banner 728x250

Dulu Tajir Melintir, Kini Gudang Garam Diterpa Badai: Kisah Jatuh Bangun Keluarga Wonowidjojo

dulu tajir melintir kini gudang garam diterpa badai kisah jatuh bangun keluarga wonowidjojo portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Raksasa rokok Indonesia, Gudang Garam, tengah menjadi sorotan publik. Kabar tak sedap mengenai pemutusan hubungan kerja (PHK) massal karyawan santer beredar, mengguncang fondasi perusahaan yang selama ini dikenal kokoh. Bisnis sigaret milik keluarga Wonowidjojo, yang kini dinakhodai oleh Susilo Wonowidjojo, seolah sedang diuji.

Padahal, nama Gudang Garam pernah begitu berkilau di kancah perekonomian Tanah Air. Keuntungan fantastis dari bisnis rokok ini bahkan mengantarkan Susilo Wonowidjojo dan keluarganya menduduki peringkat ke-4 orang terkaya di Indonesia pada tahun 2019 versi Forbes. Kala itu, kekayaan mereka ditaksir mencapai angka fantastis US$6,6 miliar, atau setara dengan sekitar Rp108 triliun.

banner 325x300

Kekayaan Merosot, Posisi Terlempar Jauh

Namun, roda nasib memang berputar. Memasuki tahun 2024, posisi Susilo dan keluarga terlempar jauh ke peringkat 23. Penurunan drastis ini seiring dengan merosotnya kekayaan mereka yang kini ditaksir "hanya" sebesar US$2,9 miliar, atau sekitar Rp179 triliun. Sebuah penurunan yang cukup signifikan dan menjadi pertanyaan besar bagi banyak pihak.

Lantas, siapa sebenarnya sosok Susilo Wonowidjojo yang kini memegang kendali atas kerajaan bisnis rokok ini? Lahir pada 18 November 1956, Susilo adalah anak ketiga dari Surya Wonowidjojo, sang pendiri Gudang Garam. Ia adalah representasi generasi kedua yang mewarisi dan melanjutkan visi besar sang ayah.

Menariknya, meski kini masuk jajaran orang terkaya di Indonesia, Susilo ternyata tidak menamatkan bangku SMA. Ia memilih jalan yang berbeda, langsung terjun membantu bisnis sang ayah di perusahaan. Keputusan ini membawanya pada pembelajaran langsung yang tak ternilai harganya.

Selama bekerja, Susilo tak hanya sekadar hadir. Ia menyelami setiap seluk-beluk industri rokok, mulai dari proses pengadaan bahan baku, pengelolaan perasa, manajemen persediaan, hingga detail produksi. Pengalaman lapangan ini membentuknya menjadi seorang pemimpin yang memahami bisnis dari hulu ke hilir.

Dari Direktur hingga Presiden Direktur

Perjalanan kariernya di Gudang Garam dimulai dengan menjabat sebagai Direktur Perseroan sejak tahun 1976. Dedikasi dan pemahamannya yang mendalam terhadap bisnis kemudian membawanya naik pangkat menjadi Wakil Presiden Direktur pada tahun 1990. Ini adalah bukti nyata dari kemampuannya dalam mengelola operasional perusahaan.

Pengalaman panjang selama lima dekade menjalankan bisnis keluarga akhirnya mengantarkannya ke puncak pimpinan perusahaan. Sejak Juni 2009, Susilo resmi menjabat sebagai Presiden Direktur Gudang Garam, menggantikan sang kakak sulung, Rachman Halim. Di bawah kepemimpinannya, Gudang Garam terus berinovasi dan beradaptasi.

Tak hanya itu, peran keluarga Wonowidjojo dalam perusahaan ini juga sangat kental. Saudara perempuannya, Juni Setiawati Wonowidjojo, kini menjabat sebagai Presiden Komisaris Gudang Garam, menunjukkan kolaborasi erat dalam mengelola bisnis keluarga. Susilo juga memegang posisi penting lainnya.

Ia menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Surya Madistrindo, anak usaha Gudang Garam yang bertanggung jawab sebagai distributor utama produk-produk sigaret induknya. Tak berhenti di situ, ia juga menduduki jabatan komisaris di PT Surya Dhoho Investama (SDHI), perusahaan yang membangun dan mengelola Bandar Udara Dhoho di Kediri, Jawa Timur. Sebuah diversifikasi bisnis yang cukup ambisius.

Selain itu, Susilo juga merupakan Presiden Direktur PT Suryaduta Investama, sebuah perusahaan investasi sekaligus induk (holding company) yang menjadi pemegang saham pengendali PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dengan kepemilikan sebesar 69,29 persen. Di Suryaduta Investama sendiri, Susilo menguasai 19,85 persen saham perusahaan.

Kisah Inspiratif Gudang Garam: Dari Rumahan Menjadi Raksasa Dunia

Tak lengkap rasanya menceritakan perjalanan hidup Susilo tanpa mengulas kisah panjang pembentukan Gudang Garam hingga mencapai kejayaannya saat ini. Sebab, bisnis inilah yang mengangkat nama keluarga Wonowidjojo menjadi salah satu famili paling terkemuka dan berpengaruh di Tanah Air.

Gudang Garam dibangun pada tahun 1958 di Kediri oleh Surya Wonowidjojo. Dari sebuah kota kecil di Jawa Timur, kiprah pabrik rokok daerah ini perlahan namun pasti menanjak, hingga menjadi produsen sigaret terbesar di Indonesia, bahkan berhasil menembus pasar global.

Pada awalnya, Gudang Garam hanyalah sebuah bisnis rumahan yang sederhana. Rokok yang diproduksi kala itu adalah sigaret kretek klobot (SKL) dan sigaret kretek linting-tangan (SKT), yang dibuat secara manual dengan sentuhan tangan terampil.

Rupanya, kegemaran masyarakat Indonesia akan rokok kretek membuat bisnis Gudang Garam melesat bak roket. Permintaan terus meningkat tajam, hingga pada tahun 1960, mereka mampu membuka pabrik baru di Gurah, sekitar 13 kilometer dari pusat kota Kediri.

Setiap hari, sekitar 200 karyawan Gudang Garam harus pulang pergi Gurah-Kediri menggunakan kereta api, menumpang gerbong khusus pekerja. Biaya transportasi ini sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan, yang kala itu masih berstatus industri rumah tangga. Sebuah komitmen yang luar biasa dari sang pendiri.

Bisnis sigaret terus berkibar dengan pesat. Pada tahun 1968, Gudang Garam membuka dua unit lahan baru. Pada September tahun itu, Surya mendirikan unit produksi bernama Unit I di atas sebidang lahan seluas 1.000 meter persegi. Masih di tahun yang sama, dibangun pula sebuah unit produksi baru yang disebut Unit II.

Pada tahun 1969, Gudang Garam bertransformasi dari industri rumah tangga menjadi sebuah firma. Seluruh unit produksi dipindahkan dari Gurah ke Kediri, menandai langkah serius menuju profesionalisme. Namun, status firma pun rupanya belum cukup menampung kedigdayaan Gudang Garam.

Akhirnya, pada tahun 1971, perusahaan ini naik level menjadi perseroan terbatas (PT). Bisnis keluarga Wonowidjojo semakin cemerlang saat mendapat bantuan fasilitas dari pemerintah berupa Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), yang semakin mendukung perkembangan usaha mereka.

Lalu, pada tahun 1979, Gudang Garam membuat terobosan penting dengan mengembangkan produk Sigaret Kretek Mesin (SKM), yang memungkinkan produksi massal dengan efisiensi lebih tinggi. Kemudian pada tahun 1990, Gudang Garam mencatatkan saham perdana di pasar modal, mengubah statusnya dari bisnis keluarga menjadi Perusahaan Terbuka.

Jenis-jenis rokok baru terus dimunculkan untuk memenuhi selera pasar yang beragam. Sang Raksasa asal Kediri ini memproduksi jenis rokok baru pada tahun 2002, yaitu kretek mild, yang ditandai dengan berdirinya Direktorat Produksi Gempol di Pasuruan, Jawa Timur.

Ragam pilihan rokok, dari yang ‘keras’ hingga ‘ringan’, membuat Gudang Garam bisa masuk ke semua segmen selera konsumen. Pada tahun 2013, perusahaan memperluas daerah produksinya di area yang semula hanya seluas 1.000 meter persegi menjadi 208 hektar, tersebar di Kabupaten Kediri, Kota Kediri, hingga Pasuruan. Sebuah ekspansi yang masif.

Badai Menggoyang Raksasa: Isu PHK dan Tantangan Industri

Namun, sebesar apapun usaha, pasti ada pasang surutnya. Kini, Raja Sigaret asal Kediri itu diterpa isu PHK massal terhadap ratusan karyawan. Sebuah kabar yang tentu saja mengkhawatirkan banyak pihak, terutama para pekerja.

Isu PHK massal ini segera dibantah oleh perseroan. Manajemen menjelaskan bahwa video perpisahan karyawan yang viral di media sosial sebenarnya merupakan proses pelepasan 309 pekerja yang masuk usia pensiun, pensiun dini, serta berakhirnya kontrak kerja sesuai batas waktu yang disepakati.

Hal ini diklaim tidak memberikan dampak terhadap kelangsungan usaha maupun kegiatan operasional perseroan. "Saat ini operasional perseroan berjalan seperti biasa, dari proses produksi hingga distribusi," ujar Direktur & Corporate Secretary Gudang Garam, Heru Budiman, dalam keterangan resmi pada 10 September lalu.

Perseroan juga memastikan selalu memberikan hak karyawan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ini adalah komitmen perusahaan untuk menjaga kesejahteraan pekerjanya.

Namun, di sisi lain, Gudang Garam membenarkan bahwa daya beli industri tembakau tengah lesu. Kondisi ini diperparah dengan tingginya cukai rokok yang terus naik, serta semakin maraknya rokok ilegal yang tidak membayar cukai sehingga harganya jauh lebih murah di pasaran.

"Perseroan akan terus berusaha berinovasi dengan produk-produk yang lebih sesuai dengan kondisi pasar yang ada," tulis manajemen. Ini menunjukkan bahwa Gudang Garam menyadari tantangan yang ada dan siap untuk beradaptasi. Badai memang menggoyang, namun raksasa ini tetap bertekad untuk berdiri kokoh dan terus melangkah maju.

banner 325x300