Penggunaan artificial intelligence (AI) kini telah merambah ke berbagai sektor kehidupan, tak terkecuali dunia jurnalistik. Teknologi canggih ini mulai menjadi bagian tak terpisahkan dari pekerjaan para jurnalis, menawarkan potensi besar untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi. Namun, di balik segala kemudahannya, ada batasan etika yang wajib dipahami agar kredibilitas berita tetap terjaga.
AI bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah alat revolusioner yang bisa mengubah cara jurnalis bekerja. Dari riset hingga penyusunan draf, AI memiliki peran yang semakin signifikan. Lalu, bagaimana jurnalis bisa memanfaatkan teknologi ini secara optimal tanpa kehilangan sentuhan manusiawinya?
AI: Asisten Cerdas untuk Konten Lebih Relevan
Ilona Juwita, Co-founder PROPS, menjelaskan bahwa AI chatbot memiliki banyak manfaat jika dimanfaatkan secara positif. Salah satu keunggulan utamanya adalah kemampuannya membantu mengolah konten agar selalu relevan dengan kebutuhan dan minat pembaca. Di era informasi yang bergerak cepat ini, relevansi adalah kunci.
"Dengan AI chatbot, kita bisa memicu konten supaya lebih up to date," ujarnya dalam pemaparan materi untuk peserta Journalism Fellowship on CSR 2025 yang digelar Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP). Ini berarti jurnalis bisa mendapatkan ide-ide segar atau sudut pandang baru yang sedang menjadi perbincangan hangat.
Lebih dari itu, penggunaan AI juga bisa menjadi bentuk riset yang sangat efisien bagi penulis. Manusia memiliki keterbatasan dalam menentukan apa yang perlu diperbarui atau topik apa yang sedang dicari pembaca. Namun, platform AI seperti Gemini atau ChatGPT dapat memberikan rekomendasi tulisan berikutnya yang lebih sesuai dan berpotensi viral.
Bayangkan saja, kamu bisa mendapatkan analisis tren topik secara instan, atau bahkan saran tentang bagaimana menyajikan informasi agar lebih menarik bagi audiens tertentu. Ini tentu menghemat waktu dan tenaga, memungkinkan jurnalis fokus pada aspek-aspek yang lebih mendalam dari sebuah berita.
Kunci Sukses: Prompt yang Tepat, Hasil Maksimal
Meski AI menawarkan banyak kemudahan, hasil yang diperoleh sangat bergantung pada "prompt" atau perintah yang digunakan. Seringkali, banyak orang masih terbiasa menggunakan prompt yang sederhana dan kurang spesifik, sehingga hasil yang didapat pun kurang maksimal. Ini seperti bertanya pada mesin pencari dengan kata kunci umum, tentu hasilnya tidak akan seakurat jika kita menggunakan frasa yang lebih spesifik.
"Ada keterampilan khusus supaya kita bisa ahli membuat prompt," jelas Ilona. Menyusun prompt yang efektif bukanlah sekadar mengajukan pertanyaan langsung. Penulis perlu memasukkan informasi yang cukup, memberikan konteks, dan bahkan menentukan gaya bahasa atau format yang diinginkan agar AI dapat memproduksi konten sesuai kebutuhan.
Misalnya, daripada hanya bertanya "apa itu inflasi?", kamu bisa mencoba "jelaskan inflasi dalam bahasa yang mudah dimengerti untuk pembaca awam, sertakan contoh dampaknya pada harga sembako, dan berikan data terbaru dari Bank Indonesia." Dengan prompt yang lebih detail, AI akan memberikan jawaban yang jauh lebih terstruktur dan informatif.
Ilona menambahkan, "Kemudian kita berikan ruang untuk menjawab, sekaligus kita lengkapi dengan konteks." Dengan cara ini, AI mampu memberikan informasi tambahan yang sangat bermanfaat, bahkan di luar ekspektasi kita. Ini membuka peluang untuk menemukan sudut pandang atau fakta menarik yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya.
Batasan Etika: Kapan AI Boleh Dipakai dan Kapan Tidak?
Di sisi lain, jurnalis senior Merdi Sofansyah menegaskan bahwa ada batasan yang jelas dalam penggunaan AI. Meskipun sangat membantu, AI bukanlah pengganti sepenuhnya untuk nalar dan etika jurnalistik. Penggunaan AI sebaiknya difokuskan pada hal-hal yang produktif dan positif, yang mendukung pekerjaan jurnalis tanpa mengorbankan integritas.
Merdi menyarankan AI dipakai untuk tugas-tugas seperti transkripsi wawancara, meringkas dokumen panjang, memberikan ide-ide tulisan, atau menghasilkan outline berita. Ini adalah pekerjaan-pekerjaan yang memakan waktu dan bisa diotomatisasi, sehingga jurnalis bisa lebih fokus pada investigasi, analisis, dan verifikasi fakta.
"Tapi AI tidak boleh dipakai untuk deepfake atau fabrikasi kutipan," tegasnya. Ini adalah poin krusial yang tidak bisa ditawar. Kredibilitas adalah nyawa jurnalistik, dan penggunaan AI untuk memanipulasi informasi atau menciptakan kutipan palsu adalah pelanggaran etika yang serius.
Merdi juga menekankan, "Untuk hal-hal hiburan boleh saja, tapi tidak untuk membuat konten berita." Artinya, jika kamu ingin membuat konten fiksi atau hiburan, AI bisa menjadi alat yang kreatif. Namun, ketika berbicara tentang berita yang menginformasikan publik, kehati-hatian dan verifikasi manusia adalah mutlak.
Jurnalis Cerdas, AI Sebagai ‘Tools’, Bukan Pengganti
Pada akhirnya, penggunaan AI dalam dunia jurnalistik adalah tentang kebijaksanaan. Teknologi ini sebaiknya dilihat sebagai "tools" atau alat bantu yang kuat, bukan sebagai pengganti peran esensial seorang jurnalis. AI dapat mempercepat proses, memberikan ide, dan membantu mengolah data, tetapi sentuhan manusia, kemampuan berpikir kritis, dan integritas etika tetap tak tergantikan.
Jurnalis perlu terus mengasah keterampilan dalam memanfaatkan AI secara efektif, mulai dari menyusun prompt hingga memverifikasi setiap informasi yang dihasilkan. Dengan begitu, teknologi ini dapat menjadi "senjata rahasia" yang membantu menghasilkan tulisan yang lebih baik, lebih relevan, dan yang terpenting, tetap kredibel.
Masa depan jurnalistik mungkin akan semakin bersinggungan dengan AI. Namun, selama jurnalis mampu memegang teguh prinsip-prinsip etika dan melihat AI sebagai kolaborator, bukan pengambil alih, maka kualitas berita akan terus meningkat. Kuncinya adalah menjadi jurnalis yang cerdas, yang tahu kapan harus memanfaatkan teknologi, dan kapan harus mengandalkan insting dan integritas profesionalnya.


















