banner 728x250

Kemenag Siap Rombak Total Pendidikan Tinggi Keagamaan? Wamenag Usul Dirjen Baru Demi Anggaran Melimpah!

Wamenag Romo Muhammad Syafi'i menyerahkan voucher dana Rp 100 juta kepada pengurus Al Jam'iyatul Washliyah.
Wakil Menteri Agama Romo HR Muhammad Syafi'i menyerahkan voucher. Usulannya untuk Dirjen PTK Kemenag bertujuan perkuat anggaran pendidikan tinggi keagamaan.
banner 120x600
banner 468x60

Wakil Menteri Agama (Wamenag) RI, Romo HR Muhammad Syafi’i, membuat gebrakan dengan mengusulkan pembentukan Direktorat Jenderal (Dirjen) Pendidikan Tinggi Keagamaan di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag). Usulan ini bukan sekadar perubahan struktural biasa, melainkan langkah strategis untuk memperkuat tata kelola dan membuka keran pendanaan yang lebih luas bagi seluruh perguruan tinggi keagamaan di Indonesia.

Selama ini, banyak perguruan tinggi keagamaan, termasuk Universitas Islam Negeri (UIN), menghadapi tantangan serius dalam mendapatkan alokasi anggaran yang memadai. Kondisi ini menghambat mereka untuk mengembangkan akademik dan infrastruktur secara optimal, padahal potensi mereka sangat besar. Akar masalahnya terletak pada posisi kelembagaan mereka yang masih berada di bawah direktorat, bukan setingkat direktorat jenderal.

banner 325x300

Status kelembagaan ini menjadi krusial karena memengaruhi akses terhadap sumber daya dan kesempatan. Dengan dinaikkannya status menjadi direktorat jenderal, diharapkan perguruan tinggi keagamaan bisa bersaing lebih setara dengan institusi pendidikan tinggi lain yang langsung berada di bawah kementerian. Ini adalah kunci untuk membuka pintu pendanaan yang selama ini sulit dijangkau.

Mengapa Dirjen Pendidikan Tinggi Keagamaan Jadi Kebutuhan Mendesak?

Romo Syafi’i menegaskan bahwa banyak kesempatan emas yang seharusnya bisa direbut oleh lembaga pendidikan keagamaan justru terhambat oleh keterbatasan anggaran. Mereka kesulitan berpacu dengan perguruan tinggi lain yang memiliki jalur pendanaan lebih langsung dan besar. Kesenjangan ini menciptakan disparitas yang signifikan dalam pengembangan institusi.

Peningkatan struktur kelembagaan dari direktorat menjadi direktorat jenderal akan secara otomatis mengurangi kesenjangan alokasi anggaran tersebut. Lembaga yang langsung berada di bawah menteri cenderung mendapatkan anggaran yang lebih besar dan prioritas yang lebih tinggi. Oleh karena itu, langkah menaikkan status menjadi Dirjen adalah solusi konkret untuk masalah ini.

Bayangkan potensi yang bisa digali jika UIN dan perguruan tinggi keagamaan lainnya memiliki anggaran yang memadai. Mereka bisa berinvestasi dalam riset inovatif, fasilitas modern, dan program studi yang relevan dengan kebutuhan zaman. Ini bukan hanya tentang uang, tetapi tentang masa depan pendidikan agama yang lebih cerah dan kompetitif.

Penyatuan Pengelolaan: Efisiensi dan Inklusivitas untuk Semua Agama

Selain usulan Dirjen Pendidikan Tinggi Keagamaan, Romo Syafi’i juga menyoroti pentingnya penyatuan pengelolaan pendidikan tinggi semua agama di bawah satu payung direktorat jenderal. Saat ini, pendidikan tinggi Islam dikelola oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, sementara pendidikan tinggi Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha ditangani oleh masing-masing Direktorat Bimbingan Masyarakat (Bimas).

Fragmentasi pengelolaan ini menyebabkan penanganan yang terpecah-pecah dan kurang efektif. Padahal, semua institusi pendidikan tinggi keagamaan, terlepas dari agamanya, adalah bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Mereka memiliki tujuan yang sama: mencetak generasi penerus yang berilmu dan berakhlak mulia.

Jika semua digabung dalam satu direktorat jenderal, proses pengorganisasian dan koordinasi akan jauh lebih mudah dan efisien. Kebijakan dapat diseragamkan, sumber daya dapat dialokasikan secara lebih adil, dan program-program pengembangan dapat direncanakan secara holistik. Ini adalah langkah maju menuju pendidikan agama yang lebih inklusif dan terintegrasi.

Penyatuan ini juga akan mengirimkan pesan kuat tentang persatuan dan kesetaraan di antara berbagai komunitas agama di Indonesia. Tidak ada lagi dikotomi atau perbedaan perlakuan dalam pengelolaan pendidikan tinggi keagamaan. Semua akan diperlakukan setara, demi kemajuan bangsa secara keseluruhan.

Terobosan untuk Madrasah: Vokasi sebagai Jembatan ke Dunia Kerja

Tak hanya fokus pada pendidikan tinggi, Romo Syafi’i juga menyoroti perlunya penguatan pendidikan kejuruan di madrasah. Ia melihat belum adanya madrasah kejuruan sebagai kekosongan strategis yang harus segera diisi. Terutama dalam mendukung agenda hilirisasi dan industrialisasi nasional yang sedang digalakkan pemerintah.

Bayangkan potensi besar yang bisa dihasilkan jika Indonesia memiliki madrasah kejuruan yang mumpuni. Para alumninya bisa langsung mengisi lapangan kerja yang terbuka luas melalui program industrialisasi nasional. Mereka akan menjadi tenaga kerja terampil yang siap pakai, memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian.

Saat ini, kita belum memiliki model madrasah kejuruan yang terstruktur dengan baik. Ini adalah peluang besar untuk menciptakan lulusan madrasah yang tidak hanya memiliki bekal ilmu agama, tetapi juga keterampilan praktis yang relevan dengan pasar kerja. Mereka akan menjadi aset berharga bagi pembangunan bangsa.

Oleh karena itu, Romo Syafi’i mengusulkan pembentukan Direktorat Vokasi di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. Direktorat ini nantinya akan fokus mengembangkan kurikulum dan infrastruktur khusus untuk madrasah kejuruan. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan angkatan kerja Indonesia.

Visi Besar untuk Masa Depan Pendidikan Agama di Indonesia

Visi Romo Syafi’i untuk madrasah sangat ambisius dan berorientasi masa depan. Ia ingin madrasah memiliki spesialisasi yang jelas dan beragam, sesuai dengan minat serta kebutuhan bangsa. Ini akan menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih kaya dan adaptif.

Ada madrasah program keagamaan yang fokus mencetak ulama dan cendekiawan agama, menjaga tradisi keilmuan Islam. Kemudian, ada madrasah insan cendekia yang didesain untuk melahirkan ilmuwan dan inovator di berbagai bidang. Dan kini, akan ada madrasah kejuruan yang mencetak tenaga kerja terampil, siap bersaing di dunia industri.

Semua jalur ini akan memberikan peluang yang berbeda bagi siswa, sesuai dengan bakat dan minat mereka. Ini adalah langkah progresif untuk memastikan bahwa madrasah tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga pusat pengembangan potensi diri yang relevan dengan tuntutan zaman.

Dengan adanya spesialisasi ini, madrasah akan semakin relevan dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Ini adalah visi besar yang akan membawa pendidikan agama di Indonesia ke level yang lebih tinggi, menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas spiritual, tetapi juga kompeten dan berdaya saing global.

banner 325x300