banner 728x250

Terungkap! BMKG Bongkar 3 Alasan Kenapa Rumah Warga Sukabumi Rusak Parah Akibat Gempa Beruntun

Peta lokasi gempa Sukabumi dengan magnitudo 5.8, kedalaman 104 km.
Titik pusat gempa Sukabumi berkekuatan 5.8 M yang terjadi akhir pekan lalu.
banner 120x600
banner 468x60

Gempa bumi kembali mengguncang Sukabumi akhir pekan lalu, menyisakan kerusakan pada sejumlah rumah warga dan kecemasan yang mendalam. Bukan hanya sekali, wilayah ini diguncang rangkaian gempa beruntun yang membuat banyak orang bertanya-tanya, mengapa dampak kerusakannya bisa separah itu? Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akhirnya angkat bicara, mengungkap tiga fakta krusial di balik rusaknya bangunan di Kabupaten Sukabumi.

Mengapa Gempa Sukabumi Bikin Rumah Rusak Parah?

banner 325x300

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa kerusakan yang terjadi bukan tanpa sebab. Ada kombinasi faktor geologis dan struktural bangunan yang membuat gempa kali ini terasa begitu merusak. Memahami ketiga alasan ini sangat penting agar kita bisa lebih siap menghadapi potensi bencana di masa depan.

1. Hiposenter Gempa yang Dangkal: Dekat dengan Sumber Bahaya

Alasan pertama dan paling signifikan adalah hiposenter gempa yang dangkal. Hiposenter adalah titik di bawah permukaan bumi tempat gempa pertama kali terjadi. Jika hiposenter ini dangkal, artinya pusat gempa berada relatif dekat dengan permukaan tanah. Ibarat ledakan, semakin dekat sumber ledakan dengan kita, semakin besar pula dampaknya.

Gelombang gempa yang berasal dari hiposenter dangkal tidak memiliki banyak waktu untuk kehilangan energi saat merambat ke permukaan. Akibatnya, getaran yang sampai ke bangunan di atasnya terasa jauh lebih kuat dan intens. Inilah yang membuat gempa dengan magnitudo sedang sekalipun bisa menimbulkan kerusakan serius jika pusatnya berada di kedalaman yang minim.

2. Kondisi Tanah Lunak di Zona Gempa: Amplifikasi Getaran yang Berbahaya

Faktor kedua yang memperparah kerusakan adalah kondisi tanah di zona gempa yang cenderung lunak. Tanah lunak, seperti tanah liat atau endapan aluvial yang belum padat, memiliki sifat yang berbeda dengan batuan keras saat diguncang gempa. Alih-alih meredam getaran, tanah lunak justru bisa memperkuat atau mengamplifikasi gelombang gempa.

Fenomena ini dikenal sebagai amplifikasi seismik. Ketika gelombang gempa melewati lapisan tanah lunak, kecepatannya melambat, namun amplitudonya (ketinggian gelombang) justru meningkat. Ini menyebabkan bangunan di atasnya mengalami guncangan yang jauh lebih hebat daripada yang seharusnya, seolah-olah magnitudo gempa terasa lebih besar dari angka sebenarnya. Ditambah lagi, tanah lunak juga rentan terhadap likuifaksi atau pencairan tanah, meski tidak disebutkan secara spesifik dalam kasus ini, namun tetap menjadi risiko di area dengan kondisi tanah serupa.

3. Struktur Bangunan yang Lemah dan Tidak Standar Tahan Gempa

Terakhir, namun tak kalah penting, adalah kondisi struktur bangunan itu sendiri. Banyak rumah di wilayah terdampak, khususnya di pedesaan, dibangun tanpa mempertimbangkan standar konstruksi tahan gempa. Ini bisa berarti penggunaan material yang kurang kuat, pondasi yang tidak kokoh, atau desain struktur yang tidak mampu menahan gaya lateral (gaya samping) akibat guncangan gempa.

Bangunan yang tidak memenuhi standar tahan gempa akan sangat rentan terhadap retakan, keruntuhan parsial, bahkan roboh total saat terjadi gempa. Daryono menegaskan bahwa bangunan yang lemah inilah yang menjadi "sasaran empuk" kerusakan, bahkan oleh gempa dengan magnitudo yang tidak terlalu besar. Ini menjadi pengingat penting bagi kita semua akan urgensi pembangunan infrastruktur yang aman dan tahan bencana.

Kronologi Gempa Beruntun yang Bikin Warga Was-was

Rangkaian gempa yang menghantui Sukabumi dimulai pada Sabtu (20/9) malam, tepatnya pukul 23:47:44 WIB. Gempa pertama berkekuatan Magnitudo (M) 4,0, cukup untuk membuat warga terkejut dan panik. Namun, kengerian tidak berhenti di situ.

Setelah gempa utama, puluhan gempa susulan terjadi di hari berikutnya, seolah tak memberi jeda bagi warga untuk bernapas lega. BMKG mencatat total 39 gempa susulan mengguncang wilayah tersebut. Dari jumlah itu, lima di antaranya terasa langsung oleh warga dengan kekuatan M3,0, M3,8, M2,6, M2,8, dan M3,8. Gempa susulan terbesar berkekuatan M3,8, sedangkan yang terkecil M1,9. Intensitas gempa susulan yang terus-menerus ini tentu saja menambah trauma dan kecemasan di tengah masyarakat.

Dampak Nyata di Lapangan: Warga Terdampak dan Kondisi Darurat

Rangkaian gempa ini, meski tidak berkekuatan sangat besar, cukup menimbulkan kerusakan ringan pada beberapa bangunan rumah warga. Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, menjadi salah satu lokasi yang paling terdampak. Catatan sementara menunjukkan ada 5 rumah yang mengalami kerusakan, memaksa 20 jiwa menghadapi situasi darurat.

Situasi darurat ini berarti mereka mungkin harus mengungsi, kehilangan tempat tinggal sementara, dan menghadapi ketidakpastian akan masa depan. Kondisi ini tentu membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak untuk memastikan bantuan dan pemulihan dapat segera diberikan kepada para korban.

BMKG Menjelaskan: Ini Gempa Tektonik, Bukan Gunung Berapi!

BMKG juga memberikan penjelasan penting mengenai jenis gempa yang terjadi. Gempa yang mengguncang Kabupaten Sukabumi dan sekitarnya ini dikategorikan sebagai gempa tektonik kerak dangkal atau shallow crustal earthquake. Artinya, gempa ini dipicu oleh aktivitas sesar aktif di dalam kerak bumi yang relatif dekat dengan permukaan.

Daryono menjelaskan bahwa episenter atau pusat gempa terletak di darat, tepatnya di wilayah Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi. Ini berbeda dengan gempa yang berasal dari aktivitas gunung berapi. Untuk memastikan hal ini, BMKG melakukan analisis mendalam.

Bukti kuat bahwa ini adalah gempa tektonik terlihat dari bentuk gelombang gempa (waveform) yang tercatat oleh Sensor Seismik DBJI (Darmaga) dan CBJI (Citeko). Karakteristik gelombang S (shear wave) tampak sangat kuat dengan komponen frekuensi tinggi, yang merupakan ciri khas gempa tektonik. "Fakta ini sekaligus memastikan bahwa gempa yang terjadi bukan dipicu gempa volkanik," terang Daryono, menghilangkan kekhawatiran akan potensi letusan gunung berapi.

Hasil analisis BMKG lebih lanjut menunjukkan bahwa gempa ini memiliki mekanisme pergerakan mendatar atau geser (strike-slip). Daryono juga menegaskan bahwa gempa Sukabumi-Bogor ini tidak dipicu oleh aktivitas Sesar Citarik, karena pusat gempa utama dan susulannya tersebar jauh di sebelah barat jalur Sesar Citarik. Penjelasan ini penting untuk menghindari spekulasi dan informasi yang salah di masyarakat.

Sejarah Kelam Gempa di Sukabumi: Mengapa Terus Berulang?

Bagi warga Sukabumi, kejadian gempa merusak bukanlah hal baru. Wilayah ini memang memiliki sejarah panjang terkait aktivitas seismik. Daryono menyebutkan bahwa kejadian serupa telah berulang kali terjadi, menunjukkan bahwa Sukabumi adalah daerah yang secara geologis rawan gempa.

Pada Maret 2020, misalnya, ratusan rumah rusak di enam kecamatan, termasuk Kabandungan, akibat gempa. Kemudian, pada Juli 2000, gempa juga merusak banyak rumah di beberapa kecamatan, lagi-lagi termasuk Kabandungan. Tiga tahun berselang, tepatnya pada Desember 2023, gempa merusak kembali terjadi di Pamijahan dan Kabandungan, menyebabkan 61 rumah rusak.

Sejarah ini menjadi pengingat pahit akan kerentanan wilayah Sukabumi terhadap gempa bumi. Ini juga menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana yang berkelanjutan bagi seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah.

Pelajaran Penting untuk Kita: Siaga Bencana Adalah Kunci!

Rangkaian gempa di Sukabumi ini adalah alarm keras bagi kita semua. Dengan pemahaman tentang penyebab kerusakan dan sejarah gempa di wilayah tersebut, kita bisa mengambil langkah-langkah preventif yang lebih baik.

Bagi warga yang tinggal di daerah rawan gempa, penting untuk secara berkala memeriksa struktur rumah dan memastikan kekuatan pondasinya. Edukasi mengenai standar bangunan tahan gempa juga harus terus digalakkan. Selain itu, siapkan tas siaga bencana, pahami jalur evakuasi, dan selalu ikuti informasi resmi dari BMKG dan otoritas setempat.

Gempa bumi adalah fenomena alam yang tidak bisa kita cegah, namun dampaknya bisa kita minimalkan dengan kesiapsiagaan dan mitigasi yang tepat. Mari bersama-sama meningkatkan kewaspadaan dan membangun ketahanan diri serta lingkungan terhadap ancaman bencana.

banner 325x300