Bencana banjir kembali melanda Aceh, meninggalkan jejak kerusakan dan isolasi bagi ribuan warga. Di tengah situasi yang mencekam ini, PT Pertamina (Persero) tak tinggal diam. Mereka langsung bergerak cepat, mengintensifkan operasi tanggap darurat demi membantu masyarakat yang terdampak parah.
Sebagai respons sigap, Pertamina mengerahkan seluruh sumber daya, termasuk armada Pelita Air Service, untuk menjadi garda terdepan. Setiap hari, pesawat-pesawat Pelita Air mengudara, membawa misi kemanusiaan yang krusial: menyalurkan bantuan logistik vital dan mengevakuasi warga serta pekerja Pertamina Group dari wilayah-wilayah yang terisolasi.
Pelita Air: Sayap Harapan di Tengah Bencana
Pada Minggu (30/11) lalu, empat penerbangan bantuan khusus telah diberangkatkan dari Bandara Internasional Kualanamu, Medan. Destinasinya adalah Pangkalan Susu dan Rantau di Aceh Tamiang, dua area yang paling merasakan dampak parah banjir. Ini bukan sekadar penerbangan biasa, melainkan misi penyelamatan yang membawa harapan bagi banyak orang.
Pertamina memastikan bahwa frekuensi penerbangan akan terus ditambah. Langkah ini diambil untuk memperluas jangkauan distribusi bantuan, memastikan tidak ada satu pun titik terdampak yang luput dari perhatian. Mereka berkomitmen penuh untuk menjangkau setiap sudut yang membutuhkan uluran tangan.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menegaskan bahwa pendistribusian bantuan ini adalah wujud nyata komitmen Pertamina. "Upaya tanggap darurat ini menunjukkan komitmen Pertamina dalam membantu masyarakat di wilayah terdampak dengan menyalurkan bantuan logistik yang sangat dibutuhkan masyarakat," ujarnya.
Bantuan Logistik Mengalir Deras
Bantuan yang disalurkan Pertamina bukan sekadar formalitas, melainkan kebutuhan esensial yang sangat mendesak. Berbagai jenis kebutuhan pokok dan perlengkapan darurat telah dikirimkan untuk warga yang terdampak banjir. Mulai dari makanan siap saji, perlengkapan bayi dan perempuan, hingga peralatan sehari-hari.
Tak hanya itu, obat-obatan dan peralatan listrik juga menjadi prioritas dalam daftar bantuan. Item-item ini sangat krusial untuk menjaga kesehatan dan memastikan warga memiliki akses dasar di tengah kondisi darurat. Setiap barang yang dikirimkan dipilih berdasarkan kebutuhan paling mendesak di lapangan.
Untuk memastikan bantuan ini sampai tepat waktu, Pertamina mengerahkan armada Pelita Air Service, khususnya Heli B 412 dengan kode PK-PUJ. Helikopter ini menjadi tulang punggung operasi, mampu menjangkau area-area sulit yang tidak bisa diakses melalui jalur darat. Kecepatan dan efisiensi menjadi kunci dalam situasi kritis seperti ini.
Prioritas Utama: Evakuasi dan Keselamatan
Selain fokus pada pendistribusian bantuan, Pertamina juga memberikan perhatian serius pada aspek evakuasi. Banyak pekerja dan anggota keluarga Pertamina Group yang mengalami gangguan kesehatan dan keselamatan akibat banjir di wilayah operasi Pertamina EP Field Pangkalan Susu dan Pertamina EP Field Rantau. Mereka adalah bagian dari keluarga besar Pertamina yang juga terdampak.
Pada Senin, 01 Desember 2025, direncanakan 17 orang akan dievakuasi oleh Pelita Air menuju Medan. Evakuasi ini bertujuan agar mereka dapat segera mendapatkan perawatan dan penanganan medis lanjutan yang mungkin tidak tersedia di lokasi terdampak. Keselamatan jiwa menjadi prioritas utama di atas segalanya.
"Keselamatan masyarakat dan pekerja kami merupakan prioritas utama. Pertamina memastikan bantuan logistik tiba tepat waktu dan proses evakuasi berjalan aman," tegas Baron. Pernyataan ini menunjukkan betapa seriusnya Pertamina dalam menangani setiap aspek bencana, dari logistik hingga keselamatan individu.
Komitmen Pertamina: Bergerak Cepat dan Terukur
Pertamina tidak hanya berhenti pada aksi sesaat. Mereka terus memonitor kondisi di lapangan secara intensif, memastikan setiap perkembangan terpantau dengan baik. Tim tanggap darurat Pertamina juga disiagakan penuh untuk mempercepat penyaluran bantuan dan pemulihan operasional. Ini adalah upaya berkelanjutan yang membutuhkan dedikasi tinggi.
Sebagai bagian dari BUMN Energi, Pertamina memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keselamatan masyarakat, pekerja, serta keberlangsungan pasokan energi di wilayah terdampak. Bencana tidak boleh mengganggu ketersediaan energi yang vital bagi kehidupan sehari-hari dan proses pemulihan. Oleh karena itu, langkah cepat dan terukur menjadi filosofi utama.
"Pertamina akan dan terus mengerahkan seluruh sumber daya untuk membantu masyarakat terdampak, agar mendapat perlindungan dan penanganan terbaik," pungkas Baron. Komitmen ini bukan sekadar janji, melainkan aksi nyata yang terus dilakukan di lapangan, menunjukkan kepedulian Pertamina sebagai entitas bisnis yang juga memiliki fungsi sosial.
Koordinasi Lintas Sektor untuk Pemulihan
Dalam menghadapi bencana sebesar ini, Pertamina menyadari pentingnya kolaborasi. Mereka terus berkoordinasi erat dengan pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait lainnya. Sinergi ini krusial untuk memastikan bahwa proses tanggap darurat berjalan efektif dan efisien, menjangkau lebih banyak korban dengan bantuan yang tepat.
Kerja sama lintas sektor ini diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan di wilayah bencana. Dengan bahu-membahu, dampak buruk banjir dapat diminimalisir dan masyarakat bisa segera bangkit kembali. Pertamina menunjukkan bahwa mereka adalah mitra yang dapat diandalkan dalam setiap situasi, terutama saat krisis melanda.
Dari Medan hingga pelosok Aceh, Pelita Air terus terbang, membawa harapan dan bantuan. Pertamina membuktikan bahwa di tengah cobaan, semangat gotong royong dan kepedulian akan selalu menjadi kekuatan terbesar. Mereka hadir bukan hanya sebagai penyedia energi, tetapi juga sebagai sahabat yang siap membantu di saat-saat tersulit.


















