Ketika bencana banjir dan longsor menerjang Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar), menyisakan duka dan keputusasaan yang mendalam, sebuah misi penyelamatan energi yang tak terduga pun digulirkan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, didampingi Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri, bergerak cepat dalam sebuah kunjungan kerja insentif yang penuh tantangan.
Kunjungan maraton yang berlangsung pada awal Desember ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan respons kilat terhadap kondisi darurat yang melumpuhkan tiga provinsi tersebut. Mereka datang membawa harapan, solusi, dan komitmen untuk memastikan roda kehidupan masyarakat tetap berputar di tengah kepungan bencana.
Rangkaian perjalanan heroik ini dimulai dari Bireuen, Aceh, sebuah wilayah yang porak-poranda diterjang air bah dan aksesnya terputus. Dari sana, tim bergerak menuju Tapanuli Tengah dan Sibolga di Sumatra Utara, menembus rintangan jalan yang putus dan jembatan yang ambruk. Perjalanan panjang ini diakhiri di Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, yang juga tak luput dari amukan longsor yang mematikan.
Setiap titik yang mereka kunjungi menjadi saksi bisu betapa parahnya dampak bencana. Rumah-rumah terendam, akses jalan terputus total, dan ribuan warga terpaksa mengungsi, meninggalkan harta benda mereka demi keselamatan. Kondisi ini menciptakan tantangan logistik yang luar biasa, terutama dalam menjaga ketersediaan kebutuhan pokok dan energi yang vital.
Di tengah pemandangan pilu tersebut, Bahlil dan Simon tak hanya sekadar meninjau dari jauh. Mereka terjun langsung ke posko bantuan, berinteraksi dengan para pengungsi, dan memeriksa infrastruktur energi yang vital. Tujuannya jelas: memastikan pasokan energi tetap mengalir lancar, seolah menjadi nadi kehidupan bagi masyarakat yang sedang berjuang keras.
Terungkap! Strategi ‘Gila’ Pertamina Menembus Jalur Bencana
Menteri Bahlil dengan tegas menyatakan bahwa pasokan BBM dan LPG untuk wilayah Sumut, Sumbar, dan Aceh sebenarnya mencukupi kebutuhan masyarakat. Namun, masalah krusialnya terletak pada akses jalur darat menuju Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang terputus total akibat kerusakan infrastruktur. Inilah titik di mana strategi tak biasa harus diambil untuk menyelamatkan situasi.
Menghadapi jalanan yang lumpuh dan jembatan yang ambruk, Kementerian ESDM bersama PT Pertamina (Persero) mengambil keputusan berani dan taktis. Mereka mengalihkan jalur distribusi BBM dan LPG melalui laut dan udara, sebuah langkah yang mungkin terdengar ekstrem namun menjadi satu-satunya harapan untuk menjangkau daerah-daerah terisolir. Ini adalah bukti nyata dari inovasi di tengah krisis.
Bahlil menceritakan bagaimana mereka harus berinovasi di lapangan untuk mengatasi hambatan yang ada. "Mobilisasinya untuk ke daerah-daerah yang bisa dijangkau karena jalan putus, jembatan putus, ini yang menjadi persoalan yang kita hadapi bersama," ujarnya. "Tapi sekarang kita pakai cara, ada beberapa yang pakai pesawat, ada beberapa juga yang pakai rakit. Kayak di Aceh, di Bireuen itu kita rakit. Untuk muat, naik."
Bayangkan, di tengah arus deras dan puing-puing sisa bencana, rakit-rakit darurat disulap menjadi kapal pengangkut BBM dan LPG. Pesawat-pesawat kargo pun diterbangkan, membawa pasokan vital ke titik-titik yang tak bisa diakses darat. Ini adalah bukti nyata dari komitmen luar biasa untuk memastikan tak ada warga yang kekurangan energi di masa kritis, menunjukkan dedikasi tanpa batas.
SPBU 24 Jam: Komitmen Tanpa Henti Demi Warga
Tak hanya soal distribusi yang inovatif, Bahlil juga mengeluarkan instruksi penting agar SPBU di wilayah terdampak dapat beroperasi 24 jam penuh atau memperpanjang jam layanan sesuai kebutuhan masyarakat dan kondisi lapangan. Kebijakan ini bukan tanpa alasan, melainkan untuk memastikan ketersediaan energi tetap terjaga tanpa henti dan mudah diakses.
Langkah ini krusial untuk mendukung berbagai aktivitas penanganan bencana yang sedang berlangsung. Mulai dari pergerakan alat berat yang membersihkan puing-puing, ambulans yang membawa korban ke fasilitas medis, hingga kendaraan logistik yang mendistribusikan bantuan, semuanya sangat bergantung pada pasokan BBM yang stabil. Dengan SPBU beroperasi non-stop, semua operasional darurat dapat berjalan tanpa hambatan berarti.
Keputusan ini juga memberikan ketenangan bagi masyarakat yang sedang dilanda kecemasan. Mereka tidak perlu khawatir kehabisan bahan bakar untuk generator listrik di pengungsian atau kendaraan pribadi yang digunakan untuk evakuasi dan mencari kebutuhan pokok. Ini adalah wujud nyata kehadiran negara di saat-saat paling sulit, memberikan jaminan keamanan energi.
Bantuan Kemanusiaan Pertamina Peduli: Lebih dari Sekadar Energi
Di setiap lokasi kunjungan, Bahlil dan Simon tak hanya membawa solusi energi, tetapi juga menyerahkan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan oleh para korban. Bantuan ini meliputi sembako untuk memenuhi kebutuhan pangan, perlengkapan keluarga seperti selimut dan pakaian untuk kehangatan, perlengkapan kebersihan untuk menjaga sanitasi, hingga obat-obatan esensial untuk kesehatan.
Tak hanya itu, dukungan energi juga diberikan secara langsung dalam bentuk LPG untuk dapur umum di posko pengungsian, memastikan warga bisa memasak makanan hangat. Selain itu, BBM juga disalurkan untuk operasional alat berat yang membersihkan jalan dan kendaraan logistik, hingga evakuasi korban. Bantuan ini menjadi penopang utama bagi para relawan dan petugas yang bekerja siang malam.
Seluruh bantuan ini merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Peduli. Sejak awal bencana melanda, program ini telah digulirkan secara masif untuk mempercepat pemulihan masyarakat di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Ini menunjukkan bahwa Pertamina tidak hanya fokus pada bisnis, tetapi juga pada kemanusiaan dan keberlanjutan sosial.
Hingga awal Desember, total bantuan yang telah disalurkan Pertamina untuk tiga wilayah bencana tersebut mencapai angka fantastis, yaitu Rp5,4 miliar. Angka ini bukan sekadar nominal, melainkan representasi dari ribuan paket bantuan yang telah menjangkau tangan-tangan yang membutuhkan, meringankan beban di tengah cobaan berat yang mereka alami.
Komitmen Pertamina: Energi dan Kemanusiaan Berjalan Seiring
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menegaskan komitmen perusahaannya untuk terus menjaga pasokan energi sekaligus memberikan bantuan sosial secara cepat dan tepat. "Pertamina berkomitmen untuk terus menjaga peran dalam penanganan darurat, penyediaan energi, serta pemulihan sosial masyarakat di seluruh wilayah terdampak bencana di Indonesia," ujar Simon dengan penuh keyakinan.
Ia menambahkan, Pertamina akan mengerahkan seluruh daya yang ada untuk mempercepat pendistribusian energi di wilayah terdampak. Ini mencakup pengerahan personel, armada, hingga koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait. Bagi Pertamina, krisis adalah momentum untuk menunjukkan dedikasi dan tanggung jawab sosial yang kuat.
Melalui Posko Pertamina Peduli yang tersebar di tiga provinsi, Pertamina terus melakukan pemantauan situasi secara real-time dan memperkuat koordinasi. Mereka bekerja sama dengan pemerintah daerah, aparat penanganan bencana, dan lembaga kemanusiaan lainnya. Tujuannya adalah memastikan setiap bantuan tersalurkan dengan cepat dan tepat sasaran, tanpa ada yang terlewat.
Lebih jauh lagi, respons cepat ini sejalan dengan visi besar Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi. Mereka berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Ini menunjukkan pandangan jangka panjang perusahaan.
Seluruh upaya ini, baik dalam penanganan bencana maupun operasional sehari-hari, didasari oleh penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina. Ini menunjukkan bahwa Pertamina tidak hanya berbisnis, tetapi juga bertanggung jawab penuh terhadap lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan yang baik dan transparan.
Kunjungan Menteri Bahlil dan Dirut Pertamina Simon ke wilayah terdampak bencana bukan hanya sekadar seremoni belaka. Ini adalah manifestasi nyata dari kehadiran negara dan BUMN dalam meringankan beban rakyat di masa sulit. Dengan strategi inovatif dan komitmen tanpa henti, mereka memastikan bahwa di tengah kepungan bencana, harapan akan selalu ada, dan energi kehidupan akan terus mengalir.
Langkah-langkah cepat dan taktis ini menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana sinergi antara pemerintah dan BUMN dapat menjadi garda terdepan dalam menghadapi krisis. Masyarakat Aceh, Sumut, dan Sumbar kini bisa sedikit bernapas lega, mengetahui bahwa pasokan energi dan bantuan kemanusiaan terus berdatangan, menopang mereka untuk bangkit kembali dari keterpurukan.


















