Kabar mengejutkan datang dari skuad Timnas Indonesia menjelang Kualifikasi Piala Dunia 2026. Nama Mees Hilgers, bek tangguh yang selama ini menjadi andalan, tiba-tiba menghilang dari daftar pemain yang dipanggil. Publik bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi di balik keputusan besar ini?
Anggota Komite Eksekutif PSSI, Arya Sinulingga, akhirnya buka suara dan membeberkan alasan di balik pencoretan Mees Hilgers. Keputusan ini bukan semata-mata karena performa di lapangan, melainkan ada masalah internal klub yang jauh lebih krusial dan mendesak.
Mees Hilgers dan Misteri Absennya
Mees Hilgers, bek tengah kelahiran Belanda dengan darah Indonesia, sebelumnya selalu menjadi pilihan utama dalam skuad Garuda. Kualitasnya yang solid di lini belakang, kemampuan membaca permainan, serta fisik yang prima, membuatnya jadi aset berharga bagi Timnas Indonesia. Oleh karena itu, absennya Hilgers menjelang laga penting melawan Arab Saudi dan Irak menimbulkan tanda tanya besar.
Banyak spekulasi beredar, mulai dari cedera hingga masalah teknis. Namun, PSSI melalui Arya Sinulingga menegaskan bahwa alasan di balik absennya Hilgers jauh dari dugaan tersebut. Ini semua berkaitan dengan situasi pelik yang sedang dihadapi sang pemain di klubnya.
Konflik Kontrak yang Mengganjal
Menurut Arya Sinulingga, Mees Hilgers saat ini sedang dalam kondisi yang mengharuskan dirinya untuk fokus penuh pada klubnya, FC Twente. "Sudah pasti karena Mees sekarang lagi konsentrasi ke klubnya," ujar Arya, menjelaskan inti permasalahannya. Situasi ini bahkan menjadi sorotan media di Belanda, di mana Hilgers kerap dipertanyakan mengapa tidak dimainkan padahal kualitasnya sangat bagus.
PSSI tidak ingin masalah di klub mengganggu konsentrasi Hilgers saat membela Timnas. Konsentrasi penuh adalah kunci performa maksimal di sepak bola, dan PSSI memahami bahwa Hilgers sedang berada dalam situasi yang sangat menekan. Oleh karena itu, PSSI memutuskan untuk memberikan waktu dan ruang bagi Hilgers untuk menyelesaikan permasalahannya di klub.
Dilema Sang Pemain dan Kebijakan Klub
Permasalahan yang mendera Mees Hilgers di FC Twente bukanlah hal baru. Gesekan ini bermula pada bursa transfer awal musim ini, ketika Hilgers gagal hengkang ke klub peminat karena FC Twente tidak mencapai kesepakatan. Padahal, Hilgers sendiri disebut-sebut memiliki keinginan untuk mencari tantangan baru.
Setelah kegagalan transfer tersebut, posisi Hilgers di klub menjadi rumit. Bek berusia 24 tahun itu menolak untuk memperpanjang kontraknya yang akan berakhir pada Juni 2026. Situasi ini membuat manajemen FC Twente mengambil langkah tegas. Mereka tidak ingin kehilangan Hilgers secara gratis di akhir musim, sehingga membekukan sang pemain dari skuad utama.
Keputusan klub untuk membekukan pemain yang menolak perpanjangan kontrak adalah hal yang lumrah dalam sepak bola modern. Ini adalah strategi klub untuk menekan pemain agar mau memperpanjang kontrak atau setidaknya menyetujui transfer di bursa berikutnya. Bagi Hilgers, ini adalah dilema besar: antara bermain reguler dan menjaga performa, atau bertahan pada prinsipnya mengenai kontrak.
Prioritas PSSI: Fokus Pemain di Atas Segalanya
PSSI memahami betul bahwa seorang pemain tidak bisa tampil maksimal jika pikirannya terpecah. Tekanan dari klub, masa depan karier yang tidak pasti, dan ketidakjelasan status bisa sangat memengaruhi mental dan performa di lapangan. Oleh karena itu, keputusan untuk tidak memanggil Hilgers adalah bentuk dukungan PSSI agar sang pemain bisa menyelesaikan masalah pribadinya terlebih dahulu.
"Kita gak mau dia kehilangan konsentrasi karena konsentrasi di sepak bola konsentrasi sangat wajar sehingga Mees kita kasih waktu, kasih ruang konsentrasi di permasalahannya," tegas Arya Sinulingga. Ini menunjukkan bahwa PSSI memprioritaskan kesejahteraan mental dan fokus pemain, demi kepentingan jangka panjang baik bagi pemain itu sendiri maupun Timnas Indonesia.
Patrick Kluivert, pelatih Timnas Indonesia, tentu juga mempertimbangkan faktor ini. Memiliki pemain yang tidak 100% fokus bisa menjadi bumerang bagi tim, terutama dalam laga-laga krusial Kualifikasi Piala Dunia. Keputusan ini, meskipun berat, adalah langkah pragmatis untuk menjaga stabilitas dan performa tim.
Kedalaman Skuad Timnas Indonesia Tanpa Hilgers
Meskipun kehilangan Mees Hilgers adalah kerugian, Timnas Indonesia saat ini memiliki kedalaman skuad yang cukup mumpuni, terutama di posisi bek tengah. Ini menunjukkan progres positif dalam pembangunan tim nasional yang tidak lagi terlalu bergantung pada satu atau dua pemain kunci.
Kualitas pemain diaspora yang berhasil dinaturalisasi dan pemain lokal yang terus berkembang memberikan banyak opsi bagi pelatih. Hal ini menjadi bukti bahwa program naturalisasi dan pembinaan pemain muda berjalan beriringan, menciptakan persaingan sehat di setiap lini.
Opsi Bek Tengah yang Melimpah
Tanpa Mees Hilgers, posisi bek tengah Timnas Indonesia tetap dihuni oleh nama-nama berkualitas. Ada Jordi Amat, bek berpengalaman yang menjadi pilar di lini belakang. Kemudian ada Rizky Ridho, bek muda potensial dengan kepemimpinan yang kuat. Justin Hubner, dengan gaya bermainnya yang agresif, juga siap menjadi tembok pertahanan.
Selain itu, ada Kevin Diks dan Jay Idzes yang juga menunjukkan performa impresif di klub masing-masing. Keduanya memiliki kemampuan yang solid dan bisa menjadi pilihan utama. Tidak hanya itu, pemain-pemain serbaguna seperti Calvin Verdonk dan Sandy Walsh juga bisa bermain di posisi full back maupun center back, memberikan fleksibilitas taktis bagi pelatih.
Kedalaman skuad ini memastikan bahwa absennya Hilgers tidak akan terlalu memengaruhi kekuatan pertahanan Timnas Indonesia. Para pemain yang ada siap memberikan yang terbaik untuk menghadapi tantangan di Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Masa Depan Mees Hilgers: Antara Klub dan Merah Putih
Situasi Mees Hilgers di FC Twente tentu menjadi perhatian serius. Bagaimana nasibnya jika ia terus dibekukan? Apakah ia akan mencari klub baru di bursa transfer berikutnya? Atau akankah ia menyerah dan memperpanjang kontrak demi mendapatkan menit bermain? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh Hilgers dan agennya.
Bagi Timnas Indonesia, pintu untuk Mees Hilgers tentu tidak tertutup. PSSI telah menunjukkan bahwa mereka menghargai situasi pribadi pemain. Jika Hilgers berhasil menyelesaikan masalah kontraknya dan kembali mendapatkan menit bermain reguler, tidak menutup kemungkinan ia akan kembali dipanggil untuk membela Garuda di masa depan. Kualitasnya yang sudah terbukti akan selalu dibutuhkan.
Pelajaran Penting untuk Pemain Diaspora
Kasus Mees Hilgers ini menjadi pelajaran penting bagi para pemain diaspora yang ingin membela Timnas Indonesia. Keputusan untuk berpindah kewarganegaraan dan membela negara leluhur adalah komitmen besar. Namun, masalah di klub, terutama terkait kontrak, bisa menjadi batu sandungan yang tak terduga.
Penting bagi para pemain untuk memiliki manajemen karier yang baik, termasuk dalam urusan kontrak. Konflik dengan klub bisa berdampak serius pada performa dan kesempatan bermain, yang pada akhirnya akan memengaruhi peluang mereka untuk dipanggil ke tim nasional. PSSI sendiri akan selalu memprioritaskan pemain yang siap secara fisik, mental, dan bebas dari masalah di klub.
Dengan demikian, absennya Mees Hilgers dari Timnas Indonesia bukanlah akhir dari segalanya. Ini adalah fase yang harus dilalui sang pemain untuk menyelesaikan masalahnya di klub. Semoga saja, Hilgers bisa segera menemukan solusi terbaik agar bisa kembali merumput dan, tentu saja, kembali mengenakan seragam kebanggaan Merah Putih di kemudian hari.


















