Jakarta—Suasana Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Financial Forum 2025 mendadak riuh dengan kelakar Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Dengan senyum khasnya, Purbaya menyindir anggapan lama yang menyebut kehadirannya di Kabinet Merah Putih bisa membawa "cilaka" bagi perekonomian. Namun, kenyataannya kini justru berbanding terbalik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat tajam.
"Katanya dulu kalau Purbaya menterinya, ‘cilaka’. Sekarang IHSG sudah 8.600 tuh. Lumayan, kan?" sesumbar Purbaya, disambut tawa hadirin. Pernyataan ini bukan sekadar gurauan, melainkan cerminan optimisme tinggi terhadap arah kebijakan ekonomi yang sedang ia kemudikan. Ia bahkan yakin, angka itu akan terus menanjak.
Dulu Dibilang ‘Cilaka’, Kini IHSG Meroket
Purbaya tidak hanya berkelakar, ia juga membeberkan alasannya di balik keyakinan tersebut. Menurutnya, pemerintah saat ini sudah sangat memahami "penyakit" ekonomi Indonesia. Dengan kerangka kerja baru, koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI) diharapkan bisa berjalan jauh lebih baik. Ini adalah kunci utama untuk menjaga momentum positif pasar.
Lonjakan IHSG hingga 8.600 tentu bukan angka main-main. Angka ini mencerminkan kepercayaan investor yang meningkat signifikan terhadap prospek ekonomi Indonesia. Bagi banyak pihak, ini adalah sinyal positif bahwa kebijakan yang diambil pemerintah mulai membuahkan hasil nyata di pasar modal.
Bukan Sekadar Kelakar: Jurus Jitu Menkeu Purbaya
Optimisme Purbaya bukan tanpa dasar. Ia mencontohkan bagaimana pasar merespons positif langkah-langkah strategis yang ia ambil sejak dilantik sebagai Menteri Keuangan pada 8 September 2025. Salah satu gebrakan awalnya yang paling mencolok adalah pemindahan dana sebesar Rp200 triliun dari Bank Indonesia ke perbankan nasional. Langkah ini terbukti efektif menyuntikkan likuiditas ke sistem keuangan.
Keputusan berani ini bertujuan untuk memompa semangat perekonomian Indonesia yang sempat lesu. Dengan dana segar yang beredar di perbankan, diharapkan roda bisnis dan investasi dapat bergerak lebih cepat. Pasar pun sontak bereaksi positif, menunjukkan bahwa langkah ini tepat sasaran.
Mengapa Rp200 Triliun Begitu Penting?
Pemindahan dana sebesar Rp200 triliun ini adalah langkah strategis untuk meningkatkan likuiditas di pasar. Ketika bank memiliki lebih banyak dana, mereka cenderung lebih mudah menyalurkan kredit kepada masyarakat dan pelaku usaha. Ini secara langsung dapat mendorong konsumsi dan investasi, dua pilar penting pertumbuhan ekonomi.
Tak berhenti di situ, Purbaya bahkan memutuskan untuk menambah suntikan dana sebesar Rp76 triliun ke sejumlah bank. Penambahan ini dilakukan demi menjaga laju base money (M0) di masyarakat agar tetap stabil dan mendukung pertumbuhan. Kebijakan ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menjaga ketersediaan uang beredar yang cukup untuk menggerakkan ekonomi.
Revolusi Sinergi: Peran Baru Bank Indonesia dan RUU PPSK
Selain kebijakan likuiditas, Purbaya juga menyoroti pentingnya Revisi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (RUU PPSK). Ia menyambut baik revisi ini karena dinilai mampu mempererat sinergi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia. Ini adalah langkah fundamental untuk menciptakan kebijakan ekonomi yang lebih terpadu.
Sebelumnya, peran bank sentral seringkali hanya berfokus pada menjaga nilai tukar dan stabilitas harga. Namun, dengan adanya RUU PPSK, Bank Indonesia diharapkan juga ikut berperan aktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Perubahan paradigma ini sangat krusial untuk memastikan bahwa kebijakan moneter dan fiskal berjalan seiringan.
Melepas Belenggu Koordinasi KSSK
Sebagai Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Purbaya mengaku sempat menghadapi tantangan dalam koordinasi. Ia menceritakan bagaimana diskusi di KSSK seringkali berkutat pada koridor masing-masing lembaga. Meskipun Kementerian Keuangan memimpin KSSK, Purbaya merasa tidak bisa berbuat banyak untuk mendorong sinergi yang lebih dalam.
"Kalau kemarin-kemarin saya diskusi di KSSK, mereka (BI) akan bilang, ‘Itu daerah kami, jangan masuk daerah kami’," kenang Purbaya. Namun, dengan kerangka baru yang dibawa RUU PPSK, batasan-batasan itu diharapkan sirna. "Kalau sekarang, ya daerah kita juga. Anda kebijakannya beda, pertumbuhan kita bisa susah, itu tanggung jawab Anda juga!" tegasnya.
Masa Depan Ekonomi Indonesia: Optimisme di Balik Sinergi
Purbaya menekankan bahwa untuk mendorong laju ekonomi, pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan fiskal. Dukungan kebijakan moneter yang kuat dari Bank Indonesia sangat diperlukan untuk menggerakkan sektor swasta. Sinergi ini akan menjadi mesin ganda yang mendorong pertumbuhan ekonomi secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Dengan RUU PPSK yang akan segera menjadi undang-undang, Purbaya sangat optimistis terhadap masa depan ekonomi Indonesia. Ia yakin bahwa koordinasi yang lebih baik antara Kemenkeu dan BI akan menciptakan stabilitas sekaligus pertumbuhan yang signifikan. Ini adalah era baru di mana semua pihak bersatu padu demi kemajuan ekonomi bangsa.
Kelakar Purbaya di BEI mungkin terdengar ringan, namun di baliknya tersimpan pesan kuat tentang perubahan dan optimisme. Dari yang "dibilang cilaka" hingga kini IHSG meroket, Menkeu Purbaya menunjukkan bahwa dengan strategi yang tepat dan sinergi yang kuat, Indonesia siap menyongsong pertumbuhan ekonomi yang lebih cerah. Pasar pun seolah mengamini, menunggu gebrakan selanjutnya.


















