banner 728x250

Penjualan Mobil RI Lesu Darah: Target 1 Juta Unit Masih Jauh Panggang dari Api!

penjualan mobil ri lesu darah target 1 juta unit masih jauh panggang dari api portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Industri otomotif nasional tengah menghadapi tantangan serius. Angka penjualan mobil di Indonesia, yang kerap menjadi barometer kesehatan ekonomi, masih belum mampu bangkit sepenuhnya pasca-pandemi COVID-19. Mimpi untuk kembali menembus angka keramat 1 juta unit per tahun, seperti masa kejayaan sebelum pandemi, tampaknya masih harus menunggu lebih lama lagi.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita secara terang-terangan mengakui kondisi ini. Ia menyatakan bahwa kekuatan pasar domestik belum cukup solid untuk mengembalikan penjualan mobil ke level yang diharapkan. Pernyataan ini disampaikan Agus di sela-sela acara Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 di Jakarta, Kamis (5/2), memberikan gambaran realistis tentang situasi yang ada.

banner 325x300

Proyeksi Suram di Tengah Kapasitas Produksi Melimpah

Pemerintah bersama asosiasi industri otomotif memproyeksikan penjualan mobil nasional sepanjang tahun ini hanya akan mencapai sekitar 850 ribu unit. Angka ini jelas jauh di bawah kapasitas produksi terpasang yang dimiliki Indonesia, yang mencapai 2,5 hingga 2,6 juta unit per tahun. Sebuah kesenjangan yang mencolok, bukan?

Bayangkan, pabrik-pabrik di Indonesia memiliki kemampuan untuk memproduksi jutaan mobil, namun pasar domestik hanya mampu menyerap kurang dari sepertiganya. Ini menunjukkan adanya potensi besar yang belum termanfaatkan, sekaligus menjadi sinyal bahwa ada masalah mendasar yang perlu segera diatasi.

Agus Gumiwang berharap proyeksi 850 ribu unit ini bisa tercapai, bahkan terlampaui. Namun, ia tak menampik bahwa target ini masih jauh dari ideal. "Target proyeksi yang saya sampaikan tadi 850 ribu unit masih belum cukup kuat. Masih belum cukup kuat untuk menembus level 1 juta unit sebelum masa pandemi," tegasnya.

Mencari Titik Terang di Tengah Tantangan Ekonomi

Lantas, apa yang membuat pasar otomotif domestik kita begitu lesu? Ada banyak faktor yang bisa menjadi penyebab. Kondisi ekonomi global yang tidak menentu, inflasi yang masih membayangi, suku bunga kredit yang relatif tinggi, hingga daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya, semuanya berkontribusi pada keengganan konsumen untuk membeli kendaraan baru.

Meskipun demikian, Menperin menyerukan agar seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, produsen, hingga dealer, bersinergi. Kolaborasi ini diharapkan dapat merumuskan strategi jitu untuk mendongkrak pasar kembali bergairah. Agus meyakini bahwa pemulihan ini bisa dilakukan, meskipun secara bertahap dan memerlukan upaya ekstra.

"Sekali lagi kami harus bersama seluruh stakeholders, kita cari cara-cara yang untuk bisa kembali me-rebound-kan industri yang sangat penting ini. Ini pemulihannya akan berlangsung secara bertahap," katanya, menekankan pentingnya kerja sama dan visi jangka panjang.

Ekspor Jadi Penyelamat di Tengah Badai Domestik

Di tengah kelesuan pasar domestik, ada secercah harapan yang datang dari sektor ekspor. Agus Gumiwang menyoroti kinerja ekspor kendaraan utuh atau Completely Built Up (CBU) yang justru menunjukkan pertumbuhan positif selama tahun 2025. Ini adalah kabar baik yang patut diapresiasi.

Sepanjang tahun 2025, ekspor CBU Indonesia mencapai 518 ribu unit. Angka ini meningkat signifikan sebesar 9,7 persen dibandingkan tahun 2024 yang hanya tercatat 472 ribu unit. Kinerja ekspor yang kuat ini menjadi penopang penting bagi industri otomotif nasional, membantu menjaga roda produksi tetap berputar meskipun penjualan di dalam negeri melemah.

Ekspor yang meningkat ini menunjukkan bahwa produk otomotif buatan Indonesia memiliki daya saing yang tinggi di pasar global. Kualitas dan harga yang kompetitif membuat kendaraan "Made in Indonesia" diminati di berbagai negara. Ini adalah bukti nyata potensi besar Indonesia sebagai basis produksi otomotif regional, bahkan global.

Kilasan Angka Penjualan: Menurun dari Tahun Sebelumnya

Untuk memberikan gambaran lebih jelas, mari kita lihat data penjualan retail mobil Indonesia. Selama tahun 2025, penjualan retail tercatat mencapai 833.692 unit, sementara wholesales (distribusi dari pabrik ke dealer) mencapai 803.687 unit. Angka ini memang melampaui target revisi yang ditetapkan untuk 2025, yaitu 780 ribu unit.

Namun, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, hasil pada 2025 justru menunjukkan penurunan. Gaikindo, asosiasi yang menaungi puluhan merek kendaraan roda empat, mencatat penjualan retail selama tahun 2024 mencapai 889.680 unit. Sementara itu, wholesales pada 2024 adalah 865.723 unit.

Perbandingan ini jelas menunjukkan bahwa pasar mobil domestik mengalami penyusutan. Meskipun target revisi 2025 tercapai, angka aktualnya masih di bawah performa tahun 2024. Ini menggarisbawahi bahwa industri otomotif kita masih dalam fase pemulihan yang panjang dan berliku.

Masa Depan Industri Otomotif: Butuh Inovasi dan Stimulus

Melihat kondisi saat ini, jelas bahwa industri otomotif Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar harapan. Diperlukan strategi konkret, inovasi produk yang relevan dengan kebutuhan pasar, serta mungkin stimulus tambahan dari pemerintah untuk kembali memicu gairah konsumen.

Fokus pada kendaraan ramah lingkungan, pengembangan infrastruktur pendukung, serta kemudahan akses pembiayaan bisa menjadi beberapa kunci. Selain itu, event seperti IIMS juga berperan penting sebagai ajang pameran teknologi terbaru dan promosi untuk menarik minat pembeli.

Meskipun jalan menuju angka 1 juta unit penjualan mobil domestik masih panjang dan penuh tantangan, potensi Indonesia sebagai pemain utama di industri otomotif global tetap besar. Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan pelaku industri, serta dukungan dari masyarakat, mimpi untuk melihat pasar otomotif nasional kembali berjaya bukanlah hal yang mustahil. Pemulihan memang bertahap, namun optimisme harus terus menyala.

banner 325x300