banner 728x250

Dolar Minggir Dulu! Transaksi Mata Uang Lokal BI Tembus Rekor Fantastis, Rupiah Makin Berjaya?

Tangan memegang uang Rupiah di atas tumpukan uang Dolar AS.
Transaksi mata uang lokal Indonesia melonjak drastis, mencatat rekor tertinggi dan sinyal kemandirian ekonomi yang kuat.
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta, CNN Indonesia – Kabar gembira datang dari Bank Indonesia (BI) yang mencatat lonjakan luar biasa dalam transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT). Angkanya tak main-main, tembus US$16,4 miliar per Agustus 2025! Ini bukan sekadar angka, melainkan sinyal kuat kemandirian ekonomi Indonesia yang semakin kokoh.

Lonjakan ini menandai peningkatan yang sangat tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Agustus 2024, nilai transaksi LCT baru mencapai sekitar US$6,4 miliar. Artinya, dalam kurun waktu satu tahun, terjadi pertumbuhan lebih dari 150 persen yang patut diacungi jempol.

banner 325x300

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengungkapkan optimismenya terkait pencapaian ini. Menurutnya, angka US$16,4 miliar per Agustus 2025 bahkan sudah melampaui total capaian sepanjang tahun 2024 yang hanya US$12,5 miliar. Ini menunjukkan momentum positif yang terus berlanjut.

"Dan yang positif lagi adalah kalau kita lihat dari data LCT, jadi sekarang ini memang LCT akan terus kita dorong, dan data LCT untuk Agustus itu sudah mencapai US$16,4 miliar," ujar Destry dalam Rapat Dewan Gubernur periode September, Rabu (17/9). Dengan sisa empat bulan di tahun 2025, BI yakin nilai transaksi LCT akan terus meroket.

Apa Itu Local Currency Transaction (LCT) dan Mengapa Penting?

Mungkin sebagian dari kita masih bertanya-tanya, apa sebenarnya Local Currency Transaction atau LCT itu? Sederhananya, LCT adalah mekanisme transaksi bilateral antara dua negara yang menggunakan mata uang lokal masing-masing, tanpa perlu melibatkan mata uang pihak ketiga seperti Dolar Amerika Serikat (USD). Ini adalah langkah cerdas untuk efisiensi dan stabilitas.

Misalnya, jika Indonesia berdagang dengan Malaysia, transaksi bisa langsung menggunakan Rupiah dan Ringgit, bukan lagi Rupiah ke Dolar lalu Dolar ke Ringgit. Proses ini memangkas langkah yang tidak perlu dan mengurangi risiko. Ini adalah langkah strategis yang sangat penting bagi stabilitas ekonomi suatu negara.

Pentingnya LCT terletak pada kemampuannya mengurangi ketergantungan terhadap Dolar AS. Dengan semakin banyaknya transaksi yang menggunakan mata uang lokal, risiko fluktuasi nilai tukar Dolar yang seringkali tidak bisa diprediksi dapat diminimalisir. Ini memberikan perlindungan lebih bagi perekonomian domestik dari gejolak eksternal yang tak terduga.

Selain itu, LCT juga berkontribusi pada efisiensi biaya. Pelaku usaha tidak perlu lagi menanggung biaya konversi mata uang ganda, yang pada akhirnya dapat menekan harga barang dan jasa. Ini tentu saja menjadi angin segar bagi dunia usaha dan konsumen, membuat harga lebih kompetitif.

Rahasia di Balik Lonjakan Transaksi LCT: Strategi BI yang Jitu

Lonjakan fantastis dalam transaksi LCT ini bukan terjadi begitu saja. Ada strategi dan upaya keras dari Bank Indonesia untuk terus mendorong implementasi kebijakan ini. BI secara aktif menjalin kerja sama dengan berbagai negara mitra untuk memperluas cakupan LCT, menunjukkan komitmen kuat terhadap kemandirian ekonomi.

Destry Damayanti menegaskan bahwa BI akan terus mendorong LCT. Keyakinan ini didasari oleh tren positif yang terlihat, di mana adopsi LCT semakin meluas dan memberikan hasil nyata. Dengan sisa waktu hingga akhir tahun, peluang untuk mencapai angka yang lebih tinggi lagi sangat terbuka lebar.

"Jadi kita masih ada waktu September, Oktober, November, Desember, empat bulan, di mana peluang dari LCT untuk naik itu makin besar, sehingga ini juga akan menyebabkan mata uang yang berada di market ini akan menjadi lebih balance nantinya," jelasnya. Keseimbangan mata uang di pasar ini krusial untuk menjaga stabilitas Rupiah dan kepercayaan investor.

Inisiatif LCT ini merupakan bagian dari upaya BI untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Dengan mengurangi dominasi Dolar AS dalam transaksi internasional, Indonesia menjadi lebih mandiri dan resilient terhadap tekanan ekonomi global. Ini adalah langkah maju menuju kedaulatan ekonomi yang lebih nyata dan berkelanjutan.

Daftar Negara Mitra LCT Indonesia: Dari Asia Hingga Jepang

Indonesia tidak sendirian dalam perjalanan LCT ini. Sejumlah negara telah menjadi mitra strategis dalam implementasi transaksi mata uang lokal. Kerja sama ini menunjukkan adanya kesadaran bersama di antara negara-negara untuk mengurangi dominasi Dolar AS dan memperkuat mata uang masing-masing, menciptakan sistem keuangan yang lebih beragam.

Beberapa negara yang sudah menjalin kerja sama LCT dengan Indonesia antara lain Korea Selatan, Malaysia, dan China. Kemitraan ini mencakup berbagai sektor, mulai dari perdagangan barang dan jasa hingga investasi langsung. Ini membuka peluang pasar baru dan mempererat hubungan ekonomi bilateral.

Yang terbaru dan cukup signifikan adalah kesepakatan Indonesia dengan Jepang. Kedua negara sepakat untuk menggunakan mata uang lokal dalam transaksi kerja sama mereka, secara bertahap mengurangi ketergantungan pada Dolar AS. Ini adalah langkah besar mengingat volume perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Jepang yang sangat substansial.

Perluasan jaringan mitra LCT ini menunjukkan bahwa konsep kemandirian mata uang semakin diterima secara global. Semakin banyak negara yang melihat manfaat jangka panjang dari kebijakan ini, tidak hanya untuk stabilitas ekonomi domestik tetapi juga untuk memperkuat hubungan ekonomi bilateral dan regional.

Dampak Positif LCT bagi Perekonomian Indonesia: Lebih Stabil dan Mandiri

Penerapan dan perluasan LCT membawa banyak dampak positif bagi perekonomian Indonesia. Ini bukan hanya tentang angka-angka besar, tetapi juga tentang fondasi ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan bagi masa depan.

1. Mengurangi Ketergantungan Dolar: Ini adalah manfaat paling fundamental. Dengan berkurangnya ketergantungan pada Dolar AS, Indonesia tidak lagi terlalu rentan terhadap kebijakan moneter The Fed atau gejolak ekonomi di Amerika Serikat. Rupiah menjadi lebih terlindungi dari tekanan eksternal yang seringkali tak terduga.

2. Stabilitas Nilai Tukar Rupiah: Ketika lebih banyak transaksi menggunakan Rupiah, permintaan terhadap mata uang lokal akan meningkat. Hal ini secara alami akan membantu menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, bahkan cenderung menguatkannya dalam jangka panjang. Stabilitas ini sangat penting bagi perencanaan bisnis dan investasi, memberikan kepastian bagi pelaku ekonomi.

3. Efisiensi Biaya Transaksi: Pelaku usaha, baik eksportir maupun importir, tidak perlu lagi mengeluarkan biaya konversi mata uang ganda. Ini berarti biaya operasional dapat ditekan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional dan membuat harga barang impor lebih terjangkau bagi konsumen.

4. Mendorong Perdagangan dan Investasi Bilateral: Dengan proses transaksi yang lebih mudah dan murah, perdagangan dan investasi antara Indonesia dan negara-negara mitra LCT diharapkan akan semakin meningkat. Ini membuka peluang pasar baru dan menarik lebih banyak investasi asing langsung ke Indonesia, menciptakan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi.

5. Meningkatkan Resiliensi Ekonomi: Secara keseluruhan, LCT berkontribusi pada peningkatan resiliensi atau ketahanan ekonomi Indonesia. Dengan fondasi yang lebih kuat dan tidak terlalu bergantung pada satu mata uang dominan, ekonomi kita akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan dan guncangan global di masa depan, menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian.

Tantangan dan Prospek LCT ke Depan: Menuju Ekonomi yang Lebih Kuat

Meskipun menunjukkan tren positif yang luar biasa, perjalanan LCT tentu tidak lepas dari tantangan. Membangun kepercayaan dan meyakinkan lebih banyak negara mitra untuk bergabung dalam skema LCT membutuhkan waktu dan upaya diplomatik yang berkelanjutan. Selain itu, infrastruktur pendukung transaksi lintas batas juga perlu terus ditingkatkan agar lebih efisien dan aman.

Namun, dengan komitmen kuat dari Bank Indonesia dan dukungan dari pemerintah, prospek LCT ke depan sangat cerah. Destry Damayanti dan jajaran BI terus mengawal inisiatif ini dengan keyakinan bahwa LCT adalah salah satu kunci menuju ekonomi Indonesia yang lebih kuat, mandiri, dan berdaulat di kancah global.

Pertumbuhan LCT yang mencapai rekor ini adalah bukti nyata bahwa Indonesia sedang bergerak menuju era baru dalam transaksi internasionalnya. Era di mana Rupiah tidak hanya menjadi kebanggaan di negeri sendiri, tetapi juga memiliki peran yang semakin signifikan di panggung ekonomi global. Jadi, siap-siap saja, Dolar mungkin harus "minggir dulu" lebih sering!

banner 325x300