterampilan, menguasai bahasa, dan kompetensi calon pekerja migran di Sultra agar siap ditempatkan di luar negeri," kata Andi. Ini adalah janji konkret untuk meningkatkan daya saing SDM Sulawesi Tenggara di pasar global.
Langkah Nyata Setelah MoU: Menuju Realisasi Cepat
Usai penandatanganan MoU, keempat pimpinan daerah dan KemenP2MI menyatakan komitmen bersama. Mereka sepakat untuk segera merealisasikan program pelatihan vokasi, pembukaan Kelas Migran, dan penempatan pekerja berkualitas tinggi. Ini akan dimulai dari Provinsi Maluku, Maluku Utara, dan Sulawesi Tenggara dalam waktu dekat.
Mukhtarudin menutup pertemuan dengan optimisme tinggi. "Insya Allah dengan kolaborasi yang solid ini, target 500 ribu pekerja migran berkualitas Presiden Prabowo pada tahun 2026 dapat tercapai," pungkasnya. Ia juga berharap Maluku, Maluku Utara, dan Sulawesi Tenggara akan menjadi penyumbang signifikan dalam pencapaian target nasional ini. Ini adalah babak baru bagi Indonesia dalam menghadapi tantangan global dan memberdayakan sumber daya manusianya.


















