Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman baru-baru ini membuat gebrakan penting, mengajak Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) untuk menjadi garda terdepan dalam mengawal program hilirisasi pertanian. Ajakan ini disampaikan dalam acara Rembuk Utama dan Expo KTNA 2025 yang meriah, dihadiri lebih dari 2.000 peserta dari berbagai pelosok negeri. Ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan penanda dimulainya era baru pertanian Indonesia.
Mengapa Hilirisasi Pertanian Jadi Kunci?
Hilirisasi pertanian menjadi salah satu dari empat program prioritas utama Presiden Prabowo Subianto yang baru menjabat. Bersama dengan swasembada pangan, penyediaan pangan bergizi, serta pengembangan biofuel, hilirisasi diharapkan mampu membawa sektor pertanian ke level yang lebih tinggi. Transformasi dari hulu hingga hilir ini digadang-gadang akan menjadi mesin penggerak ekonomi nasional, sekaligus fondasi kuat menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Mentan Amran menjelaskan, hilirisasi bukan hanya sekadar jargon, melainkan strategi konkret untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian. Bayangkan saja, jika selama ini kita hanya menjual bahan mentah, dengan hilirisasi, produk olahan akan memiliki harga jual berkali-kali lipat. Ini akan berdampak langsung pada kesejahteraan petani dan nelayan.
Investasi Fantastis Rp371 Triliun untuk Petani
Pemerintah tidak main-main dalam mewujudkan visi ini. Mentan Amran mengungkapkan, investasi sebesar Rp371 triliun telah disiapkan untuk program hilirisasi. Sebagai tahap awal, dana Rp9,9 triliun akan digelontorkan untuk pengadaan bibit komoditas strategis.
Bibit-bibit ini meliputi tebu, kakao, kelapa, kopi, mente, lada, dan pala, yang semuanya akan diberikan secara gratis kepada petani. Mentan Amran berharap besar pada peran KTNA untuk mengawal penyaluran dan pemanfaatan bantuan ini agar program berjalan optimal dan tepat sasaran. Ini adalah kesempatan emas bagi petani untuk naik kelas.
Potensi Komoditas Lokal yang Bikin Melongo
Amran Sulaiman memberikan contoh nyata potensi kelapa yang selama ini mungkin kurang tergarap maksimal. Saat ini, nilai ekspor kelapa Indonesia sudah mencapai Rp24 triliun, angka yang cukup fantastis. Namun, dengan pengolahan lebih lanjut menjadi produk turunan seperti minyak kelapa murni (VCO) atau santan instan, nilai tambah komoditas ini bisa melonjak jauh lebih tinggi.
Potensi serupa juga dimiliki oleh kakao, kopi, dan pala. Jika selama ini sebagian besar diekspor dalam bentuk biji atau bahan mentah, bayangkan jika diolah menjadi cokelat premium, kopi siap saji, atau ekstrak pala berkualitas tinggi langsung di dalam negeri. Ini akan membuka lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan petani, dan memperkuat industri pengolahan lokal.
Capaian Gemilang Sektor Pertanian di Era Prabowo
Selain membahas masa depan hilirisasi, Mentan Amran juga memaparkan capaian membanggakan sektor pertanian nasional selama 11 bulan pemerintahan Presiden Prabowo. Data menunjukkan produksi beras telah meningkat signifikan, mencapai 31 juta ton hingga Oktober 2025. Angka ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam menjaga ketersediaan pangan.
Lebih lanjut, stok beras nasional kini mencapai 4,2 juta ton, sebuah rekor tertinggi dalam sejarah Indonesia. Kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga mencatat angka impresif sebesar 10,52 persen, menjadikannya yang terbesar sepanjang sejarah. Ini membuktikan bahwa pertanian adalah tulang punggung ekonomi yang tak tergantikan.
Bahkan, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) turut mengakui keberhasilan Indonesia. Mereka mencatat bahwa Indonesia menjadi negara dengan peningkatan produksi pangan terbesar kedua di dunia, hanya kalah dari Brasil. "Capaian ini adalah buah dari kerja keras petani, KTNA, dan seluruh pemangku kepentingan," ujar Amran, seraya mengingatkan bahwa tantangan ke depan tetap harus diantisipasi dengan bijak.
Kebijakan Berani Pemerintah: Stop Impor Demi Petani
Pemerintah juga menunjukkan keberpihakan yang kuat terhadap petani melalui kebijakan strategis. Salah satunya adalah penghentian impor etanol dan singkong, selama kebutuhan domestik dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Langkah ini adalah bentuk nyata dukungan Presiden Prabowo untuk melindungi dan memberdayakan petani lokal.
Kebijakan ini memastikan bahwa pasar domestik akan diprioritaskan untuk produk-produk petani Indonesia, sehingga mereka tidak perlu bersaing dengan produk impor. Ini adalah angin segar bagi petani singkong dan tebu, memberikan kepastian pasar dan harga yang lebih stabil. Petani kini bisa bernapas lega dan fokus pada peningkatan kualitas serta kuantitas produksi.
Peran Krusial KTNA: Garda Terdepan Transformasi
Di akhir sambutannya, Mentan Amran kembali menegaskan betapa pentingnya peran KTNA sebagai garda terdepan dalam transformasi pertanian. Organisasi ini memiliki jaringan luas dan pemahaman mendalam tentang kondisi petani di lapangan, menjadikannya mitra strategis pemerintah. "Pertanian harus menjadi episentrum ekonomi baru Indonesia," tegasnya.
Amran optimis, dengan kerja keras, kolaborasi yang erat, dan peran aktif KTNA, mimpi swasembada pangan dan hilirisasi pertanian bisa terwujud lebih cepat dari yang dibayangkan. KTNA diharapkan tidak hanya mengawal program, tetapi juga menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan petani, memastikan setiap kebijakan tepat sasaran.
Tiga Kesepakatan Penting dari Rembuk KTNA 2025
Ketua Umum KTNA Nasional, Yadi Sofyan Noor, menyambut baik ajakan Mentan Amran dan menyampaikan hasil rembuk yang menghasilkan tiga kesepakatan penting. Pertama, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai dasar pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Petani modern harus melek teknologi dan inovasi.
Kedua, percepatan swasembada pangan, khususnya beras, yang menjadi komoditas strategis nasional. KTNA berkomitmen penuh untuk mendukung target ini. Ketiga, penguatan akses pupuk yang lebih sederhana dan merata melalui kerja sama dengan Pupuk Indonesia, memastikan petani tidak lagi kesulitan mendapatkan pupuk yang dibutuhkan.
Menurut Yadi Sofyan Noor, tema Rembuk KTNA 2025 yang mengangkat transformasi teknologi pertanian adalah bukti keseriusan KTNA dalam mendukung kebijakan pemerintah. "Produksi kita on track. Dukungan Presiden terhadap petani dan nelayan memberi manfaat besar bagi sektor pertanian," ucapnya penuh semangat.
Melihat Lebih Dekat Rembuk Utama dan Expo KTNA
Rembuk Utama dan Expo KTNA ke-54 ini diselenggarakan di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, sebuah lokasi yang strategis dan penuh potensi. Acara ini bukan hanya menjadi wadah pertemuan bagi ribuan petani dan nelayan dari 27 provinsi dan 71 kabupaten/kota, tetapi juga menjadi ajang pameran inovasi.
Berbagai teknologi pertanian terbaru, inovasi produk lokal hasil olahan petani, hingga UMKM berbasis hasil pertanian turut dipamerkan. Ini adalah kesempatan bagi petani untuk belajar, berbagi pengalaman, dan menjalin jejaring. Expo ini menjadi bukti nyata bahwa sektor pertanian Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk terus berkembang dan menjadi kekuatan ekonomi yang diperhitungkan.


















