banner 728x250

Insentif Motor Listrik Resmi Dicabut, Tapi Kok Target Penjualan 2026 Malah Meroket? Ini Rahasianya!

insentif motor listrik resmi dicabut tapi kok target penjualan 2026 malah meroket ini rahasianya portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Pemerintah Indonesia telah mengambil keputusan tegas: tidak akan ada lagi insentif fiskal untuk pembelian sepeda motor listrik di tahun 2026. Kabar ini tentu mengejutkan banyak pihak, terutama para calon pembeli yang berharap keringanan harga. Namun, di tengah keputusan ini, Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) justru menunjukkan optimisme yang luar biasa.

Mereka bahkan berani memasang target penjualan yang lebih tinggi untuk tahun depan, melampaui capaian tahun sebelumnya. Sebuah paradoks yang menarik untuk diulik lebih dalam. Bagaimana mungkin industri bisa begitu percaya diri tanpa dukungan pemerintah?

banner 325x300

Bye-bye Insentif, Halo Target Baru!

Kepastian mengenai hilangnya insentif motor listrik ini datang langsung dari Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita. Ia menjelaskan bahwa Kementerian Perindustrian tidak lagi mengajukan usulan insentif untuk sektor ini kepada Kementerian Keuangan. Keputusan ini, menurut Agus, bertujuan untuk memberikan kepastian bagi pelaku usaha dan konsumen.

"Saya sampaikan sekarang biar ada kepastian, jadi orang nggak nunggu insentif, industri juga bergerak," ujar Agus. Ini menandakan pemerintah ingin pasar bergerak secara mandiri, tidak lagi bergantung pada subsidi.

Sebelumnya, insentif sebesar Rp7 juta per unit pernah digelontorkan pada tahun 2023, lalu dilanjutkan pada 2024 dengan kuota 60 ribu unit. Namun, kuota tersebut habis pada September 2024, dan sejak saat itu, pemberian insentif terhenti total. Para produsen sempat berharap insentif dilanjutkan ke 2025, namun harapan itu kini pupus untuk tahun 2026.

Aismoli Pede, Target Penjualan Naik 10 Persen

Meskipun "ditinggal" insentif, semangat Aismoli tak padam. Sekretaris Jenderal Aismoli, Hanggoro Ananta, dengan tegas menyatakan bahwa pihaknya menaikkan target penjualan sebesar 10 persen dibandingkan realisasi tahun 2025. Jika tahun lalu penjualan motor listrik seluruh produsen di bawah Aismoli mencapai 55 ribu unit, maka untuk tahun 2026 targetnya naik menjadi 60 ribuan unit.

"Insentif iya tidak ada, saya baca seperti itu. Tapi kami tetap punya target secara organik," kata Hanggoro. Kata kunci "organik" ini menunjukkan bahwa industri kini mengandalkan pertumbuhan alami dan daya tarik produk itu sendiri, bukan lagi dorongan fiskal.

Optimisme ini bukan tanpa alasan. Hanggoro menjelaskan bahwa para pelaku industri sudah mulai terbiasa dan mampu beradaptasi di tengah masa sulit penjualan. Mereka belajar untuk tetap bersaing dan berinovasi tanpa "bantuan" pemerintah.

Masyarakat Mulai Terbuka, Testimoni Jadi Kunci

Salah satu faktor pendorong utama optimisme Aismoli adalah perubahan persepsi masyarakat terhadap kendaraan listrik. Menurut Hanggoro, masyarakat kini sudah lebih terbuka dan menyadari berbagai manfaat yang ditawarkan motor listrik, terutama dalam hal penghematan biaya operasional harian.

"Jadi tuh banyak kayak testimoni dari mulut ke mulut. Kalau kami yang bilang kan gak percaya, tapi ada testimoni dari yang pakai ke temannya misal," ungkap Hanggoro. Kekuatan rekomendasi personal ini jauh lebih efektif dan meyakinkan dibandingkan promosi dari produsen.

Testimoni positif ini seringkali menyoroti penghematan signifikan pada biaya bahan bakar dan perawatan. Tanpa perlu mengisi bensin, biaya operasional harian bisa terpangkas drastis, menjadi daya tarik utama bagi banyak pengguna.

Tren Penjualan yang Menarik Perhatian

Melihat data penjualan, tren yang terjadi memang cukup dinamis. Pada tahun 2024, total penjualan motor listrik mencapai 70 ribuan unit. Angka ini kemudian turun menjadi 55 ribuan unit di tahun 2025. Penurunan ini terjadi di awal 2025, sekitar 60 persen dibandingkan 2024.

Namun, seiring berjalannya waktu, penurunan tersebut berhasil ditekan hingga menjadi sekitar 30 persenan saja. Ini menunjukkan adanya pemulihan dan adaptasi pasar. "Penyerapannya retail dan fleet juga," tambah Hanggoro, mengindikasikan bahwa motor listrik mulai diminati baik oleh individu maupun perusahaan untuk kebutuhan operasional.

Meskipun insentif sempat menggantung di tahun 2025, penjualan motor listrik anggota Aismoli dikatakan masih bisa ‘terselamatkan’. Ini membuktikan bahwa pasar motor listrik memiliki resiliensi dan daya tarik intrinsik yang kuat, bahkan tanpa stimulus pemerintah.

Adaptasi Industri dan Strategi Baru

Keputusan pemerintah untuk menghentikan insentif memaksa industri untuk lebih kreatif dan inovatif. Para produsen kini harus mencari cara lain untuk menarik konsumen, seperti menawarkan model-model baru dengan teknologi lebih canggih, harga yang lebih kompetitif, atau skema pembiayaan yang lebih fleksibel.

Fokus pada pengembangan infrastruktur pendukung, seperti stasiun pengisian daya atau sistem tukar baterai, juga menjadi krusial. Semakin mudah dan nyaman penggunaan motor listrik, semakin tinggi pula minat masyarakat.

Selain itu, edukasi pasar tentang manfaat jangka panjang motor listrik, mulai dari penghematan biaya hingga kontribusi terhadap lingkungan, akan terus digencarkan. Ini adalah investasi jangka panjang untuk membangun pasar yang berkelanjutan.

Masa Depan Motor Listrik Tanpa Insentif

Keputusan pemerintah ini bisa dilihat sebagai "ujian" bagi industri motor listrik di Indonesia. Apakah mereka benar-benar bisa berdiri di kaki sendiri dan bersaing secara sehat di pasar? Optimisme Aismoli menunjukkan keyakinan kuat bahwa mereka mampu.

Meskipun tanpa insentif, tren global menuju kendaraan listrik tak terbendung. Indonesia, dengan komitmennya terhadap energi bersih dan target emisi, akan terus menjadi pasar potensial. Yang dibutuhkan kini adalah inovasi berkelanjutan dari produsen, dukungan infrastruktur yang memadai, dan edukasi masif kepada masyarakat.

Dengan strategi yang tepat dan produk yang semakin berkualitas, target 60 ribuan unit di tahun 2026 mungkin bukan hanya sekadar angka, melainkan bukti nyata bahwa motor listrik siap menjadi bagian tak terpisahkan dari mobilitas masa depan Indonesia, bahkan tanpa "bantuan" dari pemerintah. Ini adalah era baru bagi motor listrik, di mana kekuatan pasar dan inovasi menjadi penentu utama.

banner 325x300