Ganda campuran kebanggaan Indonesia, Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil, harus mengakhiri perjalanan heroik mereka di ajang Indonesia Masters 2026. Mereka takluk di babak perempat final setelah melakoni duel sengit tiga gim melawan unggulan kedua asal China, Jiang Zhen Bang/Wei Ya Xin. Pertarungan mendebarkan ini berlangsung di hadapan ribuan pasang mata di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, pada Jumat (23/1) siang WIB.
Adnan/Indah, yang tampil sebagai pasangan non-unggulan, menunjukkan semangat juang luar biasa sepanjang turnamen. Namun, mimpi mereka untuk melangkah lebih jauh ke babak semifinal harus pupus usai menyerah dengan skor tipis 20-22, 21-14, 19-21. Laga berdurasi 56 menit ini menjadi saksi bisu perjuangan keras mereka di kandang sendiri.
Perjalanan Dramatis di Istora: Melawan Unggulan Kedua
Indonesia Masters merupakan turnamen BWF Super 500 yang sangat prestisius, menarik perhatian para pebulutangkis top dunia. Bagi Adnan/Indah, kesempatan bermain di hadapan publik sendiri adalah motivasi ganda untuk memberikan penampilan terbaik. Sayangnya, tantangan di perempat final kali ini datang dari pasangan China yang sangat tangguh, Jiang Zhen Bang/Wei Ya Xin, yang merupakan unggulan kedua turnamen.
Jiang/Wei dikenal sebagai pasangan yang solid dan memiliki rekam jejak mentereng di kancah bulutangkis internasional. Menghadapi mereka di babak krusial tentu bukan perkara mudah. Namun, Adnan/Indah datang dengan tekad bulat untuk memberikan perlawanan maksimal, dan mereka berhasil menciptakan drama yang membuat penonton terpukau.
Gim Pertama: Unggul Jauh, Lalu Terkejar Penuh Penyesalan
Adnan/Indah memulai pertandingan dengan performa yang sangat menjanjikan, seolah ingin langsung menggebrak pertahanan lawan. Mereka berhasil unggul 4-3, kemudian melesat jauh dengan meraih tujuh poin beruntun yang membuat Istora bergemuruh. Capaian apik ini membawa mereka unggul telak 11-3 saat interval gim pertama, menciptakan optimisme tinggi di kubu Indonesia.
Namun, momentum positif itu tak bisa dipertahankan secara konsisten. Jiang/Wei, dengan pengalaman dan ketenangan mereka, perlahan tapi pasti mulai mengejar ketertinggalan. Dari posisi tertinggal 3-11, mereka berhasil memperkecil jarak menjadi 11-14, menunjukkan mental baja yang patut diacungi jempol.
Skor pertandingan bahkan sempat sama kuat 16-16, membuat ketegangan memuncak di setiap sudut lapangan. Adnan/Indah sempat merebut dua poin krusial untuk unggul 18-16, namun Jiang/Wei kembali bangkit. Dengan permainan yang lebih tenang dan akurat di poin-poin kritis, pasangan China itu berhasil menutup gim pertama dengan skor 22-20, meninggalkan Adnan/Indah dengan rasa penyesalan mendalam.
Gim Kedua: Bangkit dengan Penuh Keyakinan dan Konsistensi
Kekalahan dramatis di gim pertama tidak membuat semangat Adnan/Indah patah arang. Mereka kembali menunjukkan start bagus di gim kedua, seolah belajar dari kesalahan sebelumnya. Pasangan Indonesia ini berhasil unggul 6-2 atas Jiang/Wei, menunjukkan bahwa mereka masih memiliki energi dan strategi untuk membalikkan keadaan.
Keunggulan tersebut berhasil dipertahankan dengan lebih baik kali ini. Setelah unggul 9-5, Adnan/Indah menutup interval gim kedua dengan skor 11-6, memberikan sedikit kelegaan bagi para pendukung. Mereka tampak lebih fokus dan meminimalisir kesalahan sendiri, sebuah pelajaran berharga dari gim sebelumnya.
Kali ini, Adnan/Indah konsisten menjaga keunggulan poin, tidak memberikan celah bagi lawan untuk mengembangkan permainan. Mereka berhasil unggul 18-13, dan akhirnya menutup gim kedua dengan skor meyakinkan 21-14. Kemenangan di gim ini membuktikan bahwa Adnan/Indah memiliki kapasitas untuk bersaing di level tertinggi, sekaligus memaksa pertandingan berlanjut ke gim penentuan yang lebih mendebarkan.
Gim Penentuan: Duel Sengit Hingga Poin Kritis yang Menentukan
Gim penentuan menjadi panggung bagi duel sengit yang memperlihatkan kualitas kedua pasangan. Adnan/Indah kembali memulai dengan baik, sempat unggul 3-0, memberikan harapan baru bagi publik Istora. Namun, Jiang/Wei tidak menyerah begitu saja, mereka berhasil menyamakan skor menjadi 8-8, menandakan bahwa pertandingan akan berjalan sangat alot.
Pasangan China itu bahkan berhasil berbalik unggul 8-11 saat interval gim ketiga, menciptakan tekanan besar bagi Adnan/Indah. Jarak tiga poin ini bertahan cukup lama, hingga skor 12-15, membuat Adnan/Indah harus bekerja ekstra keras untuk mengejar. Setiap poin terasa sangat berharga, dan atmosfer di Istora semakin memanas.
Upaya Adnan/Indah untuk bisa bangkit sayangnya tidak membuahkan hasil maksimal. Beberapa kesalahan sendiri yang kerap dilakukan di momen-momen krusial menjadi bumerang bagi mereka. Tekanan dari lawan yang semakin agresif juga turut andil dalam membuat Adnan/Indah kesulitan mengembangkan permainan terbaik mereka.
Alhasil, Adnan/Indah harus menyerah 19-21 dari Jiang/Wei di gim ketiga yang penuh drama. Kekalahan ini memang menyakitkan, terutama setelah menunjukkan perjuangan luar biasa. Namun, mereka telah memberikan segalanya dan menunjukkan potensi besar untuk masa depan.
Analisis Kekalahan dan Harapan ke Depan
Kekalahan Adnan/Indah di perempat final Indonesia Masters 2026 ini tentu menyisakan banyak pelajaran. Konsistensi dalam menjaga performa dan mental di poin-poin krusial menjadi aspek yang perlu terus diasah. Unggul jauh di gim pertama namun gagal mempertahankannya, serta beberapa kesalahan di gim penentuan, menunjukkan bahwa pengalaman bertanding di level tertinggi masih sangat dibutuhkan.
Meskipun gagal melaju ke semifinal, penampilan Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil patut diapresiasi. Mereka berhasil menembus perempat final di turnamen sekelas Indonesia Masters, menghadapi pasangan unggulan kedua dunia, dan memberikan perlawanan yang sangat sengit. Ini adalah bukti bahwa mereka memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan di sektor ganda campuran Indonesia di masa mendatang.
Para penggemar bulutangkis tentu berharap Adnan/Indah bisa belajar banyak dari pengalaman ini. Dengan terus berlatih keras, memperbaiki kelemahan, dan memperkuat mental bertanding, bukan tidak mungkin mereka akan kembali dengan performa yang lebih matang di turnamen-turnamen selanjutnya. Perjalanan mereka masih panjang, dan kekalahan ini hanyalah bagian dari proses menuju puncak kesuksesan.
Semangat juang yang mereka tunjukkan di Istora adalah modal berharga. Dukungan dari pelatih, tim, dan seluruh masyarakat Indonesia akan menjadi pendorong utama bagi Adnan/Indah untuk terus berkembang. Semoga di kesempatan berikutnya, mereka bisa meraih hasil yang lebih baik dan mengharumkan nama bangsa di kancah bulutangkis internasional.


















