Kabar mengejutkan datang dari dunia Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Mantan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (Presidential Communication Office/PCO), Hasan Nasbi, kini resmi menduduki posisi strategis sebagai Komisaris PT Pertamina (Persero). Penunjukan ini sontak menjadi perbincangan hangat, mengingat rekam jejak Hasan yang kerap diwarnai dinamika dan kontroversi.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, mengonfirmasi penunjukan tersebut. Menurut Fadjar, Hasan Nasbi telah ditetapkan sebagai komisaris perusahaan minyak dan gas plat merah itu sejak tanggal 11 September 2024. Keputusan ini didasarkan pada salinan keputusan para pemegang saham perusahaan.
Nama Hasan Nasbi juga sudah terpampang jelas dalam daftar komisaris di situs resmi Pertamina, menegaskan validitas informasi ini. Penunjukan tersebut merujuk pada Keputusan Menteri BUMN dan Direktur Utama PT Danantara Asset Management selaku pemegang saham Pertamina. Ini tertuang dalam SK Nomor SK-247/MBU/09/2024 dan SK.055/DI-DAM/DO/2024 tentang Pengangkatan Anggota Dewan Komisaris PT Pertamina (Persero).
Dari Istana ke BUMN Raksasa
Penunjukan Hasan Nasbi sebagai Komisaris Pertamina terjadi tak lama setelah ia diberhentikan dari jabatannya sebagai Kepala PCO. Ia resmi mengakhiri perannya di lingkungan Istana pada Rabu, 17 September 2024. Posisi yang ditinggalkannya kini diisi oleh Angga Raka Prabowo, dan lembaga yang dipimpinnya pun berganti nama menjadi Badan Komunikasi Pemerintah.
Perjalanan Singkat di PCO
Hasan Nasbi pertama kali diangkat menjadi Kepala Kantor Komunikasi Presiden pada 19 Agustus 2024. Penunjukannya terjadi di penghujung masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dan sempat melanjutkan perannya di era Presiden Prabowo Subianto. Namun, masa jabatannya terbilang singkat dan penuh gejolak.
Pada 21 April 2024, Hasan sempat mengajukan pengunduran diri dari jabatannya. Ia beralasan tidak lagi mampu menangani sejumlah persoalan yang disebutnya berada di luar kendalinya. Pengunduran diri ini memicu spekulasi dan pertanyaan publik mengenai dinamika internal di lingkungan kepresidenan.
Kontroversi yang Mengiringi
Pengunduran diri Hasan Nasbi kala itu terjadi di tengah kritik tajam terhadap gaya komunikasinya. Banyak pihak menilai gaya komunikasinya tidak mencerminkan sikap Presiden Prabowo, terutama setelah tanggapannya terhadap insiden teror kepala babi yang dialami jurnalis dan kantor redaksi Tempo.
Saat itu, Hasan merespons santai dengan berkata, "Sudah dimasak saja." Komentar tersebut menuai kecaman publik karena dinilai tidak menunjukkan empati terhadap ancaman kebebasan pers. Insiden ini bukan hanya sekadar vandalisme, melainkan ancaman serius terhadap pilar demokrasi, yang seharusnya direspons dengan tegas dan bijak oleh pejabat publik.
Meski demikian, Presiden Prabowo Subianto saat itu menolak surat pengunduran dirinya. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan Presiden mengambil keputusan tersebut setelah mempelajari isi surat yang diajukan Hasan. Setelah penolakan tersebut, Hasan kembali bertugas sebagai Kepala PCO hingga akhirnya diberhentikan pada September 2024.
Profil Hasan Nasbi: Jejak Panjang di Dunia Politik dan Survei
Sebelum masuk ke lingkungan Istana, Hasan Nasbi dikenal luas sebagai pendiri lembaga survei terkemuka, Cyrus Network. Lembaga ini kerap menjadi rujukan utama dalam analisis politik nasional, terutama saat momen pemilihan umum dan pilkada. Kiprahnya di dunia survei dan konsultan politik telah membentuk citra dirinya sebagai sosok yang berpengaruh di balik layar.
Sejak dulu, pernyataan-pernyataannya beberapa kali sempat menjadi sorotan publik. Salah satu yang paling diingat adalah ketika ia pernah bertaruh mobil Alphard. Kala itu, Hasan begitu yakin bahwa Anies Baswedan tidak akan maju di Pilpres 2024. Namun, prediksinya meleset, dan Anies Baswedan akhirnya resmi menjadi salah satu kandidat.
Hasan Nasbi adalah lulusan Ilmu Politik dari Universitas Indonesia (UI), sebuah latar belakang yang kuat untuk kariernya di bidang politik dan komunikasi. Setelah menyelesaikan studinya, ia sempat berkarier sebagai wartawan selama setahun, dari tahun 2005 hingga 2006. Pengalaman ini memberinya pemahaman mendalam tentang dunia media dan penyampaian informasi.
Setelah itu, Hasan melanjutkan perjalanannya sebagai peneliti di Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia. Ia mengabdikan dirinya di lembaga tersebut sejak tahun 2006 hingga 2008. Peran ini semakin mengasah kemampuan analisis politiknya dan memperkaya wawasannya tentang dinamika kekuasaan.
Pengalaman sebagai Konsultan Politik
Kiprah Hasan Nasbi di dunia politik praktis semakin terlihat pada Pilkada DKI Jakarta 2012. Kala itu, ia menjadi konsultan politik yang turut mengantarkan pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menuju kursi kepemimpinan Ibu Kota. Perannya di balik kemenangan fenomenal ini semakin melambungkan namanya di kancah politik nasional.
Tak berhenti di situ, Hasan juga menjadi salah satu inisiator organisasi Teman Ahok. Organisasi ini memiliki peran krusial dalam mendorong Ahok maju sebagai calon independen di Pilkada DKI tahun 2017. Meskipun Ahok akhirnya dipinang oleh PDIP Perjuangan, jejak Hasan dalam gerakan akar rumput ini menunjukkan kemampuannya dalam mengorganisir dukungan politik.
Puncaknya pada Pilpres 2024, Hasan Nasbi kembali menunjukkan eksistensinya. Ia masuk dalam jajaran juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran. Peran ini menempatkannya di garis depan komunikasi politik, menyampaikan narasi dan strategi kampanye kepada publik.
Apa Artinya Penunjukan Ini?
Penunjukan Hasan Nasbi sebagai Komisaris Pertamina menimbulkan berbagai pertanyaan dan harapan. Dengan latar belakang yang kaya akan pengalaman politik, komunikasi, dan survei, kehadirannya di jajaran direksi BUMN raksasa ini tentu akan membawa perspektif baru. Namun, tantangan yang dihadapinya juga tidak ringan.
Sebagai Komisaris, Hasan Nasbi akan memiliki tanggung jawab besar dalam mengawasi jalannya perusahaan. Ia diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi kinerja Pertamina, terutama dalam menghadapi dinamika pasar energi global dan tantangan transisi energi. Publik tentu menanti bagaimana Hasan Nasbi akan menjalankan peran barunya ini, dan apakah ia akan mampu membawa Pertamina ke arah yang lebih baik, jauh dari bayang-bayang kontroversi yang kerap mengiringi namanya.


















