banner 728x250

Dicopot dari PCO, Hasan Nasbi Langsung Duduki Kursi Komisaris Pertamina: Ada Apa Sebenarnya?

Pria berkacamata dengan baju abu-abu berbicara, duduk di kursi hitam.
Hasan Nasbi resmi ditunjuk sebagai Komisaris PT Pertamina (Persero) setelah dicopot dari Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan.
banner 120x600
banner 468x60

Dunia politik dan korporasi di Indonesia kembali dihebohkan dengan sebuah rotasi jabatan yang cukup mengejutkan. Hasan Nasbi, sosok yang baru saja diberhentikan dari posisinya sebagai Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), kini resmi ditunjuk sebagai Komisaris PT Pertamina (Persero). Transisi yang begitu cepat ini tentu memicu banyak pertanyaan di kalangan publik.

Perjalanan Singkat dari PCO ke Kursi Komisaris Pertamina

banner 325x300

Kabar penunjukan Hasan Nasbi sebagai Komisaris Pertamina mulai terkuak pada Sabtu, 20 September 2025. Namanya secara resmi terpampang dalam daftar komisaris di situs web perusahaan minyak dan gas milik negara tersebut. Penunjukan ini menandai babak baru dalam karier Hasan Nasbi yang dikenal dengan kiprahnya di dunia komunikasi politik.

Keputusan pengangkatan Hasan Nasbi sebagai Komisaris PT Pertamina (Persero) didasarkan pada Keputusan Menteri BUMN dan Direktur Utama PT Danantara Asset Management selaku pemegang saham. Nomor SK-247/MBU/09/2025 dan Nomor SK.055/DI-DAM/DO/2025 menjadi landasan hukum penetapan ini. Hal ini menunjukkan bahwa proses penunjukan telah melalui prosedur resmi yang berlaku di lingkungan BUMN.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, turut membenarkan informasi penting ini. Ia menegaskan bahwa Hasan Nasbi ditetapkan sebagai Komisaris PT Pertamina (Persero) per tanggal 11 September 2025. Konfirmasi dari pihak Pertamina ini sekaligus mengakhiri spekulasi yang mungkin muncul terkait penunjukan tersebut.

Profil Singkat Hasan Nasbi: Dari Bukit Tinggi hingga UI

Siapa sebenarnya Hasan Nasbi? Pria kelahiran Bukit Tinggi, Sumatera Barat, pada 11 Oktober 1979 ini bukanlah nama baru di kancah publik. Ia merupakan alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, sebuah latar belakang yang memberinya pemahaman mendalam tentang dinamika sosial dan politik.

Sebelum menjabat sebagai Komisaris Pertamina, Hasan Nasbi dikenal luas sebagai Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Republik Indonesia. Posisi ini menempatkannya di garis depan dalam mengelola citra dan pesan-pesan penting dari Istana Negara. Pengalamannya di bidang komunikasi strategis tentu menjadi nilai tambah yang signifikan.

Di jajaran Dewan Komisaris Pertamina, Hasan Nasbi tidak sendiri. Ia akan bergabung dengan nama-nama besar lainnya seperti Mochamad Iriawan, Todotua Pasaribu, Heru Pambudi, Bambang Suswantono, Condro Kirono, Nanik Sudaryati Deyang, dan Raden Adjeng Sondaryani. Kolaborasi para tokoh ini diharapkan dapat membawa Pertamina menuju kinerja yang lebih baik.

Babak PCO: Kontroversi dan Pengunduran Diri yang Ditolak

Penunjukan Hasan Nasbi sebagai Komisaris Pertamina tak bisa dilepaskan dari perjalanan singkatnya di Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO). Ia pertama kali diangkat sebagai Kepala PCO pada 19 Agustus 2024, di penghujung masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, dan sempat melanjutkan perannya di era Presiden Prabowo Subianto. Namun, perjalanannya di PCO diwarnai sejumlah dinamika.

Pada 21 April 2025, Hasan Nasbi mengajukan surat pengunduran diri dari jabatannya. Alasannya cukup menarik: ia merasa tidak lagi mampu menangani sejumlah persoalan yang disebutnya berada di luar kendalinya. Pernyataan ini tentu menimbulkan banyak spekulasi tentang tekanan dan tantangan yang dihadapinya di posisi strategis tersebut.

Pengunduran dirinya ini terjadi di tengah gelombang kritik terhadap gaya komunikasinya yang dinilai kurang mencerminkan sikap Presiden Prabowo. Salah satu insiden yang paling disorot adalah tanggapannya terhadap kasus teror kepala babi kepada jurnalis dan kantor redaksi Tempo. Responsnya kala itu dianggap kurang tepat dan memicu polemik.

Meski demikian, Presiden Prabowo Subianto saat itu menolak surat pengunduran diri yang diajukan Hasan Nasbi. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyatakan bahwa Presiden mengambil keputusan tersebut setelah mempelajari secara seksama isi surat yang diajukan. Penolakan ini menunjukkan adanya kepercayaan dari Presiden terhadap Hasan Nasbi pada waktu itu.

Akhir Perjalanan di PCO dan Transformasi Lembaga

Namun, keputusan Presiden Prabowo untuk mempertahankan Hasan Nasbi tidak berlangsung lama. Pada Rabu, 17 September 2025, Hasan Nasbi resmi diberhentikan dari jabatannya sebagai Kepala PCO. Ini berarti, hanya berselang beberapa hari sebelum namanya muncul sebagai Komisaris Pertamina.

Posisinya di PCO kini digantikan oleh Angga Raka Prabowo. Tidak hanya itu, lembaga yang sebelumnya bernama Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) juga mengalami transformasi. Kini, lembaga tersebut berganti nama menjadi Badan Komunikasi Pemerintah, menandakan adanya restrukturisasi dan mungkin perubahan fokus dalam strategi komunikasi pemerintah.

Pergantian nama dan pimpinan ini menunjukkan upaya pemerintah untuk menyegarkan dan mengoptimalkan fungsi komunikasi publik. Dengan Angga Raka Prabowo sebagai kepala dan nama baru, diharapkan Badan Komunikasi Pemerintah dapat menjalankan tugasnya dengan lebih efektif dan responsif terhadap kebutuhan informasi masyarakat.

Mengapa Transisi Ini Penting?

Penunjukan Hasan Nasbi sebagai Komisaris Pertamina setelah dicopot dari PCO bukanlah sekadar rotasi jabatan biasa. Ini mencerminkan dinamika karier di lingkaran kekuasaan yang seringkali penuh kejutan dan peluang tak terduga. Dari posisi yang sangat politis dan berhadapan langsung dengan publik, kini ia beralih ke peran pengawasan strategis di salah satu BUMN terbesar di Indonesia.

Sebagai komisaris, Hasan Nasbi akan memiliki tanggung jawab besar dalam mengawasi jalannya operasional Pertamina, memastikan tata kelola perusahaan yang baik, dan memberikan masukan strategis kepada direksi. Pengalamannya di bidang komunikasi dan politik diharapkan dapat memberikan perspektif yang berharga dalam menghadapi tantangan bisnis Pertamina yang kompleks.

Transisi ini juga menunjukkan bahwa figur-figur yang pernah berkiprah di pemerintahan seringkali memiliki jalur karier yang terbuka lebar di sektor BUMN. Hal ini bisa dilihat sebagai bentuk apresiasi terhadap pengalaman dan jaringan yang dimiliki, sekaligus upaya untuk menempatkan individu-individu berpengalaman di posisi-posisi kunci dalam perusahaan negara.

Dengan latar belakang yang unik dan perjalanan karier yang penuh warna, kehadiran Hasan Nasbi di jajaran komisaris Pertamina patut dinantikan. Bagaimana ia akan membawa pengalamannya dari dunia komunikasi politik ke ranah korporasi energi? Hanya waktu yang akan menjawab.

banner 325x300