banner 728x250

Bukan Cuma Jargon! Bos PLN EPI Ungkap Kenapa Anak Muda Jadi Kunci Utama Transisi Energi Indonesia

Seorang perempuan berhijab mengenakan rompi biru menanam pohon di lingkungan hijau yang rindang.
Generasi muda memiliki peran krusial dalam transisi energi baru terbarukan Indonesia yang sedang berjalan pesat.
banner 120x600
banner 468x60

Indonesia sedang bergerak cepat menuju era energi baru terbarukan (EBT). Ini bukan sekadar wacana atau tren sesaat, melainkan sebuah keharusan yang akan membentuk masa depan bangsa. Direktur Utama PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), Rakhmad Dewanto, menegaskan bahwa generasi muda punya peran krusial dalam menyongsong perubahan besar ini, sekaligus menjaga ketahanan energi nasional.

Pernyataan penting ini disampaikan Rakhmad dalam acara bergengsi CNN Indonesia Leadership Forum. Acara yang bertajuk "Responding to Challenges: Building Young Leaders for Indonesia’s Future" tersebut digelar di Jakarta pada Selasa (9/9) lalu. Menurut Rakhmad, era ketergantungan pada energi fosil akan segera berakhir, digantikan dengan sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

banner 325x300

Transisi Energi: Bukan Lagi Pilihan, Tapi Keharusan

Pergeseran paradigma energi ini bukan tanpa alasan. Dinamika energi global menuntut setiap negara untuk tidak hanya fokus pada isu perubahan iklim yang mendesak, tetapi juga memperkuat ketahanan energi mereka sendiri. Artinya, setiap negara harus mampu mengamankan pasokan energinya tanpa terlalu bergantung pada pihak lain.

"Sekarang semua negara berlomba-lomba mengamankan pasokan energinya masing-masing," kata Rakhmad. Ia menambahkan, kemandirian energi yang sering digaungkan oleh Presiden kita bukan lagi sekadar jargon manis, melainkan sebuah realita yang harus diwujudkan. Ini adalah tantangan sekaligus peluang besar bagi Indonesia.

Ketahanan Energi Nasional: Tantangan Global, Peluang Lokal

Melihat lanskap energi dunia, proyeksi menunjukkan bahwa permintaan minyak diperkirakan akan mencapai puncaknya pada akhir tahun 2030-an. Setelah itu, perlahan akan terjadi penurunan signifikan, terutama untuk batu bara di banyak negara. Ini menandakan bahwa dunia sedang bergeser, dan Indonesia harus siap.

Dinamika Energi Global yang Wajib Kamu Pahami

Meski demikian, Rakhmad menjelaskan bahwa di Indonesia, penggunaan batu bara masih relatif stabil. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan energi yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan populasi. Selain itu, optimasi biaya pokok pembangkitan dari sisi daya beli masyarakat juga menjadi pertimbangan penting.

Berbeda dengan minyak dan batu bara, permintaan terhadap gas justru diperkirakan masih akan tumbuh hingga tahun 2050. Ini termasuk melalui penerapan teknologi canggih seperti carbon capture dan cofiring hydrogen, yang memungkinkan penggunaan gas alam lebih ramah lingkungan. Artinya, gas masih memiliki peran strategis dalam transisi ini.

Dari Fosil ke Biomassa: Potensi Tersembunyi Indonesia

Di tengah pergeseran ini, ada satu sumber energi terbarukan yang sangat menjanjikan bagi Indonesia: biomassa. Sebagai energi carbon netral, biomassa merupakan salah satu alternatif paling potensial untuk mendukung transisi energi yang berkelanjutan. Potensinya sangat besar, dan Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah untuk ini.

Biomassa: Solusi Ramah Lingkungan yang Menjanjikan

Saat ini, PLN EPI mengelola volume energi primer yang masif untuk memastikan pasokan listrik nasional. Mereka mengelola hampir 100 juta ton batu bara, sekitar 1.400 juta kaki kubik gas dan gas alam cair (LNG) per hari, serta 4 juta kiloliter BBM. Namun, fokus juga diarahkan pada pengembangan bioenergi berbasis biomassa dengan target ambisius 3 juta ton biomassa.

Upaya besar ini dilakukan guna memastikan rantai pasok energi untuk kelistrikan tetap efisien. Terutama di tengah pertumbuhan ekonomi yang pesat dan kenaikan populasi yang terus terjadi. Bayangkan, listrik harus selalu tersedia untuk mendukung aktivitas jutaan orang setiap harinya.

Rakhmad mengungkapkan bahwa potensi biomassa di Indonesia sangat luar biasa. "Biomassa dari limbah pertanian, limbah industri dan hutan tanaman energi seperti sekam padi, jerami, cangkang sawit, serbuk gergaji potensinya di Indonesia mencapai 130 juta ton/tahun," katanya. Angka ini menunjukkan betapa besar peluang yang bisa dimanfaatkan.

Untuk mempercepat pengembangan ekosistem biomassa, PLN EPI tidak bekerja sendiri. Mereka menjalin kerja sama erat dengan berbagai mitra, baik untuk memenuhi kebutuhan PLN maupun untuk pasar ekspor. Selain itu, perusahaan juga mengembangkan digitalisasi melalui aplikasi biomassa. Tujuannya? Membangun ekosistem biomassa yang efisien dan terintegrasi dari hulu ke hilir.

RUPTL 2025-2034: Peta Jalan Menuju Energi Bersih

Visi PLN untuk masa depan energi Indonesia sangat jelas. Rakhmad mengungkapkan bahwa dalam Roadmap Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034, targetnya adalah 76 persen pembangkit akan berasal dari energi terbarukan (EBT) dalam 10 tahun ke depan. Ini adalah lompatan besar menuju energi yang lebih bersih.

Meski demikian, energi fosil masih akan tetap dimanfaatkan sebagai penyeimbang, terutama gas. Sementara itu, batu bara akan diarahkan untuk pembangkit mulut tambang, yang lebih efisien dan mengurangi biaya transportasi. Ini menunjukkan pendekatan yang realistis dan bertahap dalam transisi energi.

"Ke depan, PLN akan merencanakan lebih banyak wind turbine, solar, geothermal, hydro, dan bioenergi," tutur Rakhmad. Ia menekankan bahwa ini adalah area-area yang sangat bisa dikembangkan oleh generasi muda. Peluang karier dan inovasi di sektor ini sangat terbuka lebar.

Generasi Muda: Motor Penggerak Inovasi Energi

Rakhmad menambahkan, PLN EPI sangat percaya pada potensi generasi muda. Sekitar 40 persen karyawan PLN EPI saat ini adalah generasi muda dengan beragam latar belakang pendidikan dan keahlian. Kondisi ini menjadi modal penting untuk melahirkan inovasi-inovasi brilian berkat ide-ide segar dan keberagaman pemikiran.

Keberagaman Kunci Inovasi di PLN EPI

"Saya percaya dengan keberagaman. Semakin beragam latar belakangnya, semakin kreatif dan berwarna pemikirannya," pungkas Rakhmad. Ia berpesan agar generasi muda tidak takut untuk berinovasi, mengembangkan teknologi baru, dan berusaha menjadi yang paling inovatif di bidangnya masing-masing. Masa depan energi Indonesia ada di tangan mereka.

Acara CNN Indonesia Leadership Forum ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh penting lainnya. Ada Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Rektor Universitas Al Azhar Indonesia Asep Saefuddin, serta Direktur CNN Indonesia Desi Anwar. Diskusi menarik ini dipandu oleh moderator Alfian Rahardjo, memberikan wawasan berharga tentang masa depan kepemimpinan dan energi di Indonesia.

Siap Jadi Pahlawan Energi Masa Depan?

Jadi, apakah kamu siap mengambil peran penting ini? Transisi energi bukan hanya tentang teknologi, tapi juga tentang kepemimpinan, inovasi, dan keberanian. Generasi muda adalah kunci untuk mewujudkan kemandirian energi Indonesia yang berkelanjutan. Ini adalah panggilan untuk bertindak, berinovasi, dan menjadi bagian dari solusi.

banner 325x300