Angka Fantastis: Kerugian Banjir Sumatra Tembus Puluhan Triliun Rupiah
Bencana banjir dan longsor yang melanda Pulau Sumatra sepanjang bulan ini menyisakan duka mendalam dan kerugian yang tak terbayangkan. Pusat Studi Ekonomi dan Hukum (Celios) baru saja merilis estimasi mengejutkan: total kerugian ekonomi akibat bencana ini diperkirakan mencapai angka fantastis Rp68,67 triliun. Angka ini bukan sekadar deretan digit, melainkan cerminan dari kehancuran infrastruktur, hilangnya mata pencarian, dan terganggunya roda ekonomi masyarakat.
Dampak kerugian ini bahkan diprediksi akan memangkas Produk Domestik Bruto (PDB) nasional hingga 0,29 persen. Bayangkan, satu wilayah yang dilanda bencana bisa memberikan efek domino ke seluruh perekonomian negara. Ini menunjukkan betapa krusialnya penanganan bencana dan pencegahan di masa mendatang.
Dari Rumah Hingga Sawah: Rincian Kerugian yang Bikin Geleng-Geleng
Celios tidak asal menghitung. Mereka membeberkan lima jenis kerugian utama yang menjadi dasar estimasi Rp68,67 triliun tersebut. Setiap poinnya menggambarkan betapa parahnya dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat dan lingkungan.
Rumah Hancur, Masa Depan Terancam
Kerugian pertama datang dari kerusakan rumah-rumah warga yang diterjang banjir dan longsor. Celios memperkirakan setiap rumah yang rusak membutuhkan biaya pembangunan kembali sekitar Rp30 juta. Angka ini mungkin terlihat kecil per unit, namun jika dikalikan dengan ribuan rumah yang terdampak, jumlahnya akan sangat besar.
Bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal, ini bukan hanya soal materi. Mereka kehilangan kenangan, rasa aman, dan fondasi untuk membangun kembali kehidupan. Proses pemulihan psikologis dan sosial seringkali jauh lebih berat daripada sekadar memperbaiki bangunan fisik.
Jembatan Putus, Akses Terisolasi
Infrastruktur vital seperti jembatan juga tak luput dari amukan bencana. Celios menghitung biaya pembangunan kembali setiap jembatan yang putus bisa mencapai Rp1 miliar. Jembatan adalah urat nadi perekonomian dan mobilitas masyarakat.
Ketika jembatan putus, akses antarwilayah terputus total, menghambat distribusi logistik, perjalanan warga, bahkan evakuasi darurat. Ini berarti roda ekonomi lokal akan melambat drastis, mengisolasi banyak komunitas dari dunia luar.
Pendapatan Hilang, Dapur Tak Mengepul
Banjir dan longsor juga merenggut pendapatan keluarga yang terdampak. Celios menghitung kerugian ini berdasarkan pendapatan rata-rata harian masing-masing provinsi, dikalikan dengan 20 hari kerja yang hilang. Ini berarti banyak kepala keluarga yang tidak bisa bekerja, tidak bisa mencari nafkah.
Dampak langsungnya adalah kesulitan memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Dapur banyak keluarga terancam tidak mengepul, anak-anak terpaksa putus sekolah, dan utang menumpuk. Ini adalah krisis kemanusiaan yang membutuhkan perhatian serius.
Lahan Pertanian Rusak, Ketahanan Pangan Terancam
Sektor pertanian, khususnya lahan sawah, juga mengalami kerugian besar. Celios memperkirakan kerugian mencapai Rp6.500 per kilogram beras, dengan asumsi setiap hektar lahan dapat menghasilkan 7 ton. Ribuan hektar sawah yang terendam atau tertimbun longsor berarti gagal panen.
Ini bukan hanya kerugian bagi petani, tetapi juga ancaman serius bagi ketahanan pangan regional dan nasional. Pasokan beras berkurang, harga bisa melonjak, dan kesejahteraan petani terpuruk.
Jalan Rusak, Ekonomi Lumpuh
Terakhir, perbaikan jalan yang rusak akibat bencana juga menelan biaya besar. Celios memperkirakan perbaikan setiap 1.000 meter jalan membutuhkan dana sekitar Rp100 juta. Jalan adalah jalur distribusi barang dan jasa.
Ketika jalan rusak parah, transportasi terhambat, biaya logistik membengkak, dan aktivitas ekonomi melambat. Ini memperparah dampak isolasi dan memperpanjang masa pemulihan daerah terdampak.
Bukan Hanya Angka: Dampak Regional yang Menghantam Keras
Kerugian triliunan rupiah ini tidak hanya berdampak pada skala nasional, tetapi juga menghantam keras ekonomi regional. Provinsi Aceh, misalnya, diperkirakan akan mengalami penyusutan ekonomi sekitar 0,88 persen, setara dengan Rp2,04 triliun. Angka ini sangat signifikan bagi perekonomian lokal yang sedang berjuang.
Selain Aceh, Sumatra Utara juga merasakan dampak besar. Sebagai salah satu simpul industri nasional di Sumatra, melemahnya arus barang konsumsi dan kebutuhan industri di sana akan menciptakan efek domino ke provinsi lain. Seluruh rantai pasok terganggu, menyebabkan kerugian yang meluas.
Akar Masalah: Ketika Alam Marah Akibat Ulah Manusia
Celios dengan tegas menyatakan bahwa bencana ekologis ini bukan semata-mata takdir alam, melainkan dipicu oleh alih fungsi lahan yang masif. Deforestasi untuk perkebunan sawit dan aktivitas pertambangan menjadi biang keladi utama. Hutan yang seharusnya berfungsi sebagai penahan air dan tanah kini telah berganti rupa.
Ketika hutan ditebang, daya serap air tanah berkurang drastis, membuat wilayah rentan terhadap banjir saat hujan lebat. Tanah yang gundul juga mudah longsor, mengancam permukiman dan infrastruktur di bawahnya. Ini adalah harga mahal dari pembangunan yang tidak berkelanjutan.
Ironisnya, sumbangan ekonomi dari sektor tambang dan sawit bagi provinsi seperti Aceh seringkali tidak sebanding dengan kerugian akibat bencana yang ditimbulkannya. Keuntungan jangka pendek segelintir pihak harus dibayar mahal oleh penderitaan jutaan orang dan kerusakan lingkungan yang tak ternilai.
Celios Mendesak: Moratorium dan Ekonomi Berkelanjutan Adalah Kunci
Melihat urgensi dan skala bencana ini, Celios mendesak pemerintah untuk segera memberlakukan moratorium izin tambang dan perluasan kebun sawit. Langkah ini dianggap krusial untuk menghentikan kerusakan lingkungan lebih lanjut dan mencegah terulangnya bencana serupa di masa depan. Tanpa tindakan tegas, siklus kehancuran ini akan terus berulang.
Lebih dari itu, Celios menyerukan pergeseran paradigma ekonomi menuju model yang lebih berkelanjutan, atau yang mereka sebut "ekonomi restoratif." Ini berarti pembangunan harus selaras dengan pelestarian lingkungan, bukan mengorbankannya. Investasi harus diarahkan pada sektor-sektor yang ramah lingkungan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Masa Depan Sumatra: Pilihan Ada di Tangan Kita
Bencana di Sumatra ini adalah peringatan keras bagi kita semua. Jika struktur ekonomi tidak diubah dan praktik-praktik eksploitatif terus berlanjut, kerugian ekonomi yang jauh lebih besar akan menanti. Masa depan Sumatra, dengan segala kekayaan alam dan keindahan budayanya, kini berada di persimpangan jalan.
Pilihan ada di tangan kita: apakah kita akan terus menutup mata dan membiarkan bencana ekologis berulang, ataukah kita akan berani mengambil langkah-langkah transformatif menuju pembangunan yang lebih bijaksana dan berkelanjutan? Ini bukan hanya tentang angka triliunan rupiah, tetapi tentang kehidupan, masa depan, dan warisan yang akan kita tinggalkan untuk generasi mendatang.


















