banner 728x250

Mengejutkan! 60% SPBU di China Tutup Massal, Pertanda Era Bensin Segera Berakhir?

mengejutkan 60 spbu di china tutup massal pertanda era bensin segera berakhir portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Sebuah fakta mengejutkan datang dari China, negara dengan populasi terbesar di dunia dan salah satu pasar otomotif paling dinamis. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia baru-baru ini mengungkapkan bahwa lebih dari 60 persen Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di China telah gulung tikar. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan sebuah sinyal kuat tentang perubahan besar yang sedang terjadi di lanskap energi global.

Fenomena ini bukan tanpa alasan. Penyebab utamanya adalah adopsi kendaraan listrik (EV) yang begitu masif di Negeri Tirai Bambu. China kini menjadi pemimpin dunia dalam revolusi kendaraan listrik, dan dampaknya mulai terasa hingga ke sektor bisnis tradisional seperti SPBU.

banner 325x300

China Memimpin Revolusi Kendaraan Listrik

Menurut data yang disampaikan oleh Kementerian ESDM, kepemilikan kendaraan baru berteknologi listrik di China kini sudah melampaui 50 persen dari total penjualan. Ini artinya, setiap dua mobil baru yang terjual, setidaknya satu di antaranya adalah kendaraan listrik atau New Energy Vehicle (NEV). Angka ini menunjukkan kecepatan transisi yang luar biasa.

Pergeseran ini tidak hanya terjadi pada kendaraan pribadi. China juga telah mengadopsi baterai sebagai sumber energi untuk berbagai jenis transportasi, mulai dari angkutan umum, angkutan berat, hingga sektor perkapalan. Inovasi dan dukungan pemerintah yang kuat telah mendorong percepatan ini, menjadikan China sebagai laboratorium masa depan mobilitas global.

Bisnis SPBU Terancam Punah?

Dengan dominasi kendaraan listrik yang semakin kuat, permintaan akan bahan bakar fosil seperti bensin dan diesel tentu saja menurun drastis. Akibatnya, banyak SPBU yang tidak lagi mampu bertahan dan terpaksa menutup operasionalnya. Lebih dari 60 persen SPBU yang tutup ini adalah cerminan langsung dari perubahan perilaku konsumen dan kebijakan energi yang diterapkan.

Yuliot dari Kementerian ESDM menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan dampak langsung dari perubahan penggunaan energi. Ini bukan hanya masalah lokal di China, tetapi juga memiliki implikasi global yang serius. Bisnis kilang minyak di seluruh dunia pun terancam terdampak, karena permintaan bahan bakar olahan yang terus menyusut.

Target Ambisius China untuk NEV

Ambisi China untuk mendominasi pasar kendaraan listrik memang sudah terlihat sejak lama. Reuters melaporkan bahwa Kementerian Perindustrian China menargetkan penjualan mobil baru sebanyak 32,3 juta unit pada tahun ini. Dari jumlah tersebut, segmen New Energy Vehicle (NEV) ditargetkan mencapai 15,5 juta unit.

Ini berarti hampir 50 persen dari seluruh penjualan mobil baru di China adalah NEV, yang mencakup kendaraan listrik murni dan hybrid. Pemerintah China juga berjanji akan terus membuat aturan main baru untuk mengatasi berbagai tantangan di sektor otomotif, termasuk perang harga yang sempat terjadi, demi menjaga stabilitas dan pertumbuhan pasar NEV. Komitmen ini semakin mempercepat transisi energi.

Dampak Global dan Masa Depan Energi

Apa yang terjadi di China adalah sebuah cermin bagi negara-negara lain di dunia, termasuk Indonesia. Transisi energi menuju penggunaan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan adalah keniscayaan. Jika negara sebesar China saja sudah merasakan dampaknya hingga puluhan persen SPBU tutup, maka ini adalah peringatan serius bagi industri minyak dan gas global.

Kilang-kilang minyak di seluruh dunia harus mulai memikirkan strategi adaptasi. Mereka tidak bisa lagi hanya mengandalkan produksi bahan bakar fosil. Diversifikasi ke energi terbarukan, hidrogen, atau infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik bisa menjadi kunci untuk bertahan di era baru ini. Jika tidak, nasib mereka mungkin akan serupa dengan SPBU di China yang terpaksa gulung tikar.

Adaptasi atau Mati: Pilihan Sulit Industri Migas

Perusahaan-perusahaan minyak raksasa kini dihadapkan pada pilihan sulit: beradaptasi atau menghadapi kepunahan. Beberapa di antaranya sudah mulai berinvestasi besar-besaran pada infrastruktur pengisian daya EV, teknologi hidrogen, dan proyek energi terbarukan lainnya. Ini adalah langkah proaktif untuk tetap relevan di tengah gelombang perubahan.

Namun, tantangannya tidak kecil. Membangun ekosistem energi baru membutuhkan investasi triliunan dolar dan perubahan fundamental dalam model bisnis. Ini bukan hanya tentang mengganti satu jenis energi dengan yang lain, tetapi juga tentang mengubah seluruh rantai pasokan dan pola konsumsi masyarakat secara global.

Indonesia Siap Hadapi Era Baru?

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Sebagai negara yang juga sedang gencar mendorong adopsi kendaraan listrik, pengalaman China bisa menjadi pelajaran berharga. Kesiapan infrastruktur pengisian daya, kebijakan insentif, dan edukasi masyarakat menjadi kunci agar transisi ini berjalan mulus tanpa menimbulkan gejolak ekonomi yang berarti.

Masa depan energi sudah di depan mata, dan China telah memberikan gambaran yang sangat jelas. Era bensin mungkin belum sepenuhnya berakhir, tetapi tanda-tanda kemundurannya sudah sangat nyata. Pertanyaannya, apakah kita siap menghadapi era baru di mana SPBU mungkin hanya akan menjadi bagian dari sejarah? Waktu yang akan menjawabnya.

banner 325x300