Industri kendaraan niaga di Indonesia tengah menghadapi ancaman serius. Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI) secara terang-terangan memperingatkan bahwa masuknya truk impor asal China secara masif bisa memicu krisis besar. Mereka bahkan menyebut potensi "tragedi Sritex" yang akan melanda sektor otomotif nasional.
Peringatan ini bukan isapan jempol belaka. Manajemen Hino mengungkapkan bahwa serbuan truk impor dengan harga yang lebih murah telah menekan produksi mereka di dalam negeri secara signifikan. Situasi ini menciptakan tekanan berat yang bisa berujung pada penutupan pabrik dan dampak ekonomi yang luas.
Alarm Merah dari Hino: Ancaman Truk Impor China
Harianto Sariyan, Director HMMI, tidak ragu melontarkan kekhawatirannya saat ditemui di pabrik Hino kawasan Purwakarta, Jawa Barat, pada Rabu (21/1). Ia menegaskan, jika kondisi ini terus berlanjut tanpa intervensi, industri otomotif komersial di Indonesia akan berada di ambang kehancuran. "Jadi kalau ini terus menerus industri akan berat, dan tutup bisa jadi. Sritex kedua bisa terjadi tapi di industri otomotif komersial," katanya.
Pernyataan ini sontak memicu kekhawatiran banyak pihak. Bagaimana tidak, Hino merupakan salah satu pemain kunci dalam industri kendaraan niaga di Tanah Air, yang telah berkontribusi besar terhadap perekonomian dan penyerapan tenaga kerja. Ancaman yang mereka rasakan adalah cerminan dari tantangan yang lebih besar yang dihadapi oleh industri manufaktur domestik.
Bayang-bayang Tragedi Sritex di Sektor Otomotif
Analogi dengan kasus Sritex bukanlah hal yang sepele. Sritex, yang dulunya merupakan perusahaan tekstil terbesar di Indonesia dengan sejarah 50 tahun, kini terjerat masalah keuangan serius. Mereka gagal membayar utang hingga Rp26 triliun dan digugat oleh para krediturnya, menandai salah satu kebangkrutan paling disorot dalam sejarah industri nasional.
Salah satu penyebab utama keruntuhan Sritex adalah banjirnya barang impor dari China. Kebijakan pemerintah yang merelaksasi impor sejumlah komoditas, termasuk tekstil, memperparah kondisi. Selain itu, masalah manajemen internal yang buruk dan minimnya investasi pada inovasi teknologi juga turut mempercepat kemunduran perusahaan raksasa ini.
Hino melihat pola yang serupa kini membayangi industri otomotif komersial. Jika dulu tekstil dihantam impor, kini giliran truk-truk buatan lokal yang terancam digilas oleh produk-produk impor dari Negeri Tirai Bambir. Ini bukan hanya tentang persaingan harga, tetapi juga tentang keberlanjutan ekosistem industri yang telah dibangun bertahun-tahun.
Produksi Hino Terjun Bebas, Utilitas Pabrik Tinggal 25 Persen
Dampak dari serbuan truk impor China sudah terasa pahit bagi Hino. Harianto menguraikan proyeksi yang suram untuk tahun 2025, di mana utilitas produksi di pabrik Hino diperkirakan hanya akan tersisa 25 persen. Angka ini sangat jauh dari kapasitas terpasang mereka yang mencapai 75 ribu unit per tahun.
Penurunan drastis ini adalah pukulan telak. Bayangkan, hanya seperempat dari kapasitas produksi yang bisa dimanfaatkan. Ini menunjukkan betapa parahnya tekanan yang mereka alami, terutama karena "tahun lalu (2024), banyak truk China masuk," jelas Harianto.
Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) semakin memperkuat gambaran suram ini. Proyeksi angka produksi Hino pada tahun 2025 diperkirakan akan turun signifikan sebesar 22,6 persen, menjadi hanya 18.450 unit. Sementara itu, angka wholesales diproyeksikan 18.367 unit dan retailnya 20.517 unit. Angka ini jauh di bawah performa tahun sebelumnya.
Sebagai perbandingan, pada tahun 2024, wholesales Hino masih mencapai 24.158 unit dan retailnya 22.925 unit. Penurunan yang diproyeksikan ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari potensi kerugian ekonomi yang besar dan ancaman terhadap stabilitas pekerjaan ribuan orang.
Nasib Ribuan Pekerja dan Industri Karoseri Lokal di Ujung Tanduk
Ancaman ini bukan hanya soal profitabilitas perusahaan, tetapi juga menyangkut hajat hidup banyak pekerja. Hino saat ini mempekerjakan 1.548 tenaga kerja. Meskipun produksi anjlok, perusahaan bersikeras untuk tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal. "Kebetulan seperti yang saya sampaikan turun jauh, tapi kami belum ada PHK sampai sekarang. Kami masih bertahan," ujar Harianto.
Namun, sampai kapan mereka bisa bertahan? Jika tekanan terus berlanjut, opsi PHK mungkin menjadi pilihan terakhir yang sulit dihindari. Ini akan menjadi pukulan telak bagi ribuan keluarga dan menambah daftar panjang pengangguran di tengah tantangan ekonomi yang ada.
Selain karyawan Hino, industri karoseri lokal juga menjadi salah satu pihak yang paling terpuruk akibat gempuran kendaraan komersial China. Ini karena truk impor tersebut umumnya datang dalam kondisi sudah terpasang bodi secara utuh. Berbeda dengan industri kendaraan niaga buatan Indonesia yang biasanya menggandeng produsen karoseri lokal untuk pembuatan bodi.
"Asosiasi karoseri sangat berat kenapa, karena kalau dari kami itu keluarnya (produk) lari ke karoseri. Kalau truk China itu (sudah termasuk) bodi jadi tinggal pakai," kata Harianto. Artinya, truk impor memotong rantai nilai industri lokal, menghilangkan pekerjaan dan pendapatan bagi ratusan, bahkan ribuan, perusahaan karoseri dan pemasok komponen lainnya. Ini adalah ancaman nyata terhadap ekosistem industri yang telah mapan.
Strategi Hino Bertahan di Tengah Badai Impor
Meskipun dihadapkan pada situasi yang sangat menantang, Hino menegaskan komitmennya untuk tetap bertahan dan berinvestasi di Indonesia. Mereka tidak menyerah begitu saja dan telah menyiapkan berbagai strategi untuk menghadapi badai impor ini.
Salah satu langkah yang diambil adalah melakukan penghematan di berbagai lini operasional. Efisiensi menjadi kunci untuk menjaga agar biaya produksi tetap kompetitif. Selain itu, Hino juga berfokus pada penguatan produk, baik dari segi kualitas, inovasi, maupun fitur yang sesuai dengan kebutuhan pasar Indonesia.
Tidak hanya itu, layanan purnajual (aftersales) juga menjadi prioritas utama. Hino menyadari bahwa kepuasan pelanggan tidak hanya ditentukan oleh harga beli, tetapi juga oleh ketersediaan suku cadang, kemudahan servis, dan dukungan teknis yang prima. Dengan memperkuat layanan aftersales, Hino berharap dapat mempertahankan loyalitas pelanggan dan memberikan nilai tambah yang tidak bisa ditawarkan oleh truk impor murah.
Pemerintah Harus Turun Tangan?
Peringatan dari Hino ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Kasus Sritex telah menjadi pelajaran berharga tentang dampak liberalisasi impor yang tidak terkontrol terhadap industri domestik. Jika pemerintah tidak segera mengambil langkah strategis, bukan tidak mungkin industri otomotif komersial akan menyusul.
Kebijakan yang mendukung industri dalam negeri, seperti peninjauan ulang regulasi impor, insentif bagi produsen lokal, dan pengawasan ketat terhadap standar produk impor, sangat dibutuhkan. Ini bukan hanya tentang melindungi satu atau dua perusahaan, tetapi tentang menjaga kedaulatan industri nasional, menciptakan lapangan kerja, dan memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Tanpa intervensi yang tepat, "tragedi Sritex" mungkin akan terulang, kali ini di jalanan Indonesia.


















