Akhir pekan lalu, warga Kabupaten Sukabumi dan sekitarnya kembali dikejutkan oleh guncangan gempa bumi. Bukan hanya sekali, gempa utama pada Sabtu malam itu diikuti oleh puluhan gempa susulan yang membuat banyak orang bertanya-tanya: ada apa sebenarnya dengan Sukabumi? Mengapa wilayah ini seolah tak henti diguncang gempa, bahkan sampai menyebabkan kerusakan?
Gempa Sukabumi: Bukan Sekadar Getaran Biasa
Gempa pertama kali menggetarkan Sukabumi pada Sabtu (20/9) malam tepat pukul 23:47:44 WIB. Guncangan ini kemudian diikuti oleh rentetan gempa susulan yang tak kalah membuat khawatir, terjadi berulang kali di hari berikutnya. Fenomena ini bukanlah kejadian biasa, melainkan sebuah sinyal dari aktivitas geologi yang perlu kita pahami lebih dalam.
Menurut analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa yang mengguncang Sukabumi ini dikategorikan sebagai gempa tektonik kerak dangkal, atau dalam istilah geologi disebut shallow crustal earthquake. Ini berarti sumber gempa berasal dari kedalaman yang relatif dekat dengan permukaan bumi, dipicu oleh pergerakan sesar aktif di bawah tanah.
BMKG Turun Tangan: Menguak Misteri di Balik Guncangan
Direktur Gempa bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa gempa utama memiliki magnitudo M4,0 dengan kedalaman hiposenter hanya 7 kilometer. Pusat gempa atau episenter ini terletak di darat, tepatnya di wilayah Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi. Kedalaman yang sangat dangkal inilah yang seringkali membuat guncangan terasa lebih kuat dan berpotensi merusak.
Bagaimana BMKG bisa begitu yakin bahwa ini adalah gempa tektonik dan bukan gempa vulkanik yang berhubungan dengan gunung api? Jawabannya terletak pada analisis bentuk gelombang gempa (waveform) yang tercatat oleh sensor seismik. Sensor DBJI (Darmaga) dan CBJI (Citeko) menunjukkan karakteristik gelombang S (shear) yang sangat kuat dengan komponen frekuensi tinggi. Fakta ini secara tegas menepis kemungkinan gempa vulkanik, menegaskan bahwa ini murni aktivitas tektonik.
Bukan Sesar Citarik, Lalu Sesar Apa?
Analisis BMKG lebih lanjut mengungkapkan bahwa gempa ini memiliki mekanisme pergerakan mendatar atau geser (strike-slip fault). Ini berarti batuan di kedua sisi sesar bergerak saling bergeser secara horizontal, bukan naik turun. Setelah gempa utama, total 39 gempa susulan tercatat, dengan 5 di antaranya dirasakan oleh warga. Magnitudo gempa susulan bervariasi, dari yang terkecil M1,9 hingga terbesar M3,8.
Satu hal penting yang ditekankan Daryono adalah bahwa rangkaian gempa ini tidak dipicu oleh aktivitas Sesar Citarik. Mengapa demikian? Karena pusat gempa utama dan seluruh gempa susulannya tersebar jauh di sebelah barat jalur Sesar Citarik. Ini mengindikasikan adanya sesar aktif lain di wilayah tersebut yang mungkin belum sepenuhnya terpetakan atau dikenal secara luas, menambah kompleksitas peta risiko gempa di Sukabumi.
Dampak Nyata: Kerusakan dan Korban di Kabandungan
Meskipun magnitudo gempa utama tergolong sedang, dampaknya terasa nyata bagi warga. Rangkaian gempa ini menimbulkan kerusakan ringan pada beberapa bangunan rumah warga di Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan. Catatan sementara menunjukkan ada 5 rumah yang terdampak, dan 20 jiwa harus menghadapi situasi darurat.
Bayangkan saja, di tengah malam, tiba-tiba tanah berguncang hebat, membuat panik dan meninggalkan kerusakan pada tempat berlindung. Ini adalah pengalaman traumatis yang harus dihadapi oleh mereka yang tinggal di zona rawan gempa. Kerusakan ini, meski "ringan" dalam skala besar, tetap saja berarti kerugian besar bagi keluarga yang mengalaminya.
Mengapa Kerusakan Terulang? Tiga Faktor Kritis Pemicu
Lalu, mengapa gempa dengan magnitudo M4,0 bisa menyebabkan kerusakan? Daryono menjelaskan ada tiga faktor utama yang berkontribusi pada kerusakan bangunan rumah di Kabandungan. Pertama, hiposenter gempa yang sangat dangkal, hanya 7 kilometer. Semakin dangkal pusat gempa, semakin besar energi yang sampai ke permukaan dan dirasakan oleh bangunan.
Kedua, kondisi tanah lunak di zona gempa. Tanah yang lunak atau tidak stabil cenderung memperkuat gelombang gempa, menyebabkan efek guncangan yang lebih parah pada bangunan di atasnya. Ketiga, struktur bangunan yang lemah dan tidak standar tahan gempa. Banyak rumah di daerah pedesaan dibangun tanpa mempertimbangkan standar keamanan gempa, membuatnya rentan roboh atau rusak parah bahkan oleh guncangan sedang.
Sejarah Kelam Gempa di Sukabumi: Pola yang Mengkhawatirkan
Faktanya, gempa merusak bukan kali pertama terjadi di wilayah Sukabumi, khususnya di Kecamatan Kabandungan. Sejarah mencatat pola yang mengkhawatirkan. Pada Maret 2020, ratusan rumah rusak di 6 kecamatan, termasuk Kabandungan. Kemudian, pada Juli 2000, gempa juga merusak banyak rumah di beberapa kecamatan, lagi-lagi termasuk Kabandungan.
Tidak berhenti di situ, beberapa tahun berselang, tepatnya pada Desember 2023, gempa merusak kembali terjadi di Pamijahan dan Kabandungan, menyebabkan 61 rumah rusak. Pola berulang ini menunjukkan bahwa Kabandungan dan sekitarnya adalah zona yang sangat aktif secara seismik dan memiliki kerentanan tinggi terhadap dampak gempa. Ini bukan lagi sekadar kebetulan, melainkan sebuah peringatan serius.
Belajar dari Guncangan: Pentingnya Mitigasi dan Kesiapsiagaan
Melihat sejarah dan karakteristik gempa di Sukabumi, menjadi sangat penting bagi kita untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan. Jika gempa terus-menerus terjadi di area yang sama, ini adalah indikasi kuat bahwa wilayah tersebut berada di atas sesar aktif yang perlu diwaspadai. Pemerintah daerah dan masyarakat harus bekerja sama dalam upaya mitigasi bencana.
Edukasi mengenai pembangunan rumah tahan gempa menjadi krusial. Warga perlu memahami bagaimana membangun struktur yang lebih kuat dan aman, terutama di daerah dengan kondisi tanah lunak. Selain itu, latihan evakuasi dan pemahaman tentang tindakan yang harus dilakukan saat gempa terjadi juga sangat penting untuk mengurangi risiko korban jiwa dan kerugian materi.
Gempa Sukabumi ini adalah pengingat bahwa kita hidup di wilayah "cincin api" Pasifik. Alih-alih panik, mari kita jadikan setiap guncangan sebagai pelajaran untuk lebih memahami alam dan mempersiapkan diri sebaik mungkin. Kesiapsiagaan adalah kunci untuk meminimalkan dampak bencana di masa depan.


















