Jakarta, CNN Indonesia – Legenda hidup bulutangkis Indonesia, Susy Susanti, baru-baru ini melontarkan sebuah pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial, namun penuh makna mendalam. Ia menekankan bahwa para pebulutangkis Tanah Air harus belajar lebih mandiri dalam mengamati lawan, tidak melulu bergantung pada arahan pelatih. Sebuah nasihat yang datang dari seorang yang sudah merasakan pahit manisnya persaingan di level tertinggi.
Susy Susanti bukanlah nama sembarangan di kancah bulutangkis dunia. Deretan gelar bergengsi seperti Juara All England, Juara Dunia, hingga medali emas Olimpiade Barcelona 1992 telah ia raih, menjadikannya ikon yang tak lekang oleh waktu. Pengalaman segudang inilah yang membuat setiap perkataannya layak menjadi pelajaran berharga bagi generasi penerus.
Mengapa Kemandirian Atlet Begitu Penting?
Sebagai seorang juara sejati, Susy memahami betul seluk-beluk pertandingan. Ia melihat ada celah yang perlu diperbaiki pada mentalitas atlet masa kini, terutama dalam menghadapi kekalahan. Menurutnya, atlet harus ikut menelaah penyebab kekalahan, bukan hanya pasrah menerima masukan dan nasihat dari pelatih.
Kemandirian ini berarti atlet harus aktif mengamati lawan, mencari tahu kelemahan dan kelebihan mereka. Dengan pemahaman yang mendalam, atlet bisa mengantisipasi pergerakan bola lawan secara otomatis, bahkan sebelum pelatih sempat memberikan instruksi. Ini adalah kunci untuk bergerak satu langkah lebih maju di lapangan.
Filosofi 80:20: Peran Atlet dan Pelatih di Lapangan
Susy Susanti memiliki filosofi yang cukup gamblang mengenai peran atlet dan pelatih saat pertandingan berlangsung. Ia menegaskan bahwa 80 persen hasil pertandingan ditentukan oleh atlet itu sendiri, sementara pelatih hanya menyumbang sekitar 20-30 persen. Angka ini menunjukkan betapa krusialnya peran inisiatif dan strategi pribadi atlet.
Pelatih memang hadir untuk mengingatkan dan memberikan panduan, namun mereka bukanlah sosok yang harus diandalkan sepenuhnya di setiap momen krusial. Atlet harus memiliki persiapan yang matang dan strategi yang jelas di benak mereka, siap untuk diimplementasikan dan diadaptasi secara real-time. Lapangan adalah panggung atlet, bukan pelatih.
Belajar dari Sang Legenda: Bagaimana Susy Menganalisa Lawan?
Pengalaman pribadi Susy Susanti menjadi bukti nyata efektivitas kemandirian ini. Ia mengaku punya kebiasaan kuat mengamati dan menganalisa lawan-lawannya. Kebiasaan inilah yang seringkali membantunya mengatasi situasi sulit dan membalikkan keadaan dalam pertandingan yang ketat.
"Mereka harus belajar mengamati lawan, melihat kelemahan dan kelebihan. Jadi saat pertandingan, dia sudah tahu ini [bola lawan] pasti ke sini, ke sini, itu otomatis [bergerak karena sudah hapal pola lawan]," jelas Susy. Ini bukan sekadar teori, melainkan praktik langsung yang ia terapkan selama karier emasnya.
Lebih dari Sekadar Latihan: Mengasah Otak dan Insting Juara
Analisis lawan yang mandiri bukan hanya tentang strategi, tetapi juga tentang mengasah otak dan insting seorang juara. Susy menekankan bahwa atlet harus belajar menganalisa lawan sendiri, bukan hanya menunggu disuapi informasi oleh pelatih. Pelatih memang membantu, tapi jangan sampai atlet berpikir, "Nanti ada pelatih, jangan [khawatir]."
"Karena yang mengalami si atletnya, dia mesti tahu. Di lapangan itu per berapa detik harus tahu," lanjut Susy. Dalam hitungan sepersekian detik, atlet harus bisa membuat keputusan, menggerakkan motorik tangan, dan menentukan arah permainan. Ini adalah momen di mana otak dan tubuh atlet bekerja secara sinkron, tanpa intervensi langsung dari luar lapangan.
Masa Depan Bulutangkis Indonesia: Mampukah Atlet Kita Mandiri?
Pesan dari Susy Susanti ini menjadi refleksi penting bagi masa depan bulutangkis Indonesia. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, kemandirian dan kemampuan adaptasi atlet menjadi kunci untuk meraih kembali dominasi. Apakah atlet-atlet muda kita sudah siap mengambil tanggung jawab ini?
Membangun mentalitas mandiri bukan hanya soal latihan fisik, tetapi juga tentang pengembangan karakter dan kecerdasan lapangan. Ini adalah investasi jangka panjang yang akan membentuk atlet yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga cerdas, strategis, dan bermental baja. Sebuah warisan berharga dari seorang legenda yang patut direnungkan dan diterapkan.
Pada akhirnya, apa yang disampaikan Susy Susanti adalah sebuah pengingat bahwa potensi terbesar seorang atlet ada di dalam diri mereka sendiri. Pelatih adalah pembimbing, tetapi juaranya adalah sang atlet yang mampu berpikir, menganalisa, dan bertindak secara mandiri di bawah tekanan. Kunci juara dunia memang ada di tanganmu, bukan di tangan pelatihmu.


















