Kamis, 25 September 2025 – Suasana Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang seharusnya khidmat mendadak diwarnai drama tak terduga. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membuat geger publik setelah menuntut penyelidikan serius atas dugaan "sabotase" yang ia klaim menimpanya selama kehadirannya di markas PBB. Insiden ini, menurut Trump, bukan sekadar kebetulan, melainkan serangkaian upaya jahat untuk mempermalukannya.
Awal Mula Drama: Insiden Beruntun di Markas PBB
Kisah ini bermula pada Rabu (24/9) waktu setempat, ketika Trump dan Ibu Negara Melania Trump sedang dalam perjalanan menuju ruang Sidang Majelis Umum PBB. Mereka menaiki eskalator, namun tiba-tiba eskalator tersebut mati di tengah jalan, membuat keduanya sempat terhenti dan nyaris terjatuh. Trump menggambarkan momen itu sebagai pengalaman yang sangat berbahaya, di mana mereka harus berpegangan erat agar tidak terjerembap.
Tak berhenti di situ, drama berlanjut saat Trump bersiap menyampaikan pidatonya yang sangat dinantikan. Teleprompter yang seharusnya menampilkan teks pidatonya mendadak rusak, menyebabkan gangguan signifikan. Belum cukup, Trump juga mengklaim adanya gangguan pada pengeras suara saat ia sedang berpidato, menambah daftar panjang "kejadian aneh" yang ia alami.
Dari Lelucon Jadi Tuntutan Serius: Kenapa Trump Berubah Pikiran?
Awalnya, Trump sempat menanggapi insiden ini dengan santai, bahkan melontarkan lelucon mengenai eskalator dan teleprompter yang "bermasalah" dalam pidatonya pada Selasa (23/9). Sikapnya yang humoris kala itu membuat banyak pihak mengira insiden tersebut akan berlalu begitu saja. Namun, hanya berselang sehari, nada Trump berubah drastis.
Dari seorang pemimpin yang bercanda, ia kini tampil sebagai sosok yang marah dan menuntut keadilan. Perubahan sikap ini menimbulkan pertanyaan besar: apa yang membuat Trump begitu yakin bahwa insiden tersebut adalah "sabotase" dan bukan sekadar kerusakan teknis biasa? Tampaknya ada sesuatu yang memicu kemarahannya hingga mencapai titik ini.
Klaim "Sabotase Nyata" dan Keterlibatan Secret Service
Melalui unggahan di media sosialnya, Trump dengan tegas menyatakan bahwa ia telah mengirim surat kepada Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres. Surat tersebut berisi tuntutan resmi untuk investigasi menyeluruh atas ketiga insiden yang ia sebut sebagai "sabotase nyata." Ia bahkan mengutip laporan dari The Sunday Times yang menyebutkan bahwa staf PBB sebelumnya pernah bercanda akan mematikan eskalator untuk mempermalukan Presiden AS.
"Luar biasa sekali bahwa Melania dan saya tidak terjatuh ke depan, mengenai sisi tajam anak tangga baja itu," tulis Trump dengan nada geram. "Hanya karena kami berpegangan erat pada pegangan tangan, kalau tidak, pasti akan menjadi bencana." Ia juga mendesak agar "mereka yang melakukannya harus ditangkap!" menunjukkan keseriusan tudingannya. Dinas Rahasia AS (Secret Service) bahkan telah ikut turun tangan untuk menyelidiki insiden ini, menggarisbawahi betapa seriusnya klaim yang dilontarkan oleh orang nomor satu di Amerika Serikat tersebut.
Respons PBB: Penjelasan Teknis dan Tudingan Balik
Menanggapi tudingan serius dari Presiden AS, pihak PBB segera memberikan klarifikasi. Juru bicara PBB, Stéphane Dujarric, menjelaskan bahwa kerusakan eskalator kemungkinan besar dipicu oleh seorang videografer dari delegasi AS sendiri. Videografer tersebut, menurut Dujarric, secara tidak sengaja menekan tombol darurat, menyebabkan eskalator berhenti mendadak.
Sementara itu, juru bicara PBB lainnya, Farhan Aziz Haq, memberikan penjelasan terkait masalah teleprompter. Haq menyebutkan bahwa teleprompter yang digunakan Trump saat berpidato adalah milik timnya sendiri, bukan fasilitas PBB. Oleh karena itu, pertanyaan terkait kerusakan teleprompter sebaiknya diarahkan langsung ke Gedung Putih, bukan kepada pihak PBB. Penjelasan ini seolah membalikkan tudingan Trump, mengindikasikan bahwa masalah teknis tersebut mungkin berasal dari internal timnya sendiri.
Bukan Sekadar Eskalator Mati: Apa Implikasi Politiknya?
Terlepas dari penjelasan teknis yang diberikan PBB, klaim "sabotase" oleh Donald Trump memiliki implikasi politik yang tidak bisa diabaikan. Ini bukan sekadar insiden kecil, melainkan pernyataan serius dari seorang kepala negara terhadap organisasi internasional terbesar di dunia. Tudingan ini bisa memperkeruh hubungan antara Amerika Serikat dan PBB, terutama di tengah isu-isu global yang membutuhkan kerja sama erat.
Narasi "sabotase" juga dapat dimanfaatkan dalam politik domestik AS, memperkuat citra Trump sebagai korban konspirasi atau upaya jahat dari pihak-pihak yang tidak menyukainya. Hal ini bisa memicu perdebatan sengit antara pendukung dan penentangnya, menambah polarisasi yang sudah ada. Insiden ini, betapapun kecilnya, berpotensi menjadi bumbu dalam dinamika politik global dan nasional.
Mengapa Trump Begitu Sensitif Terhadap Insiden Ini?
Sikap Trump yang begitu reaktif terhadap insiden ini mungkin berakar pada kepribadian dan pengalamannya selama ini. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat peka terhadap citra dan reputasinya, serta tidak segan melontarkan tudingan serius jika merasa diperlakukan tidak adil atau direndahkan. Dalam banyak kesempatan, ia seringkali mengklaim menjadi target "berita palsu" atau upaya pembusukan karakter.
Insiden di PBB ini, bagi Trump, mungkin bukan hanya masalah teknis, melainkan simbol dari upaya sistematis untuk merusak penampilannya di panggung dunia. Oleh karena itu, ia merasa perlu untuk bereaksi keras dan menuntut penyelidikan, tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk menegaskan posisinya sebagai pemimpin yang tidak akan diam begitu saja. Entah itu sabotase nyata atau hanya serangkaian kebetulan, drama di markas PBB ini telah berhasil mencuri perhatian dunia.


















