banner 728x250

Tak Disangka! Ginting Tersingkir di Korea Open 2025, Skornya Bikin Nyesek!

Anthony Ginting bermain bulu tangkis di Korea Open 2025.
Kekalahan Anthony Ginting di babak 16 besar Korea Open 2025 mengejutkan penggemar bulu tangkis.
banner 120x600
banner 468x60

Kabar mengejutkan datang dari ajang Korea Open 2025. Salah satu andalan tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting, harus menelan pil pahit kekalahan di babak 16 besar. Berhadapan dengan wakil Jepang, Kenta Nishimoto, Ginting takluk dalam pertarungan dua gim langsung yang berlangsung di Suwon Gymnasium, Kamis (25/9).

Hasil ini tentu saja membuat banyak penggemar bulutangkis Indonesia merasa kecewa dan bertanya-tanya, ada apa dengan Ginting? Perjalanan Ginting yang diharapkan bisa melaju jauh di turnamen ini harus terhenti lebih awal, menyisakan pekerjaan rumah besar bagi tim pelatih dan dirinya sendiri.

banner 325x300

Awal yang Menjanjikan, Berakhir Pahit di Gim Pertama

Pertandingan antara Ginting dan Nishimoto sudah diprediksi akan berjalan sengit, mengingat rekor pertemuan keduanya yang kerap menyajikan drama. Ginting sempat mengawali gim pertama dengan sangat menjanjikan, berhasil unggul 4-1 dan menunjukkan dominasi di awal laga. Pukulan-pukulan tajam dan penempatan bola yang akurat sempat membuat Nishimoto kesulitan.

Namun, keunggulan itu tak bertahan lama. Kenta Nishimoto perlahan tapi pasti mulai menemukan ritme permainannya, memanfaatkan kesalahan-kesalahan yang dibuat Ginting. Beberapa kali pengembalian kok Ginting menyangkut di net atau melebar, memberikan poin cuma-cuma bagi lawan.

Meskipun sempat menempel ketat hingga skor 9-9, Nishimoto berhasil meraih dua poin beruntun dan unggul di interval gim pertama. Selepas jeda, momentum seolah berpindah sepenuhnya ke tangan Nishimoto. Pemain Jepang itu sempat meraih empat poin beruntun, menjadi modal penting untuk mengamankan gim pertama.

Ginting terus berupaya mengejar, namun Nishimoto tampil lebih solid dan minim kesalahan. Akhirnya, gim pertama harus lepas dari genggaman Ginting dengan skor 18-21. Sebuah awal yang pahit bagi wakil Indonesia di turnamen penting ini.

Gim Kedua yang Penuh Perjuangan, Namun Tak Cukup

Memasuki gim kedua, harapan untuk melihat Ginting bangkit sempat membumbung tinggi. Penggemar berharap Ginting bisa menemukan kembali sentuhan terbaiknya dan memaksakan rubber game. Sayangnya, Kenta Nishimoto justru memulai dengan lebih agresif, langsung memimpin 4-1 dan terus menjaga jarak.

Pemain dari SGS Bandung itu tak menyerah begitu saja. Ginting berulang kali berusaha memangkas ketertinggalan, menunjukkan semangat juang yang luar biasa. Skor sempat merapat di 5-6 dan 7-8, namun setiap kali Ginting mendekat, Nishimoto selalu berhasil menjauh dengan variasi serangan yang efektif.

Interval gim kedua ditutup dengan keunggulan Nishimoto 11-7. Setelah jeda, kedua pemain kembali mengadu serangan, saling bergantian meraih poin dalam reli-reli panjang yang menguras tenaga. Ginting kembali bisa memangkas jarak menjadi 12-13, namun lagi-lagi setelah itu Nishimoto berhasil meninggalkannya.

Puncaknya, Ginting yang sempat tertinggal jauh 12-18, berhasil mencetak enam poin beruntun dan menipiskan skor menjadi 18-19. Momen ini sempat membangkitkan asa, namun momentum itu tak cukup untuk membalikkan keadaan. Nishimoto berhasil mengamankan dua poin krusial dan menutup gim kedua dengan 21-19, sekaligus mengakhiri perjalanan Ginting di Korea Open 2025.

Apa yang Terjadi pada Ginting? Analisis Kekalahan

Kekalahan Ginting ini tentu menjadi bahan evaluasi penting bagi tim pelatih dan dirinya sendiri. Terlihat jelas bahwa Ginting kesulitan keluar dari tekanan Nishimoto, yang bermain sangat solid, ulet, dan minim kesalahan sepanjang pertandingan. Nishimoto berhasil menjaga fokus dan konsistensi, sesuatu yang tampaknya sedikit hilang dari Ginting di momen-momen krusial.

Faktor mental dan fokus juga disinyalir menjadi salah satu penyebab, mengingat Ginting kerap membuat kesalahan sendiri di poin-poin penting. Beberapa kali kok yang seharusnya bisa menjadi poin justru menyangkut di net atau keluar lapangan, memberikan keuntungan bagi lawan. Kenta Nishimoto sendiri memang dikenal sebagai pemain yang ulet dan memiliki pertahanan yang kuat, seringkali menjadi batu sandungan bagi para pemain top.

Meskipun Ginting memiliki rekor pertemuan yang cukup baik melawan Nishimoto sebelumnya, kali ini wakil Jepang itu tampil lebih superior. Ia berhasil membaca permainan Ginting dan menerapkan strategi yang tepat untuk meredam serangan-serangan cepat Ginting. Ini menunjukkan bahwa di level elite, setiap pertandingan adalah tantangan baru, dan rekor masa lalu tidak selalu menjadi jaminan.

Rekor Pertemuan: Nishimoto Bukan Lawan Sembarangan

Sebelum pertandingan ini, Anthony Sinisuka Ginting memang unggul dalam rekor pertemuan melawan Kenta Nishimoto. Dari delapan pertemuan sebelumnya, Ginting berhasil memenangkan enam di antaranya, sementara Nishimoto hanya dua kali. Kemenangan terakhir Ginting atas Nishimoto terjadi di Kejuaraan Asia 2024.

Namun, statistik hanyalah angka. Nishimoto menunjukkan bahwa ia selalu siap memberikan perlawanan sengit, dan kali ini ia berhasil membalikkan prediksi. Kemenangan ini tentu menjadi suntikan moral besar bagi Nishimoto, sekaligus peringatan bagi Ginting untuk lebih waspada di pertemuan selanjutnya. Setiap pemain di level ini memiliki potensi untuk mengejutkan, dan Nishimoto membuktikannya hari ini.

Nasib Wakil Indonesia Lain di Korea Open 2025

Kekalahan Ginting menambah daftar panjang wakil Indonesia yang harus tersingkir di babak 16 besar Korea Open 2025. Sebelumnya, tunggal putra Chico Aura Dwi Wardoyo juga harus mengakui keunggulan Chou Tien Chen dari Chinese Taipei dalam pertandingan yang tak kalah sengit. Ini berarti dua andalan tunggal putra Indonesia harus angkat koper lebih awal.

Namun, ada kabar baik dari tunggal putra lainnya, Alwi Farhan, yang berhasil melaju ke perempat final setelah menang WO (Walkover) atas Lee Cheuk Yiu. Kemenangan tanpa bertanding ini tentu menjadi keuntungan bagi Alwi untuk menjaga kebugaran dan fokus pada babak selanjutnya.

Di sektor ganda campuran, Indonesia juga berhasil mengirimkan wakilnya ke perempat final. Pasangan Amri Syahnaw/Nita Violina Marwah tampil perkasa dengan menundukkan unggulan keenam asal Jepang, Hiroki Midorikawa/Natsu Saito. Mereka sukses meraih kemenangan dua gim langsung dengan skor meyakinkan 21-19 dan 21-14, memastikan satu tempat di perempat final dan menjaga asa Indonesia di sektor ini.

Menatap Masa Depan: Evaluasi dan Harapan

Tersingkirnya Ginting di Korea Open 2025 ini tentu menjadi pukulan, namun bukan akhir dari segalanya. Tim pelatih dan Ginting sendiri perlu segera melakukan evaluasi menyeluruh untuk mencari tahu akar masalah dan memperbaiki performa di turnamen-turnamen berikutnya. Konsistensi, fokus, dan strategi di lapangan menjadi kunci yang harus terus diasah.

Fokus kini beralih kepada wakil Indonesia yang masih bertahan, seperti Alwi Farhan dan Amri/Nita. Mereka diharapkan bisa melangkah sejauh mungkin, bahkan membawa pulang gelar juara untuk Indonesia. Dukungan penuh dari masyarakat tentu akan menjadi energi tambahan bagi mereka.

Bagi Ginting, ini adalah bagian dari proses seorang atlet. Ia adalah pebulutangkis kelas dunia yang pasti akan bangkit lebih kuat dari kekalahan ini. Semoga kekalahan ini menjadi pelajaran berharga dan memacu semangat para atlet Indonesia untuk terus berprestasi di turnamen-turnamen berikutnya. Bagaimana menurutmu, apakah Ginting akan segera menemukan kembali performa terbaiknya?

banner 325x300