Wacana pembatasan satu orang hanya boleh memiliki satu akun media sosial (medsos) kembali mencuat, memicu perdebatan sengit di tengah masyarakat. Ide ini digulirkan dengan tujuan mulia: menciptakan ruang digital yang lebih sehat dan aman dari penyalahgunaan. Namun, apakah solusi ini benar-benar realistis dan efektif?
Para ahli justru melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, menegaskan bahwa gagasan pembatasan akun ini jauh dari kata realistis. Menurutnya, ada pendekatan yang jauh lebih efektif dan tidak mengekang kebebasan pengguna.
Wacana Kontroversial: Satu Akun Medsos per Orang?
Ide untuk membatasi kepemilikan akun media sosial ini datang dari DPR dan telah dibahas bersama pemerintah, termasuk Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Tujuannya jelas, yaitu untuk menekan berbagai bentuk penyalahgunaan yang kerap terjadi di ranah digital. Mulai dari penyebaran hoaks, penipuan, hingga penggunaan akun palsu yang meresahkan.
Komdigi sendiri mengungkap filosofi di balik wacana ini: mewujudkan ruang digital yang sehat, aman, dan produktif. Sekretaris Jenderal Komdigi, Ismail, menjelaskan bahwa ini adalah ikhtiar untuk memastikan tidak ada lagi penipuan yang terjadi karena orang bisa bersembunyi di balik anonimitas. Ia menekankan bahaya ketika seseorang merasa identitasnya tidak diketahui di ruang digital.
Pakar Angkat Bicara: Realistisnya Bukan Pembatasan, Tapi…
Heru Sutadi, seorang pakar di bidang teknologi informasi, mengakui bahwa ide satu akun medsos per orang memang terdengar menarik di permukaan. Tujuannya untuk menekan hoaks dan penipuan memang valid. Namun, ia memperingatkan bahwa implementasi kebijakan semacam ini tidak akan sesederhana yang dibayangkan.
Menurut Heru, solusi yang lebih realistis adalah memperkuat regulasi dan sistem verifikasi yang ada. Pendekatan ini dinilai lebih mampu menekan penyalahgunaan tanpa harus mengorbankan kebebasan dan kenyamanan para pengguna. Keseimbangan antara keamanan, privasi, dan kebebasan digital menjadi kunci utama yang harus dipertimbangkan.
Kenapa Sulit Diterapkan? Ini Kata Ahli
Heru Sutadi menjelaskan beberapa alasan mengapa pembatasan jumlah akun ini akan sulit diterapkan dan berpotensi menimbulkan masalah baru. Media sosial telah menjadi ruang ekspresi yang kompleks, memungkinkan setiap individu memisahkan identitasnya. Banyak orang memiliki akun berbeda untuk kebutuhan pribadi, profesional, atau bahkan untuk menyalurkan hobi dan bergabung dengan komunitas tertentu.
Memaksa aturan satu orang satu akun bisa jadi justru mengekang kebebasan berekspresi yang sah. Ini akan mempersulit aktivitas digital yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Selain itu, ada tantangan besar dalam memverifikasi identitas pengguna secara akurat tanpa melanggar perlindungan data pribadi, yang merupakan hak fundamental setiap individu.
Solusi Jitu ala Pakar: Regulasi Kuat, Verifikasi Cerdas
Alih-alih membatasi, Heru Sutadi menyarankan agar fokus pemerintah diarahkan pada penguatan regulasi media sosial. Ini bisa dilakukan tanpa harus membatasi jumlah akun yang dimiliki seseorang. Ada beberapa langkah konkret yang bisa diambil untuk menciptakan ekosistem digital yang lebih aman.
Pertama, platform media sosial harus diwajibkan memiliki sistem verifikasi yang lebih baik. Misalnya, melalui nomor telepon yang terdaftar atau identitas digital yang terintegrasi. Dengan begitu, pemilik akun tetap dapat ditelusuri jika terjadi pelanggaran hukum atau etika.
Kedua, regulasi harus menuntut transparansi dari platform digital. Mereka harus mampu menindak cepat laporan terkait akun palsu, penipuan, atau ujaran kebencian. Kecepatan respons platform dalam menangani masalah ini sangat krusial untuk menjaga kepercayaan pengguna.
Ketiga, pemerintah perlu mendorong standar perlindungan data yang ketat. Proses verifikasi identitas tidak boleh membuka celah penyalahgunaan informasi pribadi pengguna. Keamanan data harus menjadi prioritas utama agar masyarakat tidak khawatir data mereka bocor atau disalahgunakan.
Terakhir, edukasi menjadi bagian yang tak kalah penting. Masyarakat perlu terus diedukasi mengenai etika berinternet, cara mengenali hoaks, dan pentingnya menjaga privasi. Penguatan regulasi bukan semata soal pembatasan, melainkan menciptakan ekosistem digital yang aman, transparan, dan adil, sambil tetap menghormati kebebasan berekspresi warga.
Komdigi Buka Suara: Demi Ruang Digital yang Lebih Sehat
Dari sisi pemerintah, Komdigi melihat wacana ini sebagai bagian dari upaya besar untuk menciptakan ruang digital yang sehat, aman, dan produktif. Ismail dari Komdigi menekankan bahwa tujuan utamanya adalah mencegah penipuan dan penyalahgunaan yang seringkali terjadi karena anonimitas. Ketika seseorang bisa bersembunyi di balik akun palsu, potensi untuk melakukan tindakan merugikan menjadi lebih besar.
Menurutnya, aturan satu orang satu akun media sosial diharapkan dapat membuat pengguna tidak lagi bersembunyi di balik akun anonim. Ini akan meningkatkan akuntabilitas setiap individu di ranah digital, sehingga setiap tindakan yang dilakukan memiliki konsekuensi yang jelas. Dengan demikian, diharapkan ruang digital menjadi lebih bertanggung jawab.
Bukan Sekadar Pembatasan, Tapi Verifikasi Jelas
Wakil Menteri Komdigi, Nezar Patria, memberikan klarifikasi penting terkait wacana ini. Ia menjelaskan bahwa gagasan ini lebih mengarah pada kejelasan dalam registrasi menggunakan "single ID" atau identitas tunggal. Artinya, bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki lebih dari satu akun, melainkan setiap akun yang dimiliki harus terhubung dengan identitas asli yang terverifikasi.
Nezar menegaskan bahwa penggunaan second account atau third account masih sangat memungkinkan. Syaratnya, autentikasi dan verifikasi untuk setiap akun tersebut harus jelas dan terhubung dengan identitas utama. Jadi, jika kamu punya akun untuk kerja, akun untuk hobi, dan akun untuk keluarga, itu tetap diperbolehkan asalkan semua terdaftar dengan identitas yang sah.
Jadi, Mana yang Lebih Baik?
Perdebatan antara pembatasan jumlah akun versus penguatan regulasi dan verifikasi mencerminkan dilema yang kompleks di era digital. Di satu sisi, pemerintah ingin menciptakan ruang digital yang aman dari kejahatan siber. Di sisi lain, para ahli dan sebagian besar pengguna ingin menjaga kebebasan berekspresi dan privasi.
Mungkin, titik tengahnya adalah mengadopsi pendekatan yang mengintegrasikan kedua pandangan ini. Penguatan sistem verifikasi yang ketat dengan konsep "single ID" seperti yang diusulkan Wamenkomdigi, bisa menjadi solusi. Ini memungkinkan pengguna memiliki banyak akun sesuai kebutuhan, namun setiap akun tetap bisa dipertanggungjawabkan.
Masa Depan Medsos Kita: Antara Keamanan dan Kebebasan
Pada akhirnya, masa depan media sosial kita akan sangat bergantung pada bagaimana regulasi ini diimplementasikan. Apakah akan menjadi alat untuk menekan kebebasan atau justru menjadi fondasi untuk ekosistem digital yang lebih bertanggung jawab dan aman? Kuncinya ada pada kebijakan yang menyeimbangkan antara keamanan, privasi, dan kebebasan berekspresi.
Edukasi yang berkelanjutan bagi masyarakat juga tidak boleh dilupakan. Pengguna yang cerdas dan bertanggung jawab adalah benteng utama melawan penyalahgunaan di dunia maya. Dengan kolaborasi antara pemerintah, platform digital, dan masyarakat, kita bisa mewujudkan ruang digital yang sehat tanpa harus mengorbankan esensi kebebasan berekspresi yang telah menjadi ciri khas media sosial.


















