Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru-baru ini mengeluarkan peringatan penting. Mereka menyebut Super Topan Ragasa, badai dahsyat yang kini tengah mengganas di perairan Asia, berpotensi memberikan dampak tidak langsung bagi sejumlah wilayah di Indonesia. Dampak tersebut berupa curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, sebuah kondisi yang patut diwaspadai oleh masyarakat.
Indonesia Kena Imbas Tak Langsung? BMKG Beri Peringatan
Peringatan dari BMKG ini bukan tanpa alasan. Super Topan Ragasa, yang diperkirakan berada di Filipina dengan kecepatan angin maksimum mencapai 110 knot dan tekanan 905 hPa, memiliki jangkauan dampak yang sangat luas. Kekuatan angin ini setara dengan 203 kilometer per jam, sebuah angka yang menunjukkan betapa mengerikannya badai ini.
Selain Ragasa, ada juga bibit Siklon 92W yang diprediksi berada di Laut Filipina utara Papua. Bibit siklon ini memiliki kecepatan angin maksimum 20 knot dan tekanan 1004 hPa. Meskipun potensi bibit siklon ini untuk berkembang menjadi siklon tropis disebut rendah, kehadirannya tetap berkontribusi pada kondisi cuaca ekstrem.
BMKG menjelaskan bahwa kedua fenomena ini, baik Super Topan Ragasa maupun bibit Siklon 92W, membentuk daerah konvergensi dan konfluensi. Kondisi atmosfer inilah yang kemudian memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di beberapa wilayah di Indonesia. Wilayah yang harus bersiap menghadapi kondisi ini meliputi Kalimantan, Maluku Utara, dan Papua.
Peringatan ini tercantum dalam Prospek Cuaca Mingguan BMKG untuk periode 23-29 September 2025. Ini menunjukkan bahwa dampak dari badai super ini akan terasa dalam rentang waktu yang cukup panjang. Masyarakat di wilayah tersebut diimbau untuk tetap waspada dan mempersiapkan diri menghadapi potensi cuaca ekstrem.
Mengapa Ragasa Begitu Berbahaya? Mengenal Super Topan
Istilah "Super Topan" sendiri menunjukkan tingkat kekuatan badai yang luar biasa. Badai ini terbentuk di atas perairan hangat, menyerap energi dari laut, dan kemudian berputar dengan kecepatan angin yang sangat tinggi. Super Topan Ragasa adalah salah satu contoh nyata dari kekuatan alam yang bisa menyebabkan kerusakan masif.
Kecepatan angin 110 knot atau sekitar 203 km/jam bukanlah main-main. Angin sekencang ini mampu merobohkan bangunan, mencabut pohon, dan menyebabkan gelombang laut yang sangat tinggi. Tekanan udara yang rendah di pusat topan juga menjadi indikator kekuatan dan daya hisapnya yang besar.
Filipina Porak-poranda, Ribuan Mengungsi dan Korban Jiwa Berjatuhan
Sebelum bergerak menuju wilayah lain, Super Topan Ragasa telah lebih dulu menghantam Filipina dengan kekuatan penuh. Badai ini menyebabkan ribuan orang terpaksa mengungsi dari desa-desa mereka di bagian utara Filipina. Situasi ini tentu sangat memprihatinkan, mengingat dampak psikologis dan material yang harus ditanggung para pengungsi.
Tragisnya, Topan Ragasa juga menelan korban jiwa. Setidaknya tiga orang dilaporkan meninggal dunia akibat keganasan badai ini. Angka ini mungkin saja bertambah seiring dengan proses evakuasi dan pencarian yang terus dilakukan. Kerusakan infrastruktur dan permukiman juga tak terhindarkan, meninggalkan jejak kehancuran di berbagai lokasi.
Hong Kong Bersiap Hadapi Badai Terparah dalam Sejarah
Setelah menerjang Filipina, Super Topan Ragasa kini bergerak menuju Hong Kong, bagian selatan daratan China, dan Taiwan. Masyarakat di wilayah-wilayah ini sedang bersiap menghadapi cuaca ekstrem yang lebih parah. Kekhawatiran terbesar datang dari Hong Kong, yang telah mengeluarkan peringatan serius.
Pejabat Hong Kong bahkan membandingkan ancaman dari Topan Super Ragasa dengan beberapa badai paling merusak dalam sejarah kota tersebut. Eric Chan, pejabat nomor dua Hong Kong, pada Senin (22/9) menyatakan bahwa Ragasa akan menjadi ancaman serius. Ia menyebut potensi kerusakan yang setara dengan Topan Hato pada 2017 dan Mangkhut pada 2018.
Sebagai informasi, Topan Hato dan Mangkhut adalah dua topan super yang menyebabkan kerusakan parah, termasuk banjir luas, gangguan transportasi, dan kerugian ekonomi yang besar. Perbandingan ini menunjukkan bahwa pemerintah Hong Kong tidak menganggap remeh ancaman Ragasa dan telah mengambil langkah-langkah antisipasi yang serius.
Menurut layanan cuaca Hong Kong, Ragasa menghasilkan angin dengan kecepatan maksimum 220 kilometer per jam di pusatnya saat melintasi Laut Cina Selatan pada Selasa (23/9) dini hari. Kecepatan angin yang lebih tinggi dari perkiraan awal ini menambah kekhawatiran akan dampak yang ditimbulkan.
Otoritas penerbangan di Hong Kong telah mengumumkan bahwa Bandara Internasional Hong Kong akan tetap buka. Namun, mereka memperingatkan akan terjadi "gangguan signifikan pada operasi penerbangan" mulai pukul 6 sore (17:00 WIB) pada Selasa (23/9) hingga keesokan harinya. Lebih dari 500 penerbangan Cathay Pacific diperkirakan akan dibatalkan, menyebabkan ribuan penumpang telantar.
Taiwan dan China Siaga Penuh Menghadapi Amukan Ragasa
Tak hanya Hong Kong, Taiwan juga bersiap menghadapi amukan Super Topan Ragasa. Layanan cuaca negara memprediksi "hujan lebat yang sangat deras" di bagian timur negara tersebut. Meskipun pusat topan masih berjarak cukup jauh, radius badai ini cukup luas, sekitar 320 kilometer.
Bidang angin yang luas dan kuat serta sirkulasi luarnya sudah mulai memengaruhi sebagian wilayah Taiwan. Ini berarti, meskipun mata badai belum mendarat langsung, dampak berupa angin kencang dan hujan ekstrem sudah mulai terasa. Warga di Taiwan diimbau untuk tetap berada di dalam ruangan dan mengikuti instruksi dari otoritas setempat.
Sementara itu, di daratan China, khususnya di Shenzhen, pejabat berencana mengevakuasi sekitar 400.000 orang. Evakuasi ini mencakup warga yang tinggal di daerah dataran rendah dan rawan banjir, yang merupakan langkah proaktif untuk meminimalkan korban jiwa dan kerusakan. Bandara Shenzhen juga mengatakan akan menghentikan penerbangan mulai Selasa (23/9) malam.
Pusat Meteorologi Nasional China memprediksi bahwa Super Topan Ragasa akan mendarat di wilayah pesisir antara Kota Shenzhen dan Kabupaten Xuwen di Provinsi Guangdong pada Rabu (24/9). Pendaratan topan di wilayah padat penduduk seperti Guangdong tentu menjadi perhatian serius bagi pemerintah China. Berbagai persiapan telah dilakukan untuk menghadapi skenario terburuk.
Pentingnya Peringatan Dini dan Kesiapsiagaan
Fenomena Super Topan Ragasa ini menjadi pengingat betapa pentingnya sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan bencana. Informasi yang cepat dan akurat dari BMKG dan lembaga meteorologi lainnya sangat krusial untuk menyelamatkan nyawa dan mengurangi kerugian. Masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak harus selalu memantau informasi terbaru dari sumber resmi.
Bagi warga di Kalimantan, Maluku Utara, dan Papua, meskipun hanya dampak tidak langsung, potensi hujan sedang hingga lebat tetap harus diwaspadai. Siapkan payung, jas hujan, dan pastikan saluran air di sekitar rumah tidak tersumbat untuk mencegah banjir. Selalu utamakan keselamatan diri dan keluarga.
Kisah Super Topan Ragasa ini adalah cerminan dari tantangan iklim global yang semakin nyata. Perubahan iklim disinyalir turut berkontribusi pada intensitas badai yang semakin kuat. Oleh karena itu, kesadaran kolektif dan tindakan mitigasi bencana menjadi kunci untuk menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian ini. Tetap waspada dan jaga diri!


















