banner 728x250

Bukan Cuma Ganti Menteri! Mari Elka Pangestu Ungkap Masalah Ekonomi RI yang Jauh Lebih Dalam

Sri Mulyani dan Prabowo Subianto bersama saat santap, di tengah isu reshuffle.
Sri Mulyani dan Prabowo Subianto dalam sebuah momen santap, di tengah isu pergantian pucuk pimpinan Kementerian Keuangan.
banner 120x600
banner 468x60

Pergantian pucuk pimpinan Kementerian Keuangan selalu menjadi sorotan tajam, apalagi jika melibatkan nama sekelas Sri Mulyani Indrawati. Pasar keuangan sempat bergejolak, mencerminkan ketidakpastian yang membayangi. Namun, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mari Elka Pangestu, punya pandangan yang jauh lebih mendalam, mengungkap bahwa masalah ekonomi Indonesia bukan sekadar soal pergantian menteri.

Mari Elka menyinggung reshuffle Kabinet Merah Putih yang terjadi pada awal September lalu, ketika membahas ketidakpastian pasar Indonesia. Keputusan untuk mengganti Menteri Keuangan dari Sri Mulyani ke Purbaya Yudhi Sadewa sontak memicu beragam spekulasi dan reaksi dari pelaku pasar.

banner 325x300

Ketidakpastian ini langsung tercermin pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta nilai tukar rupiah. Mari Elka Pangestu menyoroti bagaimana pencopotan Sri Mulyani, ditambah serangkaian demonstrasi yang terjadi, sempat membuat rupiah melemah drastis.

IHSG pun tak luput dari dampak, terperosok ke zona merah, menandakan kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan ekonomi ke depan. Ini adalah reaksi spontan yang wajar dari pasar yang sensitif terhadap perubahan besar.

Namun, pasar menunjukkan tanda-tanda pembalikan. IHSG menguat dan nilai tukar rupiah tampak lebih stabil dari perkiraan awal. Mari Elka sendiri tidak yakin apakah rebound ini murni karena kepercayaan pasar terhadap Menkeu baru, Purbaya Yudhi Sadewa, ataukah ini hanya "ketenangan sebelum badai" yang lebih besar.

Gejolak Pasar Pasca-Reshuffle: Sekadar Reaksi Sesaat?

Awal September tahun ini menjadi saksi bisu sebuah perubahan signifikan dalam Kabinet Merah Putih. Keputusan untuk mengganti Menteri Keuangan, yang merupakan salah satu pos paling krusial, tentu saja memicu reaksi berantai di sektor keuangan. Mari Elka Pangestu melihat ini sebagai cerminan nyata dari ketidakpastian yang melanda.

Pasar bereaksi cepat, dengan rupiah yang melemah dan IHSG yang jatuh ke zona merah. Hal ini menunjukkan betapa sensitifnya investor terhadap stabilitas politik dan ekonomi, terutama ketika figur kunci seperti Sri Mulyani diganti. Kekhawatiran akan kelanjutan kebijakan atau arah baru menjadi pemicu utama gejolak tersebut.

Meski demikian, pasar kemudian menunjukkan pembalikan yang cukup mengejutkan. IHSG menguat dan rupiah kembali stabil, seolah meredakan kekhawatiran awal. Namun, Mari Elka menyiratkan keraguan, mempertanyakan apakah stabilitas ini adalah tanda kepercayaan sejati atau hanya jeda sesaat sebelum tantangan yang lebih besar datang.

Akar Masalah Ekonomi: Bukan Cuma Pergantian Pemain

Terlepas dari siapa pun yang duduk di kursi Menteri Keuangan, Mari Elka Pangestu menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya menghadapi masalah yang jauh lebih fundamental. Ini bukan sekadar isu siklus ekonomi yang bisa diselesaikan dengan kebijakan jangka pendek, melainkan ada "borok" struktural yang sudah lama mengakar.

Menurut Mari, permasalahan yang menghantui Indonesia selama ini mencakup kualitas pertumbuhan ekonomi yang masih dipertanyakan. Pertumbuhan yang ada belum merata dan belum mampu menciptakan kesejahteraan yang signifikan bagi seluruh lapisan masyarakat. Ini menjadi PR besar bagi pemerintah yang baru.

Kualitas Pertumbuhan Ekonomi yang Stagnan

Apa gunanya angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi jika tidak inklusif? Mari Elka menggarisbawahi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia seringkali tidak diiringi dengan peningkatan kualitas yang memadai. Artinya, manfaat pertumbuhan belum dirasakan secara merata oleh semua kalangan, menciptakan kesenjangan yang lebar.

Pertumbuhan yang berkualitas seharusnya tercermin dari peningkatan produktivitas, inovasi, dan diversifikasi sektor ekonomi. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, membuat ekonomi rentan terhadap guncangan eksternal dan internal. Ini adalah tantangan mendasar yang harus segera diatasi.

Daya Beli Masyarakat yang Tergerus

Masalah struktural lain yang tak kalah krusial adalah rendahnya daya beli masyarakat. Ini adalah indikator langsung dari kesejahteraan rakyat. Ketika daya beli lemah, konsumsi rumah tangga sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia ikut terhambat, memperlambat laju pertumbuhan secara keseluruhan.

Faktor-faktor seperti inflasi yang tidak terkendali, stagnasi upah, dan ketidakpastian pendapatan berkontribusi pada menurunnya kemampuan masyarakat untuk berbelanja. Hal ini menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus, menghambat perputaran roda ekonomi di tingkat akar rumput.

Tantangan Penciptaan Lapangan Kerja

Penciptaan lapangan kerja juga menjadi sorotan utama Mari Elka. Dengan bonus demografi yang akan segera berakhir, Indonesia dituntut untuk bisa menyediakan pekerjaan yang layak bagi angkatan kerja muda. Namun, kenyataannya, sektor formal masih belum mampu menyerap tenaga kerja secara optimal.

Banyak lulusan baru yang kesulitan mendapatkan pekerjaan sesuai kualifikasi, atau terpaksa masuk ke sektor informal dengan pendapatan minim. Ini menunjukkan adanya ketidakcocokan antara kebutuhan pasar kerja dan ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas, sebuah masalah struktural yang perlu solusi komprehensif.

Kritik Tajam Mari Elka Terhadap Kebijakan Fiskal dan Moneter

Sebagai seorang ekonom senior, Mari Elka Pangestu tidak segan melontarkan kritik terhadap kebijakan makroekonomi yang dijalankan pemerintah dan Bank Indonesia. Menurutnya, kebijakan procyclical saja tidak cukup untuk merangsang pertumbuhan ekonomi yang melambat. Indonesia butuh reformasi struktural yang berani dan fundamental.

Sistem Perpajakan: ‘Berburu di Kebun Binatang’ yang Tidak Efektif

Salah satu kritik paling menohok Mari adalah terhadap sistem perpajakan Indonesia. Ia menggunakan analogi "berburu di kebun binatang" untuk menggambarkan kondisi saat ini. Artinya, Kementerian Keuangan selama ini hanya fokus menyasar wajib pajak yang itu-itu saja, yang sudah terdaftar dan mudah dijangkau.

Hal ini menyebabkan basis pajak yang sempit, sementara potensi penerimaan dari sektor lain atau dari wajib pajak baru belum tergarap maksimal. Reformasi perpajakan yang lebih komprehensif, termasuk perluasan basis pajak dan peningkatan kepatuhan, sangat dibutuhkan untuk menciptakan keadilan dan keberlanjutan fiskal.

Gerak Lambat BI dan Dampaknya pada Sektor Keuangan

Tidak hanya fiskal, kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) juga tak luput dari sorotan Mari Elka. Ia mengkritik gerak lambat BI dalam menurunkan suku bunga acuan, meskipun inflasi sudah berada pada level yang rendah. Kebijakan ini, menurutnya, berdampak langsung pada lesunya permintaan kredit di perbankan.

Ketika suku bunga tinggi, biaya pinjaman menjadi mahal, membuat dunia usaha enggan mengajukan kredit untuk ekspansi atau investasi. Akibatnya, perputaran ekonomi melambat, dan pertumbuhan pun terhambat. Transmisi kebijakan moneter dari BI ke sektor riil menjadi tidak efektif, menciptakan stagnasi.

Meskipun BI akhirnya mulai bergerak menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) dari 5 persen ke 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) September tahun ini, Mari menilai transmisi kebijakan ini masih tergolong lambat. Masalah sektor finansial di sana, sebagian besar disebabkan oleh kurangnya permintaan kredit, yang lagi-lagi, adalah cerminan perlambatan ekonomi yang lebih luas.

Reformasi Struktural: Kunci Menuju Ekonomi yang Lebih Kuat

Pesan utama Mari Elka Pangestu sangat jelas: masalah ekonomi Indonesia bukan sekadar kemerosotan yang bersifat siklus, melainkan masalah struktural yang mendalam. Oleh karena itu, solusi yang dibutuhkan pun harus bersifat fundamental dan jangka panjang, bukan sekadar tambal sulam.

Reformasi struktural ini mencakup berbagai aspek, mulai dari perbaikan iklim investasi, deregulasi yang mendukung kemudahan berusaha, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia. Tanpa reformasi ini, kebijakan makroekonomi saja tidak akan cukup untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif.

Pemerintah harus berani mengambil langkah-langkah strategis yang mungkin tidak populer dalam jangka pendek, demi kesehatan ekonomi jangka panjang. Ini adalah panggilan untuk melihat lebih jauh dari sekadar angka-angka makroekonomi dan fokus pada fondasi yang kokoh.

Pergantian Menteri Keuangan mungkin hanya puncak gunung es dari permasalahan ekonomi yang lebih besar. Mari Elka Pangestu telah memberikan pandangan yang tajam dan komprehensif, mengingatkan kita bahwa stabilitas pasar yang tampak saat ini bisa jadi hanya sementara. Tantangan sebenarnya terletak pada kemauan dan kemampuan pemerintah untuk mengatasi masalah struktural yang telah lama membelenggu.

banner 325x300