Divisi merek turunan Grup Chery Indonesia, Jaecoo, kini tengah dihadapkan pada sebuah dilema besar. Mereka harus menyiapkan dua strategi krusial untuk menghadapi ketidakpastian insentif mobil listrik yang akan berlaku tahun ini. Keputusan pemerintah mengenai insentif ini akan sangat menentukan nasib harga mobil listrik, termasuk model andalan Jaecoo, J5.
Pada tahun sebelumnya, Jaecoo J5, yang dirakit secara lokal (Completely Knock Down/CKD), sempat menikmati manisnya insentif berupa diskon PPN sebesar 10 persen. Namun, kebijakan diskon PPN ini telah resmi berakhir pada 31 Desember 2025. Kini, pertanyaan besar menggantung: apakah insentif ini akan dilanjutkan atau tidak?
Ancaman Kenaikan Harga Mobil Listrik: Apa yang Terjadi?
Jika insentif PPN tersebut tidak dilanjutkan, maka secara otomatis harga mobil listrik di pasaran akan melonjak. Kenaikan harga ini tentu saja berpotensi besar menghambat laju perkembangan pasar mobil listrik di Indonesia. Padahal, pada tahun lalu, pasar EV di Tanah Air menunjukkan pertumbuhan yang sangat impresif, melonjak hingga 131 persen dengan total penjualan mencapai 103 ribu unit. Angka ini adalah bukti nyata minat masyarakat yang tinggi terhadap kendaraan ramah lingkungan.
Kondisi ini menciptakan ketidakpastian yang signifikan bagi produsen dan konsumen. Konsumen yang selama ini tertarik dengan harga EV yang lebih terjangkau berkat insentif, kini harus bersiap menghadapi kemungkinan harga yang lebih tinggi. Ini bisa menjadi batu sandungan serius bagi adopsi mobil listrik yang sedang gencar didorong pemerintah.
Jaecoo J5: Primadona Baru yang Terancam?
Salah satu model yang paling merasakan dampak dari kebijakan insentif ini adalah Jaecoo J5. SUV listrik 5-penumpang ini telah menjadi primadona baru di pasar otomotif Indonesia. Sejak pemesanan dibuka pada November 2025, Jaecoo J5 berhasil mencatatkan angka pemesanan yang fantastis, mencapai 12 ribu unit. Angka ini menunjukkan betapa tingginya minat konsumen terhadap mobil listrik ini.
Daya tarik utama Jaecoo J5 tidak lain adalah harganya yang sangat kompetitif. Dengan banderol termurah hanya Rp250 juta (berkat insentif), J5 menjadi gerbang yang sangat menarik bagi para pembeli mobil listrik pertama. Harga tersebut bahkan mampu bersaing ketat dengan mobil-mobil bermesin konvensional (ICE) populer seperti Honda Brio RS dan Toyota Raize. Ini adalah game changer yang membuat banyak orang beralih ke EV.
Strategi Rahasia Jaecoo: Plan A dan Plan B Siap Dijalankan
Menanggapi situasi yang serba tidak pasti ini, Mohamad Ilham Pratama, Head of Marketing Jaecoo Indonesia, menegaskan bahwa pihaknya tidak tinggal diam. Jaecoo telah menyiapkan dua skenario strategi yang matang. "Kami sudah siapkan beberapa rencana, karena belum ada kejelasan insentif ini apa akan dilanjutkan atau tidak, atau perhitungannya seperti apa," kata Ilham di Bogor, Jumat (23/1).
Ilham menjelaskan bahwa ada dua "rencana cadangan" yang siap dieksekusi. Satu rencana disiapkan jika insentif dilanjutkan, dan satu lainnya jika insentif tidak ada sama sekali. Ini menunjukkan kesiapan Jaecoo dalam menghadapi segala kemungkinan. Mereka tidak ingin terkejut dengan keputusan pemerintah dan telah mengantisipasi setiap skenario.
Fokus Utama: Tidak Memberatkan Konsumen
Apapun strategi yang nantinya dipilih, Ilham menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah satu: tidak memberatkan konsumen. Jaecoo memahami betul bahwa insentif adalah kunci untuk menjaga harga tetap menarik dan terjangkau bagi masyarakat. Oleh karena itu, formulasi strategi mereka telah disiapkan dengan sangat hati-hati, mempertimbangkan berbagai kalkulasi yang dipengaruhi banyak hal.
Faktor makroekonomi seperti nilai tukar rupiah juga menjadi pertimbangan penting dalam menyusun strategi ini. "Kalau misal insentif dilanjutkan akan pakai (rencana) A, tapi kalau misal tidak dilanjutkan kami akan memberi penawaran B, yang artinya tetap memberikan kepuasan bagi konsumen," ucap Ilham. Ia menambahkan bahwa insentif itu memang untuk konsumen, namun juga sangat penting bagi Jaecoo karena minat terhadap produk mereka cukup tinggi.
Mengapa Insentif Mobil Listrik Begitu Penting?
Insentif pemerintah memainkan peran krusial dalam mendorong adopsi mobil listrik di berbagai negara, termasuk Indonesia. Subsidi atau diskon pajak seperti PPN membantu menekan harga jual kendaraan listrik yang pada umumnya masih lebih tinggi dibandingkan mobil konvensional. Ini menjadi daya tarik utama bagi konsumen untuk beralih.
Tanpa insentif, harga mobil listrik bisa menjadi penghalang besar. Meskipun biaya operasional EV lebih rendah dalam jangka panjang, harga beli awal yang mahal seringkali menjadi pertimbangan utama. Oleh karena itu, keberlanjutan insentif sangat vital untuk menjaga momentum pertumbuhan pasar EV dan mencapai target pemerintah dalam mengurangi emisi karbon.
Dilema Pemerintah dan Masa Depan Pasar EV Indonesia
Pemerintah Indonesia sendiri berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, mereka berkomitmen untuk mempercepat transisi energi dan mendorong ekosistem kendaraan listrik. Di sisi lain, ada pertimbangan anggaran dan efektivitas insentif jangka panjang. Kebijakan insentif perlu dievaluasi secara berkala untuk memastikan dampaknya maksimal dan tidak membebani keuangan negara secara berlebihan.
Keputusan mengenai insentif ini tidak hanya akan memengaruhi Jaecoo, tetapi juga seluruh pemain di industri mobil listrik Indonesia. Merek-merek lain yang juga mengandalkan insentif untuk menjaga daya saing produk mereka akan sangat terpengaruh. Ini bisa menjadi titik balik bagi arah perkembangan pasar EV di Tanah Air.
Prediksi dan Harapan: Akankah Jaecoo Bertahan?
Dengan baterai 60,9 kWh yang mampu menempuh jarak 461 km, Jaecoo J5 menawarkan paket lengkap SUV listrik yang modern dan efisien. Namun, tanpa dukungan insentif, harga Rp250 juta yang menjadi magnet utamanya bisa jadi tidak lagi relevan. Pertanyaannya, seberapa besar Jaecoo bisa menyerap potensi kenaikan harga agar tetap kompetitif?
Harapan terbesar kini ada pada pemerintah untuk segera memberikan kejelasan mengenai kebijakan insentif mobil listrik. Kejelasan ini sangat dibutuhkan oleh produsen untuk merencanakan strategi jangka panjang, dan oleh konsumen untuk membuat keputusan pembelian. Pasar mobil listrik Indonesia memiliki potensi besar, dan insentif adalah salah satu kunci untuk membuka potensi tersebut sepenuhnya. Jaecoo, dengan dua strateginya, siap menghadapi badai, namun kejelasan dari pemerintah akan sangat membantu mereka dan seluruh ekosistem EV di Indonesia.


















