banner 728x250

Presiden Iran Pecah Suara di PBB: Tegas Bantah Senjata Nuklir, Tuding Israel-AS Biang Kerok!

Seorang pria berbicara di podium dengan logo Departemen Luar Negeri AS dan peta dunia.
Isu nuklir Iran terus menjadi sorotan internasional, memicu kekhawatiran dan sanksi global di tengah ketegangan regional.
banner 120x600
banner 468x60

Sidang Umum PBB ke-80 di New York, Amerika Serikat, baru-baru ini diwarnai pernyataan tegas dari Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Di hadapan para pemimpin dunia, Pezeshkian kembali menegaskan bahwa negaranya tidak sedang dan tidak akan pernah membuat senjata nuklir. Pernyataan ini sontak menjadi sorotan di tengah ketegangan geopolitik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.

Mengapa Isu Nuklir Iran Selalu Jadi Sorotan?

banner 325x300

Program nuklir Iran telah lama menjadi topik perdebatan sengit di kancah internasional. Banyak negara, terutama Amerika Serikat dan Israel, khawatir bahwa Iran diam-diam mengembangkan senjata nuklir di balik program energi atom sipilnya. Kekhawatiran ini memicu serangkaian sanksi dan tekanan diplomatik yang tak kunjung usai.

Namun, Iran selalu bersikeras bahwa program nuklirnya murni untuk tujuan damai, seperti pembangkit listrik dan penelitian medis. Mereka berpegang pada fatwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang melarang pengembangan senjata nuklir. Bahkan intelijen AS pun belum menyimpulkan bahwa Iran telah memutuskan untuk membangun bom atom.

Bantahan Tegas dari Teheran di PBB

Dalam pidatonya yang penuh bobot, Pezeshkian secara eksplisit menyatakan, "Dengan ini saya menyatakan sekali lagi di hadapan majelis ini bahwa Iran tidak pernah dan tidak akan pernah membuat senjata nuklir." Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan upaya untuk meredakan kekhawatiran global yang terus-menerus disuarakan. Ia ingin dunia memahami posisi Teheran yang konsisten.

Pezeshkian juga menyoroti bahwa tuduhan terhadap Iran seringkali tidak berdasar. Ia menekankan bahwa negaranya selalu berkomitmen pada perjanjian internasional, meskipun seringkali menghadapi perlakuan tidak adil. Ini adalah narasi yang selalu diusung Iran dalam setiap forum internasional.

Ketegangan yang Memanas: Serangan dan Tuduhan

Awal tahun ini, Iran menerima serangan militer yang menyasar fasilitas nuklirnya, diduga dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat. Insiden ini semakin memperkeruh suasana dan meningkatkan risiko konflik berskala lebih besar. Iran mengutuk keras tindakan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan dan hukum internasional.

Selain itu, Iran juga dituding melanggar perjanjian nuklir 2015, yang dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA). Tuduhan ini datang dari negara-negara Eropa, yang kemudian mengancam akan menerapkan sanksi baru. Situasi ini menempatkan Iran dalam posisi yang semakin sulit di panggung global.

Siapa Sebenarnya Biang Kerok Ketidakstabilan Kawasan?

Pezeshkian tidak ragu menuding Israel sebagai pihak yang sebenarnya mengganggu perdamaian dan stabilitas di kawasan. Menurutnya, tindakan Israel yang agresif dan provokatif justru menjadi pemicu utama ketegangan. Ironisnya, Iran yang justru seringkali menjadi pihak yang dihukum atas situasi ini.

Ia juga menunjukkan foto-foto korban tewas dalam kampanye militer Israel melawan Iran, yang menurut Teheran menewaskan lebih dari 1.000 orang. Ini adalah upaya Pezeshkian untuk memberikan bukti konkret atas penderitaan yang dialami rakyatnya. Ia ingin dunia melihat dampak nyata dari konflik yang terjadi.

Skeptisisme Internasional dan Ancaman Sanksi Baru

Meskipun Iran terus membantah, Israel, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa tetap skeptis terhadap kemajuan teknologi nuklir Iran. Mereka meyakini bahwa Iran dapat segera mengembangkan bom jika memang berkeinginan. Kekhawatiran ini didasarkan pada kemampuan teknis Iran yang semakin canggih.

Akibatnya, Inggris, Prancis, dan Jerman telah bergerak untuk menerapkan kembali sanksi PBB yang sebelumnya ditangguhkan berdasarkan kesepakatan nuklir 2015. Sanksi ini akan mulai berlaku pada Sabtu mendatang, menambah tekanan ekonomi yang signifikan bagi Iran. Langkah ini menunjukkan ketidakpercayaan yang mendalam dari negara-negara Barat.

Diplomasi Buntu dan Kekecewaan Iran

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, telah bertemu dengan rekan-rekannya dari Eropa, namun pertemuan tersebut berakhir tanpa hasil yang jelas. Meskipun ada kesepakatan untuk melanjutkan perundingan, kemajuan konkret masih jauh dari harapan. Ini mencerminkan kebuntuan diplomatik yang telah berlangsung lama.

Pezeshkian menuduh Eropa beritikad buruk, dengan mengatakan bahwa kurangnya kerja sama Iran merupakan respons atas penarikan diri Presiden AS Donald Trump dari kesepakatan nuklir. Ia merasa bahwa Eropa tidak konsisten dalam menjaga komitmennya. Penarikan diri AS dari JCPOA memang menjadi titik balik penting dalam hubungan Iran dengan Barat.

Bukti dan Tudingan Pengkhianatan

"Mereka secara keliru menampilkan diri sebagai pihak yang memiliki reputasi baik dalam perjanjian tersebut, dan mereka meremehkan upaya tulus Iran sebagai tidak memadai," kata Pezeshkian. Ia merasa bahwa Iran telah dikhianati oleh pihak-pihak yang seharusnya menjadi mitra dalam menjaga perdamaian. Ini adalah kritik tajam terhadap sikap negara-negara Barat.

Pezeshkian melanjutkan, "Semua ini hanya bertujuan untuk menghancurkan JCPOA yang pernah mereka anggap sebagai pencapaian terpenting." Ia melihat adanya agenda tersembunyi di balik tuduhan dan sanksi yang terus-menerus dilayangkan. Baginya, kesepakatan nuklir yang susah payah dicapai kini terancam hancur.

Berdiri di mimbar Majelis Umum, Pezeshkian menunjukkan foto-foto orang yang tewas dalam kampanye militer Israel melawan Iran. "Serangan udara rezim Zionis dan Amerika Serikat terhadap kota-kota, rumah-rumah, dan infrastruktur Iran tepat saat kami sedang menempuh jalur negosiasi diplomatik merupakan pengkhianatan besar terhadap diplomasi," ujarnya. Pernyataan ini bukan hanya tudingan, melainkan seruan emosional yang menggambarkan penderitaan rakyat Iran. Ini adalah upaya terakhir untuk menarik simpati dan dukungan dari komunitas internasional.

banner 325x300