Harga minyak mentah dunia kembali menunjukkan pergerakan, meski tipis, pada perdagangan Senin (22/9). Kenaikan ini bukan tanpa alasan, melainkan dipicu oleh serangkaian ketegangan geopolitik yang memanas di dua kawasan kunci: Eropa dan Timur Tengah.
Situasi global yang tidak menentu ini membuat pasar komoditas energi bergejolak. Investor dan analis pasar mulai khawatir akan potensi gangguan pasokan yang bisa memicu lonjakan harga lebih lanjut di masa mendatang.
Mengapa Harga Minyak Bergerak Naik?
Kenaikan harga minyak mentah Brent sebesar 28 sen atau 0,42 persen menjadi US$66,96 per barel, serta minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS yang naik 20 sen atau sekitar 0,32 persen menjadi US$62,88 per barel, menunjukkan sensitivitas pasar terhadap berita geopolitik. Ini adalah sinyal bahwa pasar sedang mencerna risiko-risiko besar.
Michael McCarthy, CEO platform investasi Moomoo Australia dan Selandia Baru, menjelaskan bahwa laporan akhir pekan lalu tentang ancaman Rusia di perbatasan Polandia menjadi pengingat penting. Risiko terhadap keamanan energi Eropa dari timur laut masih sangat nyata dan berkelanjutan.
Api Geopolitik di Eropa: Ancaman dari Timur
Kawasan Eropa kini menjadi titik panas geopolitik yang signifikan. Pada Sabtu pagi, jet tempur Polandia dan sekutunya terpaksa dikerahkan untuk menjaga keamanan wilayah udara mereka. Ini terjadi setelah Rusia melancarkan serangan udara yang menargetkan Ukraina barat, lokasi yang sangat dekat dengan perbatasan Polandia.
Insiden ini bukan yang pertama. Sehari sebelumnya, tiga jet militer Rusia dilaporkan melanggar wilayah udara NATO Estonia selama 12 menit pada Jumat. Kemudian, pada Minggu, angkatan udara Jerman juga melaporkan adanya pesawat militer Rusia yang memasuki wilayah udara netral di atas Laut Baltik.
Serangkaian pelanggaran ini memicu kekhawatiran serius di kalangan negara-negara NATO. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan dijadwalkan bertemu pada hari ini untuk membahas tuduhan Estonia terkait pelanggaran wilayah udaranya oleh jet tempur Rusia.
Ketegangan ini diperparah dengan situasi di Ukraina. Dalam beberapa pekan terakhir, Ukraina telah meningkatkan serangan pesawat nirawak terhadap infrastruktur energi Rusia, menghantam terminal dan kilang minyak. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump terus mendesak Uni Eropa untuk menghentikan pembelian minyak dan gas dari Rusia, menambah tekanan pada pasokan energi global.
Timur Tengah Bergolak: Pengakuan Palestina dan Reaksi Israel
Tidak hanya Eropa, kawasan Timur Tengah yang merupakan produsen minyak utama dunia juga sedang dilanda gejolak. Empat negara Barat baru-baru ini secara resmi mengakui negara Palestina. Keputusan ini memicu respons keras dari Israel, yang menganggap langkah tersebut sebagai ancaman terhadap keamanannya.
Pengakuan ini menambah keresahan di wilayah yang sudah rentan konflik. Setiap eskalasi di Timur Tengah selalu memiliki potensi besar untuk mengganggu pasokan minyak global, mengingat banyaknya negara produsen minyak yang berada di kawasan tersebut. Pasar minyak sangat sensitif terhadap stabilitas politik di sana.
Faktor Pengerem Kenaikan: Pasokan dan Tarif Dagang
Meskipun ketegangan geopolitik mendorong kenaikan, harga minyak tidak melonjak tajam. Ada beberapa faktor yang meredam laju kenaikan tersebut. Pertama, prospek pasokan minyak yang lebih besar dari beberapa negara produsen.
Beberapa analis memperkirakan bahwa negara-negara anggota OPEC+ mungkin akan meningkatkan produksi atau ada peningkatan pasokan dari negara non-OPEC. Hal ini bisa menyeimbangkan potensi gangguan pasokan akibat konflik.
Kedua, kekhawatiran tentang dampak tarif dagang terhadap permintaan bahan bakar global juga menjadi rem. Jika perang dagang antara negara-negara besar terus berlanjut atau bahkan memburuk, pertumbuhan ekonomi global bisa melambat. Perlambatan ekonomi berarti penurunan permintaan akan bahan bakar, yang pada akhirnya akan menekan harga minyak.
Apa Artinya Bagi Kita? Prospek Harga Minyak ke Depan
Kenaikan harga minyak, sekecil apapun, selalu memiliki implikasi bagi konsumen di seluruh dunia. Biaya transportasi akan meningkat, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi harga barang dan jasa lainnya. Ini bisa memicu inflasi dan membebani daya beli masyarakat.
Dengan ketegangan geopolitik yang masih membayangi, pasar minyak diperkirakan akan tetap volatil. Investor akan terus memantau perkembangan di Eropa dan Timur Tengah dengan seksama. Setiap berita terkait konflik atau kebijakan energi dapat memicu pergerakan harga yang signifikan.
Masyarakat dan pelaku bisnis perlu bersiap menghadapi potensi fluktuasi harga minyak di masa depan. Memahami faktor-faktor pendorong kenaikan dan penurunan harga akan membantu dalam membuat keputusan yang lebih bijak, baik untuk keuangan pribadi maupun strategi bisnis.


















