banner 728x250

Terbongkar! Qatar Tuduh Israel Sengaja Sabotase Gencatan Senjata Gaza Lewat Serangan di Doha

terbongkar qatar tuduh israel sengaja sabotase gencatan senjata gaza lewat serangan di doha portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Dunia dikejutkan dengan tuduhan serius dari Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, yang menuding Israel secara terang-terangan berupaya menggagalkan upaya gencatan senjata di Gaza, Palestina. Tuduhan ini dilontarkan di tengah pertemuan darurat para pemimpin Arab dan Muslim di Doha, yang menggarisbawahi ketegangan yang memuncak di Timur Tengah.

Pernyataan Emir Qatar ini bukan sekadar retorika, melainkan respons terhadap serangan yang menargetkan pejabat Hamas di Doha. Insiden ini, menurut Qatar, adalah bukti nyata dari niat Israel untuk menghancurkan proses negosiasi yang sedang berjalan, alih-alih mencari solusi damai.

banner 325x300

Serangan Misterius di Doha yang Mengguncang Meja Perundingan

Pekan lalu, Doha menjadi saksi bisu sebuah serangan udara yang menewaskan enam orang dan memicu gelombang kecaman internasional, termasuk dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Yang lebih mengejutkan, serangan ini juga menargetkan sejumlah pejabat senior Hamas yang berada di ibu kota Qatar tersebut.

Beruntung, para pejabat Hamas itu berhasil selamat dari maut. Namun, insiden ini bukan hanya sekadar serangan biasa; ia terjadi pada momen krusial ketika delegasi Hamas sedang membahas proposal baru dari Amerika Serikat terkait penghentian perang di Gaza.

Qatar, bersama Mesir dan Amerika Serikat, selama ini dikenal sebagai mediator utama dalam perundingan yang sangat sensitif ini. Serangan di Doha secara langsung mengancam kredibilitas dan keberlanjutan upaya mediasi yang telah susah payah dibangun.

Bagaimana mungkin negosiasi bisa berjalan lancar jika salah satu pihak yang terlibat justru menjadi target serangan? Pertanyaan inilah yang menjadi inti dari kecaman keras Emir Qatar.

Emir Qatar Angkat Bicara: "Negosiasi Hanya Bagian dari Perang"

Dalam pidato pembukaannya di KTT gabungan Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani tidak menahan diri. Dengan nada tegas, ia menyatakan, "Siapa pun yang secara sistematis berusaha membunuh pihak yang sedang diajak bernegosiasi, jelas berniat menggagalkan proses negosiasi."

Baginya, tindakan Israel ini menunjukkan bahwa "negosiasi bagi mereka hanyalah bagian dari perang." Ini adalah pandangan yang sangat pesimistis, namun didasarkan pada pola tindakan yang terlihat jelas di lapangan.

Lebih jauh, Emir Qatar juga menuding Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memiliki ambisi berbahaya. Ia menyebut Netanyahu bermimpi mengubah kawasan Arab menjadi zona pengaruh Israel, sebuah "ilusi berbahaya" yang bisa memicu konflik lebih besar.

Tuduhan ini mengisyaratkan bahwa konflik di Gaza bukan hanya tentang Hamas, tetapi juga tentang perebutan pengaruh dan dominasi geopolitik di seluruh Timur Tengah.

Geopolitik di Balik Layar: Abraham Accords dan Tekanan Global

Klaim Emir Qatar tentang ambisi Israel untuk memperluas pengaruhnya bukan tanpa dasar. Israel, dengan dukungan sekutunya, Amerika Serikat, memang tengah berupaya memperluas cakupan Kesepakatan Abraham. Kesepakatan ini, yang ditandatangani pada tahun 2020, telah berhasil menjalin hubungan diplomatik antara Israel dengan Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko.

Ekspansi ini dilihat oleh banyak pihak sebagai upaya untuk mengisolasi Palestina dan membentuk aliansi regional baru yang menguntungkan Israel. Di tengah ketegangan ini, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dijadwalkan mengunjungi Israel untuk menunjukkan dukungan penuh Washington, sebelum kemudian tiba di Qatar.

Kunjungan ini menunjukkan betapa kompleksnya jaring-jaring diplomasi di kawasan tersebut, di mana dukungan politik dan upaya mediasi berjalan beriringan dengan konflik bersenjata.

KTT Darurat: Suara Bersatu Melawan Standar Ganda

KTT gabungan Liga Arab dan OKI ini diselenggarakan atas inisiatif Qatar, dengan tujuan utama untuk meningkatkan tekanan terhadap Israel. Tekanan ini datang dari desakan global agar Israel mengakhiri perang dan krisis kemanusiaan yang mengerikan di Gaza.

Sehari sebelum KTT, Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani telah menegaskan bahwa sudah saatnya komunitas internasional berhenti menggunakan standar ganda. Ia menyerukan agar Israel dihukum atas semua kejahatan yang telah dilakukannya di Gaza.

Dalam draf pernyataan bersama, sekitar 60 negara peserta KTT juga menekankan pentingnya keamanan kolektif dan perlunya keselarasan dalam menghadapi tantangan dan ancaman bersama. Ini adalah seruan untuk persatuan dan tindakan konkret dari dunia Arab dan Muslim.

Pertemuan ini dihadiri oleh sejumlah pemimpin dunia yang berpengaruh, termasuk Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Kehadiran Raja Yordania Abdullah II dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga menunjukkan bobot dan urgensi pertemuan ini.

Dari Retorika Menuju Aksi Nyata: Apa Selanjutnya?

Selain KTT gabungan, pertemuan luar biasa Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang beranggotakan enam negara juga dilaksanakan di Doha pada hari yang sama. Ini menunjukkan tingkat koordinasi dan kekhawatiran yang tinggi di antara negara-negara Teluk.

Namun, pertanyaan besar yang menggantung adalah: apakah pertemuan-pertemuan ini akan menghasilkan lebih dari sekadar pernyataan? Aziz Algashian, seorang peneliti hubungan internasional di Timur Tengah yang berbasis di Arab Saudi, mengungkapkan keraguannya.

"Kita sudah kehabisan retorika. Kini tinggal menunggu tindakan nyata, dan kita akan lihat seperti apa bentuknya," kata Algashian. Pernyataannya mencerminkan frustrasi yang meluas terhadap kurangnya aksi konkret dari komunitas internasional.

Tuduhan Qatar terhadap Israel telah membuka babak baru dalam konflik Gaza, memperlihatkan betapa rapuhnya upaya perdamaian dan betapa dalamnya ketidakpercayaan antarpihak. Masa depan gencatan senjata, dan bahkan stabilitas regional, kini berada di ujung tanduk, menanti apakah dunia akan bergerak dari kata-kata ke tindakan nyata.

banner 325x300