Presiden Kolombia, Gustavo Petro, mendadak jadi sorotan dunia setelah pidatonya di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (SMU PBB) pada Rabu (24/9) lalu. Pernyataannya yang berani dan blak-blakan sukses mengguncang forum internasional tersebut. Ia tak segan menyerukan penghentian genosida di Palestina dan bahkan meminta penyelidikan terhadap mantan Presiden AS, Donald Trump. Sebuah langkah yang sangat jarang dilakukan oleh seorang kepala negara di panggung PBB.
Pidato Kontroversial yang Mengguncang PBB
Dalam pidatonya, Petro secara tegas menyuarakan keprihatinannya terhadap situasi di Gaza. Ia menekankan bahwa kemanusiaan tidak bisa lagi membiarkan genosida terus berlangsung. "Pertama-tama kita harus menghentikan genosida di Gaza. Kemanusiaan tidak bisa membiarkan satu hari pun genosida ini terjadi lagi," ujarnya, dikutip dari Al Jazeera.
Tak hanya itu, Petro juga menyinggung insiden serangan ke kapal di Karibia. Ia meminta agar Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, diselidiki terkait peristiwa tersebut. Pernyataan ini sontak memicu beragam reaksi dan menjadi topik hangat di berbagai media internasional.
Siapa Sebenarnya Gustavo Petro?
Sosok Gustavo Petro memang bukan politisi biasa. Ia berhasil naik ke tampuk kekuasaan sebagai Presiden Kolombia setelah memenangkan pemilihan pada Juni 2022. Petro meraih 50,44 persen atau sekitar 11,2 juta suara, menjadikannya presiden berhaluan kiri pertama dalam sejarah Kolombia. Kemenangannya menandai perubahan signifikan dalam lanskap politik negara tersebut.
Visi Radikal untuk Kolombia yang Lebih Hijau dan Adil
Sebagai seorang capres, Petro datang dengan visi yang berani dan seringkali dianggap "mengganggu" para pengusaha. Ia berjanji akan menghadapi skenario politik dan sosial yang kompleks di Kolombia. Salah satu agenda utamanya adalah menciptakan ekonomi yang lebih hijau. Petro ingin menghapuskan ketergantungan pada ekstraksi minyak dan pertambangan batu bara.
Sebagai gantinya, ia mengusulkan pengembangan pariwisata dan industri berbasis pengetahuan. Visi ini disambut antusias oleh para aktivis lingkungan. Selain itu, Petro juga ingin menyeimbangkan persaingan ekonomi. Ia berencana menaikkan pajak bagi orang kaya untuk mendanai program-program pengentasan kemiskinan. Ia juga berjanji akan melindungi Hutan Hujan Amazon, sebuah komitmen penting untuk keberlanjutan lingkungan global.
Jejak Karir Politik yang Penuh Lika-liku
Perjalanan politik Gustavo Petro dimulai jauh sebelum ia menjadi presiden. Pada tahun 1991, ia pertama kali menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kolombia. Namun, karirnya sempat terhenti. Pada tahun 1994, nyawanya terancam, memaksanya melarikan diri dari Kolombia dan menerima jabatan sebagai atase diplomatik di Brussel, Belgia.
Selama di Belgia hingga tahun 1996, Petro tidak hanya bersembunyi. Ia juga menempuh pendidikan sarjana dan magister ekonomi dari Universitas Externado Kolombia dan Universitas Javeriana. Sekembalinya ke tanah air, ia kembali terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat pada tahun 1998 dan menjabat lagi pada tahun 2002. Empat tahun kemudian, ia menjadi senator dan dikenal vokal mengkritik Presiden Alvaro Uribe.
Petro sempat mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2010, namun gagal dan hanya finis di posisi keempat. Dua tahun kemudian, ia memulai masa jabatan kontroversial sebagai wali kota Bogotá (2012-2015). Sebagai wali kota, ia memperkenalkan sejumlah program sosial yang inovatif. Termasuk subsidi tarif air dan ongkos bus untuk warga kurang mampu, yang menuai pro dan kontra.
Pada tahun 2018, ia kembali mencoba peruntungan di pilpres, namun lagi-lagi gagal. Barulah empat tahun kemudian, pada tahun 2022, perjuangannya membuahkan hasil manis. Petro, yang lahir di Cienage de Oro, Kolombia pada 19 April 1960, akhirnya berhasil meraih kursi kepresidenan.
Masa Lalu Kelam: Dari Gerilyawan M-19 ke Meja Presiden
Salah satu aspek paling menarik dan kontroversial dari hidup Gustavo Petro adalah masa lalunya. Pada usia 17 tahun, saat masih mahasiswa, ia direkrut oleh kelompok gerilya 19th of April Movement (M-19). M-19 dikenal sering menggunakan tindakan "berani" dan kekerasan. Seperti penculikan dan pembunuhan pada tahun 1976, penyerbuan gudang senjata Bogota pada 1979, hingga penculikan di Kedutaan Bogota untuk Republik Dominika pada 1980.
Meskipun Petro tidak secara langsung dikaitkan dengan tindakan kekerasan ini, ia berperan penting dalam menciptakan propaganda untuk kelompok tersebut. Pada tahun 1981, ia bahkan mengadopsi nama samaran "Aureliano". Tugas utamanya di M-19 adalah menimbun senjata curian. Namun, pada Oktober 1985, nasib buruk menimpanya.
Saat menyamar sebagai perempuan, Petro ditangkap dan dipenjara setelah kedapatan memiliki senjata api, bahan peledak rakitan, dan propaganda. Sebuah pengalaman yang tentu saja membentuk pandangan politiknya. Setelah dibebaskan dari tahanan, ia justru membantu mempromosikan perundingan damai antara M-19 dengan pemerintah Kolombia. Ini menunjukkan sisi pragmatisnya.
Pada tahun 1990, kelompok gerilya itu akhirnya bertransformasi menjadi partai politik sah bernama Alianza Democratica M-19. Ini terjadi setelah mereka mendapat amnesti dari Presiden Kolombia Virgilio Barco. Perjalanan hidup Petro, dari seorang gerilyawan muda hingga menjadi presiden yang berani bersuara di panggung dunia, memang luar biasa dan penuh intrik.


















