banner 728x250

Nggak Cuma IPK Tinggi, Mahasiswa UNM Berani Turun Gunung: Warga Bekasi Kini Melek Ekonomi Digital!

nggak cuma ipk tinggi mahasiswa unm berani turun gunung warga bekasi kini melek ekonomi digital portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Dunia kampus seringkali terasa seperti gelembung sabun yang indah, berkilau, namun rapuh dan melayang terlalu jauh dari realitas masyarakat. Mahasiswa dan dosen terkadang terjebak dalam menara gading akademik, sibuk dengan teori, tugas, dan drama yang tak ada habisnya. Namun, di tengah hiruk pikuk itu, ada secercah harapan dari mereka yang memilih untuk menjejakkan kaki kembali ke bumi.

Salah satunya adalah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Nusa Mandiri (UNM) yang belakangan ini bikin gebrakan. Mereka meluncurkan program bernama "Mahasiswa Berdampak," sebuah inisiatif yang benar-benar mengubah cara pandang tentang peran kampus. Ini bukan sekadar kegiatan bakti sosial yang berakhir dengan foto bersama dan caption manis di Instagram.

banner 325x300

Bukan Sekadar Kuliah: Saat Kampus Turun Tangan ke Masyarakat

Program "Mahasiswa Berdampak" ini lahir dari Hibah Kemendiktisaintek, sebuah bukti nyata bahwa pemerintah pun mendorong kolaborasi antara dunia akademik dan masyarakat. Inisiatif ini adalah upaya konkret untuk menyambungkan dua dunia yang seringkali terpisah, yaitu kampus dan komunitas lokal. Tujuannya jelas: agar keduanya bisa saling menghidupi dan tumbuh bersama.

BEM UNM, sebagai Kampus Digital Bisnis, tidak bekerja sendirian. Mereka menggandeng Karang Taruna dan PKK Anyelir RW 12 di Jatiwaringin, Bekasi. Bersama-sama, mereka turun tangan langsung, bukan hanya sekadar memberi arahan dari jauh.

Kolaborasi ini dimulai pada Senin, 20 September 2025, dan langsung fokus pada pembangunan ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Lebih jauh lagi, mereka juga ikut mendorong konsep smart city di tingkat komunitas. Ini adalah langkah berani yang menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari skala kecil.

Mengubah Teori Jadi Aksi Nyata: Kolaborasi UNM dan Warga Bekasi

Di bawah spanduk sederhana bertuliskan "Mahasiswa Berdampak: Kolaborasi untuk Kemandirian Masyarakat," suasana keakraban langsung terasa. Dosen dan mahasiswa UNM duduk berbaur dengan ibu-ibu PKK serta pemuda Karang Taruna. Tidak ada sekat, tidak ada jarak.

Mereka tidak bicara teori ekonomi yang penuh jargon dan sulit dicerna. Sebaliknya, yang dibahas adalah hal-hal praktis yang langsung bisa diterapkan. Mulai dari cara memasarkan produk UMKM lewat platform digital, trik membuat konten promosi yang menarik, hingga tips mengelola keuangan usaha kecil secara lebih cermat.

Ini adalah bentuk pembelajaran dua arah yang sangat efektif. Mahasiswa tidak hanya mengaplikasikan ilmu yang mereka dapat di kelas, tetapi juga belajar langsung dari pengalaman dan kearifan lokal masyarakat. Sementara itu, warga mendapatkan skill baru yang relevan dengan perkembangan zaman.

Digitalisasi UMKM: Senjata Baru Ibu-ibu PKK dan Karang Taruna

Di era digital ini, UMKM punya potensi besar untuk berkembang, asalkan tahu caranya. Banyak pelaku usaha kecil, terutama ibu-ibu PKK, yang punya produk berkualitas tapi kesulitan menjangkau pasar lebih luas. Di sinilah peran mahasiswa UNM menjadi krusial.

Mereka membimbing warga untuk memanfaatkan media sosial dan marketplace sebagai etalase digital. Dari sesi pelatihan, ibu-ibu PKK belajar bagaimana mengambil foto produk yang menarik, menulis deskripsi yang menjual, dan bahkan mengoptimalkan penggunaan hashtag. Ini adalah bekal berharga untuk bersaing di pasar yang semakin kompetitif.

Selain itu, pelatihan pengelolaan keuangan juga menjadi sorotan penting. Banyak UMKM yang kesulitan berkembang karena manajemen keuangan yang kurang rapi. Mahasiswa UNM membantu mereka memahami pentingnya pencatatan, pemisahan keuangan pribadi dan usaha, serta strategi penetapan harga yang tepat. Hasilnya? Warga kini punya pandangan yang lebih jelas tentang bagaimana mengembangkan usaha mereka secara berkelanjutan.

Suara dari Lapangan: Mengapa Program Ini Begitu Penting?

Siti Masturoh, Ketua Hibah PM-BEM 2025 dari UNM, menyampaikan semangat yang menular. Menurutnya, program "Mahasiswa Berdampak" ini bukan sekadar tentang mahasiswa yang datang untuk membantu masyarakat. Lebih dari itu, ini adalah tentang mahasiswa yang belajar bersama masyarakat. Sebuah filosofi yang mendalam dan sangat relevan.

"Kami ingin menjembatani dunia akademik dengan kehidupan nyata," ujarnya dengan penuh keyakinan. "Supaya ilmu di kampus nggak berhenti di kertas, tapi benar-benar hidup di lapangan." Pernyataan ini menegaskan esensi dari program tersebut: menjadikan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk menciptakan perubahan nyata, bukan hanya sekadar teori yang dihafal.

Kolaborasi lintas generasi ini juga menjadi kunci. Mahasiswa belajar dari pengalaman hidup para ibu-ibu PKK dan pemuda Karang Taruna, sementara warga mendapatkan perspektif segar dan pengetahuan digital dari generasi muda. Ini adalah pertukaran yang saling menguntungkan dan memperkaya kedua belah pihak.

Dampak Ganda: Mahasiswa Tumbuh, Komunitas Berdaya

Program "Mahasiswa Berdampak" ini memberikan efek domino yang positif. Bukan hanya masyarakat yang merasakan manfaatnya, tetapi juga para mahasiswa UNM sendiri.

Apa yang Didapat Mahasiswa UNM?

Lewat kegiatan ini, mahasiswa UNM tak hanya belajar soal leadership dan entrepreneurship dalam konteks bisnis. Mereka juga mengasah kemampuan empati, komunikasi, dan kesabaran. Ini adalah soft skill yang jarang diajarkan di kelas, namun sangat dibutuhkan di dunia nyata. Mereka belajar bagaimana berhadapan dengan berbagai karakter, memahami kebutuhan orang lain, dan mencari solusi kreatif di tengah keterbatasan.

Pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat mengajarkan mereka tentang realitas sosial dan ekonomi yang kompleks. Mereka jadi lebih peka terhadap masalah-masalah di sekitar, dan termotivasi untuk menjadi agen perubahan. Ini adalah bekal berharga yang akan membentuk mereka menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berhati mulia dan peduli.

Bagaimana Warga Merasakan Manfaatnya?

Bagi warga, terutama pelaku UMKM dan ibu-ibu PKK, kolaborasi ini menjadi napas baru. Mereka kini melihat bahwa digitalisasi bukanlah sesuatu yang menakutkan atau rumit, melainkan justru peluang besar yang bisa digarap bersama-sama. Mereka mendapatkan kepercayaan diri dan skill baru untuk mengembangkan usaha mereka di era digital.

"Kami berharap program ini bisa terus berkembang dan jadi inspirasi bagi kampus lain," tambah Siti. Harapan ini bukan tanpa alasan. Jika lebih banyak kampus yang mengikuti jejak UNM, dampaknya terhadap kemandirian ekonomi masyarakat akan sangat signifikan. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa.

Menjebol Menara Gading: Inspirasi untuk Kampus Lain

Gerakan ini mengingatkan kita bahwa masa depan tidak dibangun di ruang rapat atau aula kampus megah. Masa depan yang sesungguhnya dibangun di jalan-jalan sempit kampung, di warung-warung kecil, tempat ide-ide sederhana bertemu dengan kenyataan. Di sanalah inovasi dan kemandirian sejati tumbuh.

Sejatinya, yang membuat mahasiswa benar-benar berdampak bukanlah seberapa canggih presentasinya, atau seberapa tinggi IPK-nya. Melainkan, seberapa jauh mereka berani menurunkan teori ke tanah, tempat kehidupan sehari-hari berlangsung. Di mana ilmu bisa diuji, diaplikasikan, dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh banyak orang.

Dan mungkin, kalau semua mahasiswa mau turun sedikit saja dari menara gadingnya, negeri ini tidak hanya akan punya sarjana-sarjana cerdas. Tapi juga akan punya manusia-manusia yang benar-benar berdampak, yang mampu membawa perubahan positif di tengah masyarakat. Ini adalah panggilan bagi setiap kampus untuk tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga agen perubahan yang peduli dan berani bertindak.

banner 325x300