Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, baru-baru ini melontarkan arahan tegas kepada seluruh anggota Fraksi Partai Golkar di DPR RI dan kader di daerah. Pesan utamanya jelas: tinggalkan gaya hidup mewah dan mulailah lebih peka terhadap gejolak politik serta keresahan di tengah masyarakat. Ini bukan sekadar imbauan, melainkan peringatan keras yang harus dicamkan.
Peringatan Keras: Jangan Pernah Flexing di Ruang Publik!
Bahlil menyoroti fenomena "flexing" atau pamer kemewahan yang kerap dilakukan, bahkan oleh kader yang notabene adalah pengusaha sukses atau orang yang mapan secara ekonomi. Ia menegaskan, di tengah kondisi rakyat yang sedang resah, sikap seperti itu justru akan melukai hati dan memperlebar jurang antara wakil rakyat dengan konstituennya. Pesan ini disampaikan oleh Sekjen Partai Golkar, Muhammad Sarmuji, di Jakarta.
Menurut Sarmuji, Bahlil menekankan bahwa kemewahan pribadi sebaiknya tidak dipertontonkan di ruang publik. Apalagi saat rakyat sedang berjuang menghadapi berbagai tantangan ekonomi. Hal ini bisa menimbulkan persepsi negatif dan mengikis kepercayaan masyarakat terhadap partai berlambang beringin tersebut.
Kompas Utama: Suara Rakyat adalah Prioritas Mutlak
Arahan selanjutnya dari Bahlil adalah soal kepekaan terhadap aspirasi rakyat. Setiap legislator Golkar, tanpa terkecuali, wajib menjadikan suara rakyat sebagai kompas utama dalam setiap langkah dan kebijakan yang diambil. Ini bukan sekadar slogan, melainkan prinsip dasar yang harus dipegang teguh.
Sarmuji mengutip Bahlil, "Kita tidak boleh abai. Setiap jeritan, setiap keluhan, harus masuk dalam radar kita dan ditindaklanjuti secara politik maupun kebijakan." Artinya, mendengarkan saja tidak cukup; harus ada aksi nyata dan solusi konkret yang ditawarkan kepada masyarakat.
Anggaran untuk Rakyat, Bukan Birokrasi Elite
Bahlil juga mengarahkan agar orientasi anggaran negara harus berpihak pada kesejahteraan rakyat, bukan malah terjebak pada politik elitis. Anggota DPR/DPRD dari Partai Golkar memiliki tugas utama untuk memastikan alokasi anggaran benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
"Golkar tidak boleh terjebak pada politik elitis. Anggaran negara bukan untuk memperbesar birokrasi, melainkan untuk memperbesar manfaat langsung bagi kesejahteraan masyarakat," tegas Sarmuji, mengulang pesan Bahlil. Ini adalah panggilan untuk memastikan setiap rupiah anggaran negara kembali kepada rakyat dalam bentuk program dan layanan yang efektif.
Wajib Turun ke Lapangan: Politik Bukan Hanya di Gedung Parlemen
Tak hanya soal gaya hidup dan anggaran, Bahlil juga meminta kadernya untuk lebih sering turun ke masyarakat dan terlibat aktif dalam berbagai aktivitas sosial. Politik sejati, menurutnya, tidak hanya terjadi di ruang rapat atau sidang-sidang parlemen yang megah.
"Politik adalah hadir di lapangan, di tengah rakyat, menyapa, mendengar, dan memberi solusi," tutur Sarmuji. Kehadiran fisik di tengah masyarakat menjadi kunci untuk memahami denyut nadi kehidupan rakyat, sekaligus membangun kedekatan dan kepercayaan yang tak ternilai harganya.
Alarm Merah dari Gelombang Protes Masyarakat
Bahlil juga sangat memperhatikan gejolak di ruang publik. Ia menyebut unjuk rasa yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir sebagai "cambuk" bagi para kader Golkar. Ini adalah sinyal bahwa partai harus bergerak lebih cepat untuk mencari solusi atas aspirasi yang disuarakan masyarakat.
"Gelombang protes dan demonstrasi masyarakat di sejumlah daerah dalam lebih dari sebulan terakhir harus menjadi alarm bagi kita semua," kata Sarmuji. Rakyat sedang menyampaikan kegelisahannya, dan sebagai wakil rakyat, anggota DPR wajib peka, hadir, dan mencari solusi nyata.
Tragedi Affan Kurniawan: Cermin Keresahan Sosial yang Tak Boleh Diabaikan
Secara khusus, Bahlil menyoroti tragedi yang menimpa Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang tewas terlindas kendaraan taktis Brimob Polri saat aksi unjuk rasa. Kasus ini, serta jatuhnya korban lain di sejumlah daerah, adalah isyarat kuat bahwa ada keresahan sosial yang tidak boleh dipandang sebelah mata.
"Partai Golkar harus berdiri di sisi rakyat, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan kerja nyata dan keberpihakan dalam kebijakan," tegas Bahlil, sebagaimana disampaikan Sarmuji. Tragedi ini menjadi pengingat pahit akan pentingnya empati dan tindakan nyata dari para pemimpin.
Membangun Kepercayaan dengan Kerendahan Hati
Bahlil menegaskan pentingnya wajah politik Golkar yang rendah hati, membumi, dan berpihak pada rakyat. Gelombang protes akhir-akhir ini harus menjadi cermin sekaligus pengingat bagi seluruh kader.
"Golkar tidak boleh terjebak dalam simbol kemewahan dan birokrasi, tetapi harus menjadi jembatan aspirasi rakyat," kata legislator dari daerah pemilihan Jawa Timur VI itu. Inilah kunci untuk menjaga dan membangun kembali kepercayaan masyarakat kepada Partai Golkar di tengah dinamika politik yang semakin kompleks.


















