Geely Mendominasi di Tengah Badai Pasar
Pasar otomotif China kembali bergejolak dengan kejutan tak terduga di awal tahun 2026. Geely, raksasa otomotif yang dikenal dengan inovasi dan portofolio merek yang luas, berhasil menyalip BYD dalam penjualan mobil ritel bulanan. Fenomena ini terjadi di tengah perlambatan penjualan mobil penumpang secara keseluruhan di pasar terbesar dunia tersebut.
Data retail Januari menunjukkan Geely memimpin dengan penjualan fantastis mencapai 210 ribu unit. Angka ini jauh melampaui pesaing terdekatnya, FAW-Volkswagen, yang hanya mencatatkan 132 ribu unit. Kenaikan signifikan Geely ini menjadi sorotan utama di tengah kondisi pasar yang penuh tantangan.
BYD Terpeleset, Apa yang Terjadi pada Raja EV?
Di sisi lain, BYD, yang selama ini dikenal sebagai pemimpin pasar kendaraan energi baru (NEV) dan sempat merajai penjualan, harus puas menempati urutan ketiga. Mereka hanya mampu menjual 94 ribu unit, sebuah penurunan yang cukup dalam dari periode sebelumnya. Penjualan ritel BYD bahkan menunjukkan penurunan drastis hingga 53 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Anjloknya penjualan BYD ini memicu banyak pertanyaan di kalangan analis. Meskipun BYD adalah pionir dan pemimpin dalam teknologi baterai serta kendaraan listrik, persaingan yang semakin ketat dan perang harga yang intens mungkin mulai memakan korban. Faktor musiman atau penyesuaian inventaris juga bisa menjadi penyebab sementara penurunan ini.
Strategi Agresif Geely Membuahkan Hasil
Keberhasilan Geely bukan tanpa alasan. Merek ini telah menargetkan penjualan tahunan yang ambisius, mencapai 3,45 juta unit, menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi terhadap strategi mereka. Geely juga berencana untuk terus menyegarkan pasar dengan meluncurkan satu hingga dua model anyar setiap kuartal.
Strategi ini mencerminkan komitmen Geely untuk terus berinovasi dan memenuhi beragam kebutuhan konsumen. Dengan portofolio merek yang mencakup Volvo, Polestar, Lynk & Co, hingga Zeekr, Geely memiliki keunggulan dalam menjangkau berbagai segmen pasar, baik kendaraan konvensional maupun listrik. Diversifikasi produk dan agresivitas dalam peluncuran model baru tampaknya menjadi kunci kesuksesan mereka di awal tahun ini.
Kejutan dari Huawei: HIMA Meroket ke Puncak
Selain Geely, ada satu pemain baru yang mencuri perhatian di daftar 10 besar penjualan ritel: HIMA. Startup kendaraan energi baru milik raksasa teknologi Huawei ini mencatat lonjakan penjualan ritel sebesar 65,5 persen secara tahunan (year-on-year). Ini adalah kali pertama HIMA berhasil menembus jajaran elit pasar otomotif China.
Keberhasilan HIMA menunjukkan bagaimana integrasi teknologi canggih dari Huawei, seperti sistem infotainment dan bantuan pengemudi, mampu menarik minat konsumen. Konsumen di China semakin mencari kendaraan yang tidak hanya efisien tetapi juga dilengkapi dengan fitur pintar dan konektivitas mutakhir. Masuknya HIMA ke daftar 10 besar menjadi bukti nyata pergeseran preferensi pasar.
Pasar Otomotif China Melambat, Siapa yang Bertahan?
Secara keseluruhan, penjualan ritel mobil penumpang di China pada Januari mencapai 1,544 juta unit. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan, yakni 13,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Bahkan, jumlah ini hampir sepertiga lebih rendah dibanding bulan sebelumnya, mengindikasikan perlambatan yang cukup tajam di pasar.
Perlambatan ini dapat dikaitkan dengan beberapa faktor, termasuk ketidakpastian ekonomi global, perang harga yang terus berlanjut di antara produsen mobil, dan perubahan perilaku konsumen. Di tengah kondisi ini, merek-merek tradisional seperti FAW Toyota dan GAC Toyota masih mampu bertahan di posisi tujuh dan delapan dengan penjualan masing-masing 65 ribu dan 64 ribu unit. Ini menunjukkan bahwa merek dengan reputasi dan jaringan yang kuat masih memiliki basis konsumen yang loyal.
Pertarungan Sengit di Segmen Wholesale
Tidak hanya di penjualan ritel, Geely juga memimpin di segmen wholesales atau distribusi dari pabrik ke dealer. Mereka mencatatkan kenaikan 1,3 persen menjadi 270 ribu unit, menunjukkan optimisme dealer terhadap produk-produk Geely. Angka ini juga mengindikasikan persiapan Geely untuk memenuhi permintaan pasar yang diproyeksikan akan terus tumbuh.
BYD kembali menempati urutan kedua di segmen wholesales, namun dengan penurunan yang cukup drastis. Distribusi mereka anjlok 30,7 persen dibandingkan Januari 2025 menjadi 206 ribu unit. Penurunan ini mungkin menjadi sinyal bahwa BYD sedang melakukan penyesuaian produksi atau menghadapi tantangan dalam mengelola inventaris di tengah persaingan ketat.
Chery mengikuti di posisi ketiga dengan distribusi yang surut 12 persen menjadi 194 ribu unit. Sementara itu, Tesla, merek asal Amerika Serikat, berhasil mencatatkan kenaikan distribusi ke dealer sebesar 9,3 persen menjadi 69 ribu unit, menempatkannya di urutan ketujuh. Ini menunjukkan bahwa meskipun pasar melambat, beberapa merek masih mampu menunjukkan pertumbuhan positif di segmen tertentu.
Prospek ke Depan: Perang Harga dan Inovasi Berlanjut
Pergeseran dominasi di pasar otomotif China ini menandakan era baru persaingan yang semakin intens. Dengan Geely yang agresif dan BYD yang harus menghadapi tantangan, serta munculnya pemain baru seperti HIMA, konsumen akan menjadi pihak yang diuntungkan. Mereka akan disuguhkan lebih banyak pilihan kendaraan inovatif dengan harga yang kompetitif.
Perang harga kemungkinan akan terus berlanjut, mendorong produsen untuk terus berinovasi dalam teknologi, efisiensi, dan fitur. Pasar China akan tetap menjadi medan pertempuran utama bagi merek otomotif global dan lokal, di mana hanya yang paling adaptif dan inovatif yang akan mampu bertahan dan merajai.


















